Daur (05)

Hati Telanjang Kepada Tuhan

Setelah dua puluh satu tahun putus asa
Sesudah hampir meledak dada dan pecah kepala
Tersisa hati telanjang kepada-Nya
Setelah dua puluh satu tahun salah sangka
Sesudah kebusukan demi kebusukan
Tak kunjung sampai ke puncaknya
Tergeletak jiwa tak berdaya di hadapan-Nya

Berdengung-dengung tanpa henti di kepalaku
Siapa yang menghaturkan “Doa Memohon Kutukan” itu
Selain hamba bodoh penganiaya diri sendiri
Yang Tuhan mengasihaninya
Yang para Malaikat memprihatininya
Yang Para Nabi dan Rasul menangisinya
Dan Iblis Setan mentertawakannya

Hambalah itu yang lalim kepada diri hamba sendiri
Hamba si hina dina
Hamba kafir yang takabur
Fakir yang putus asa
Menindihkan gunung ke punggungnya
Menimpakan alam semesta ke pundaknya
Membesar-besarkan diri dengan tanggungan yang tak sanggung disangganya

Berdengung-dengung memecah kepalaku
Kibriya’ taruh di atas kepala seluruh berat beban dunia dan alam semesta
Keangkuhan mempertahankan tegaknya pohon-pohon-Mu di dunia
Wahai Tuhan Mutakabbir yang takabbur adalah jubah-Mu
Betapa sederhana yang Engkau tunggu dari hamba-Mu
Padahal di dalam nurani dan akalku, nasehat-Mu amat sederhana
Bertindaklah semampumu saja. Tak usah berjuang membela-Ku
Karena engkaulah yang membutuhkan keselamatan di depan kuasa-Ku

Wahai Maha Dermawan, terimalah kesombonganku sebagai penghaturan kesetiaan
Terimalah putus asaku sebagai batas perwujudan cinta
Terimalah tangis cemas hamba, kecemasan dalam keyakinan hamba
Bahwa siapapun saja yang menggerakkan kaki dan tangannya
Untuk menumbangkan pohon-pohon-Mu, Engkau akan lumpuhkan gerakannya
Engkau giring agar mereka bertabrakan dengan patung-patung batu
Dengan berhala tahayul dan monumen materi, bangunan mereka sendiri

Wahai Maha Merdeka, Engkaulah sumber dan asal usul
Segala ilmu yang mereka namakan ‘demokrasi’ dan ‘independensi’
Di mana setiap hamba bukanlah dirinya, melainkan wujud perbuatannya
Tak ada pahala tak ada dosa selain dari perbuatannya sendiri
Tetapi apabila mereka bersekutu menutupi kemerdekaan absolut-Mu
Engkau perkecil jumlahnya, Engkau kacaukan perkumpulannya
Engkau pecah belah karena tidak adil pikirannya

Wahai Rahman cinta-Mu meluas tak terhingga
Wahai Rahim yang kasih sayang-Mu mendalam tiada tara
Sepenuh-penuhnya hak-Mu segala santunan atau kutukan
Semata-mata milik-Mu kegembiraan atau kesengsaraan
Lumpuh hatiku menyaksikan para pemakan bangkai
Yang menikmati penderitaan saudara-saudarinya sendiri
Tetapi kuyakini keadilan dan pembalasan-Mu

Engkau lumpuhkan kaki para pendusta persaudaraan
Para pemalsu wajah dan para saudagar cinta
Para penunggang keledai kesetiaan dan kuda kepatuhan
Jika Rabiah memuaikan badannya hingga memenuhi neraka
Takkan Engkau biarkan mereka memenuhi bumi, kota dan desa pasar dan jalanan, kantor, gedung-gedung, darat dan lautan
Karena dengan mudah Engkau perluas neraka-Mu

Engkau potong tangan mereka yang menghina ketulusan-Mu
Engkau robek-robek tirai dusta dan tipu daya mereka
Engkau putus-putus dan obrak-abrik tali jaringan kebohongan semesta mereka
Demikianlah hamba bertelanjang hati
Cukup sudah kesabaran-Mu atas para penyelingkuh cinta-Mu
Takkan lagi Engkau perkenankan keleluasaan
Bagi kebudayaan, politik dan peradaban yang bertakabur kepada-Mu

Engkau sesakkan nafas para pelakunya, Engkau  bikin cemas hati mereka
Engkau buntu pikiran mereka, Engkau macetkan mesin syirik lingkar katulistiwa
Engkau buka kedok kebodohan para cerdik pandai
Engkau lunglaikan dan bumerangkan setiap rumusan rekayasa
Engkau kuakkan semua yang mereka rahasiakan
Engkau hentikan setiap kereta pemerintahan manusia
Yang tidak mengantarkan para penumpangnya ke rumah ridlo-Mu

Wahai maha pencipta, maha penata, maha penghampar karya agung
Jauhkanlah kemenangan dari hamba-hamba yang tak menghamba
Yang menegakkan keunggulan dengan modal kehinaan
Wahai gelapkan gedung-gedung mereka
Runtuhkan kantor-kantor mereka
Nerakakan rumah-rumah mereka
Ambrukkan tembok-tembok mereka

Wahai demikianlah puncak karier hamba
Hamba pengemis yang berjongkok di depan gerbang-Mu
Hamba persembahkan ketidakberdayaan dalam perjuangan
Hamba haturkan keterpurukan dalam peperangan
Hamba pasrahkan tak terusirnya putus asa dalam iman
Hamba tangiskan ketidaksabaran dalam penantian
Sisa kekhalifahan hamba tinggal hati yang telanjang

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogya 5 Pebruari 2016.