‘Hari Raya’ Maiyah

Pagelaran agung bertajuk ‘Ihtifal Maiyah’ sangat menarik. Utamanya, penggunaan kata ‘ihtifal’. Jika ditilik kembali, seringkali kita lebih akrab dengan kata ‘haflah’. Dan memang, pada akhir tahun 2009 lalu, term haflah pernah dipakai Maiyah.

Jika ditelusur, ternyata kata ‘ihtifal’ masih serumpun dengan kata ‘haflah’. Nah, penggunaan kata ‘ihtifal’ pada pagelaran agung Maiyah 27 Mei 2016 di Jombang besok tentu memiliki makna tersendiri. Dan, jika kita boleh bertanya, kenapa memilih kata ‘ihtifal’ daripada kata ‘haflah’?

Secara etimologi ‘haflah’ berarti pertemuan, perkumpulan, perayaan, pesta atau upacara. Sedangkan kata ‘ihfital’ berarti pertemuan silaturahmi (mempererat tali persahabatan); reuni. Memang, secara sekilas, arti kedua kata tersebut hampir sama. Namun, jika ditilik kembali, ternyata adanya hamzah washol di permulaannya dan ta’ di antara fa-ul fi’il dan ‘ainul fi’il sehingga memiliki arti yang berbeda. Yakni diantaranya bermakna lil musyarakah (saling), lil mubaalaghoti (bersungguh-sungguh) dan liththolabi (mencari).

Ihtifal Maiyah, 27 Mei 2016
Ihtifal Maiyah, 27 Mei 2016

Jadi, jika ‘haflah’ berarti berkumpul, maka ‘ihtifal’ berarti saling berkumpul, bersungguh-sungguh berkumpul atau perkumpulan itu memang benar-benar dicari oleh siapapun. Memang, hal itu bukan sebuah kebenaran mutlak. Atau sebuah tafsir yang musti ‘digugu’ dan diamini kebenarannya. Sebab, othak-athik-gathuk itu, hanya berangkat dari rasa cinta yang mendalam (tadabbur) terhadap Maiyah.

Lalu, pertanyaannya adalah apakah term ‘haflah’ yang pernah dipakai Maiyah pada akhir tahun 2009 silam, lantas bermakna hanya berkumpul saja? Apakah perkumpulan di tahun silam tersebut bermakna tak sungguh-sungguh, tak ada rasa saling berkumpul dan tak ada seorang pun yang mencari perkumpulan tersebut?

Tentu, tidak demikian. Justru, titik beratnya adalah bahwa situasi dan kondisi dewasa ini sangat genting. Kita semua berada pada situasi dan kondisi ‘dhulum’. Yakni situasi dan kondisi yang amat gelap, bukan semata karena tak ada cahaya, tapi disebabkan oleh ketidaktepatan posisi kita saat ini. Dengan kata lain, kita perlu mengetahui kembali diri, posisi dan orientasi kita. Sehingga, amat dibutuhkan kembali saling berkumpul, berkumpul dengan sungguh-sungguh, bahkan perkumpulan tersebut harus kita cari dan kita adakan. Toh, memang ‘ihtifal’ berarti pertemuan silaturahmi yakni untuk mempererat tali persahabatan.

Perayaan: Perenungan-Pelampiasan

Baik kata ‘haflah’ maupun ‘ihtifal’ juga berarti perayaan. Dan pada 27 Mei 2016 besok bertepatan dengan hari ulang tahun guru kita, Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Apakah momentum tersebut merupakan sebuah perayaan ulang tahun guru kita, Simbah Muhammad Ainun Nadjib?

Memang, hal itu tak bisa disangkal. Besok, kita semua akan merayakan ulang tahun guru kita, Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Namun, jauh sebelumnya, Kiai Tohar (Toto Rahardjo) telah menegaskan bahwa Maiyah tak mengenal tradisi tersebut. Akan tetapi, hal tersebut lebih merupakan ungkapan syukur kita semua yang momentumnya bertepatan dengan hari kelahiran guru kita, Simbah Muhammad Ainun Nadjib.

Dan ungkapan syukur dapat diekspresikan salah satunya dengan merenung. Jika demikian, momentum besok merupakan momentum perenungan kita semua, Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan sebaliknya, ajang perayaan pelampiasan.

Perihal identifikasi diri, lokasi dan orientasi, Simbah Muhammad Ainun Nadjib sangat apik mengajarkan kepada kita semua. Yakni jika menggunakan term makhluk, insan, abdullah dan khalifatullah, sejauh ini kita berada pada posisi mana?

“Makhluk belum memiliki kesadaran (jenis pertama). Sehingga, untuk menjadikannya berkesadaran, Allah kemudian menjadikannya insan (jenis kedua). Yakni, dengan dibekali akal dan hati. Ketika ia mampu menyadari posisinya sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati, dan kemudian menggunakannya sebaik mungkin untuk mengabdi pada-Nya, itulah yang dinamakan abdullah (jenis ketiga). Dan jenis terakhir, adalah saat ia sadar bahwa dirinya merupakan utusan Allah yang diturunkan ke dunia ini untuk menjaga alam seisinya. Inilah yang dinamakan khalifatullah,” demikian tuturnya.

Untuk memahami man arofa nafsahu faqod arafa robbahu (barangsiapa mengenal dirinya, maka sesungguhnya akan mengenal Tuhannya), Simbah Muhammad Ainun Nadjib pun tak kurang-kurang ajaran ‘sapu jagat’-nya. Ajaran yang bisa ngukup kabeh alias komprehensif.

Bahkan dalam hal itu, Simbah Muhammad Ainun Nadjib tak hanya menyuguhkan ‘buah’-nya saja. Misalnya, term ‘manusia wajib’, ‘manusia sunnah’, hingga ‘manusia haram’. Dan jika kita pikir kembali, bukankah term ‘makhluk’ hingga ‘khalifatullah’ merupakan ‘buah’ yang Simbah Muhammad Ainun Nadjib petik dan iris dari hutan rimba bernama Al Quran, lalu disuguhkan kepada kita semua?

‘Biji’ ilmu pun senantiasa Simbah Muhammad Ainun Nadjib sebar. Hingga saat ini, sudah seratus lebih ‘biji’ ilmu Simbah Muhammad Ainun Nadjib bagikan kepada kita semua untuk kita semai dan tanam di dalam kesadaran kita masing-masing. Dan, sebagai penerima ‘buah’ maupun ‘biji’ ilmu Simbah Muhammad Ainun Nadjib, apakah ‘biji’ ilmu tersebut hanya berupa tulisan di CAKNUN.COM di rubrik Daur? Tentu saja tidak.

Bahkan, kalau kita jeli, ternyata Simbah Muhammad Ainun Nadjib juga tak segan menyerahkan ‘alat kebun’-nya agar kita mandiri menyemai dan menanam ‘biji’ ilmu apapun. Dan bukankah beliau juga rela menyerahkan ‘pisau’-nya agar kita bisa mandiri mengupas apapun untuk ditemukan ilmunya?

Tuah Simbah, Berkah Maiyah

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa Simbah Muhammad Ainun Nadjib pernah mencicipi bangku kuliah. Namun, baru menginjak satu semester, beliau urung melanjutkannya. Dan lebih memilih mengembara, berjalan menyusuri malam nan sunyi bersama Umbu Landu Paranggi. Menurut beliau, Umbu Landu Paranggi tak sedikit pun pernah mengajari beliau. “Em, itunya diituin… Itu tu lho, diituin Em!” ujarnya memperagakan Umbu Landu Paranggi di sebuah kesempatan Maiyahan.

Lalu, pernahkah kita bertanya, bagaimana seandainya jika Simbah Muhammad Ainun Nadjib melanjutkan kuliahnya? Apakah akan ada Maiyah? Apakah kita bisa semalam suntuk ‘beradu lutut dan bahu’, melingkar dan ‘mandi cahaya’?

Bahkan, kita semua tahu, Simbah Muhammad Ainun Nadjib memiliki andil besar pada peristiwa lengser keprabon-nya Soeharto kala itu. Bahkan, menurutnya, jika saat itu beliau ingin meraih jabatan strategis sangatlah mudah. Namun, beliau enggan menggunakan kesempatan itu. Lalu, bagaimana jika seandainya saat itu Simbah Muhammad Ainun Nadjib mengambil kesempatan itu dan menduduki jabatan strategis di negeri ini? Apakah akan ada Maiyah? Apakah kita bisa semalam suntuk ‘beradu lutut dan bahu’, melingkar dan ‘mandi cahaya’?

Sungguh, berapapun hatur sembah nuwun kita belum cukup mengungguli rasa cinta Simbah Muhammad Ainun Nadjib kepada kita semua. Bahkan, kecupan kita kepada Simbah Muhammad Ainun Nadjib tak mampu membersihkan tangannya. Tangan yang berpuluh-puluh tahun rela menggandeng kita yang dulu dikiranya secercah cahaya, tapi ternyata sampah.

Bahkan, balasan salam kita kepada Simbah Muhammad Ainun Nadjib belum cukup mengganti jerih-payah beliau memimpin suatu rombongan. Rombongan yang selalu salah paham dan pahamnya selalu salah. Maka dari itu, yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah nyicil persembahan buat Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Jika ada tiga level amanat Maiyah, sekurang-kurangnya kita mampu menjadi individu dan membentuk keluarga yang benar sehingga menghasilkan ketenteraman dan kelancaran bekerja. Atau lebih luas lagi, kita semua berusaha menyebarkan nilai-nilai Maiyah dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Bahkan, kalau bisa melakukan hal yang lebih luas lagi.