Daur (127)

Hari Raya di Langit

Hari Raya di langit adalah ketika engkau bermakmum shalat di belakang Rasulullah.

Rasulullah meng-Imam-imu bersama jamaah yang tak kan pernah kau ketahui jumlahnya.

Fa sholla kullu man fis-sama`i wa antal-Imam”.

Bersembahyanglah setiap dan semua yang di Langit, dan Rasulullah imamnya.

Ketika engkau tinggal di ruang sempit yang bernama “hidup di Bumi”, engkau merasa cemburu karena makmum Baginda Muhammad hanya para penduduk Langit. Itu karena engkau terbiasa mendengar dikotomi Bumi dan Langit. Padahal Bumi adalah seperseribu debu yang merupakan bagian juga dari kebesaran semesta yang engkau sebut Langit.

Maka meskipun engkau masih bertugas menghuni Bumi dan menjalani jenis kehidupan yang paling sempit, dangkal, artifisial, di mana engkau terapung-apung di tengah gelembung-gelembung hologram: cita-citakanlah agar diperkenankan berhari raya di Langit.

Sebaiknya engkau tidak usah terlalu percaya dan mantap atas apa yang kau sangka realitas, sementara dengan mudah dan semberono engkau meremehkan segala sesuatu yang kau sangka dongeng.

Akan lebih efektif kalau engkau tidak terlalu bangga atas segala sesuatu yang kau pelajari dan alami dari kebudayaan di Bumi. Perolehan-perolehanmu dari bangku Sekolah, buku-buku, kabar-kabar, data-data dan fakta yang kau pikir itu sungguh-sungguh data-data dan fakta. Atau semua pendapatan dari khayalan, yang berpuluh-puluh tahun pembelajaranmu tidak menyediakan metode verifikasi untuk menemukan identifikasi yang manakah khayal, yang bagaimanakah imajinasi, yang seperti apa perohanian. Apalagi tradisi panggraita, kawaskitan  dan mukswa, telah kau buang dan tinggalkan.

Ketika engkau berada dan menjadi bagian dari shaf-shaf yang menghampar amat sangat luas melebihi luasnya seribu alam semesta, yang tepian semua arahnya tak terjangkau oleh pandanganmu, meskipun engkau sudah menjadi penghuni Sorga — itulah saat menyesali dan mentertawakan diri-Bumimu, diri-wadagmu, serta berbagai macam diri yang selama ini kau sejati-sejatikan.

Semua makhluk Langit seluruh bagian dan lapisan berjajar, berbaris, seakan Allah sendiri sedang melukis lingkaran-lingkaran cakrawala, yang tepiannya adalah keremangan. Bukan karena cahaya tak mencapainya, tetapi karena sesorga-sorganya para makhluk, tetaplah berada di dalam margin-sempitnya kemahaluasan Allah.

Ketika Baginda Muhammad mengucapkan “Allahu Akbar” dengan suara yang membahagiakan seluruh unsur yang darinya semesta Langit disusun, lantas beliau bersujud, dan engkau bersama para makmum semua melanjutkannya dengan “Allahu Akbar”, dengan suara yang sangat sunyi namun menggemuruh, sehingga seakan-akan Langit itu berdinding, dan seolah-olah dinding-dinding langit itu bergetar oleh “Allahu Akbar” — itulah puncak Idul Fithri.

Meskipun itulah Sidratul-Muntaha, meskipun itulah batas akhir kebahagiaan cinta semua makhluk, namun itulah Hari Raya yang sebenarnya. Engkau tidak lagi berada pada kesadaran tentang jarak, yang membuatmu bertanya “Apakah sembahyang ini benar-benar kualami? Kapan ini? Dan Di mana?”

Karena Sujud Agung bersama Imamul ‘Alamin Baginda Nur Muhammad, tidak dimuat oleh ruang dan tidak mengendarai waktu. Sebab ruang dan waktu justru merupakan bagian yang paling shaleh dari peribadatan abadi Baginda Cahaya Amat Terpuji. Ruang turut bermakmum pada beliau, waktu ikut bersujud di kandungan Sembahyang Cinta beliau.

Ruang hanyalah alat sementara, dan waktu hanyalah jalan sejengkal untuk ditempuh manusia agar tiba kembali di Kesadaran Sejati. Manusia perlu mulai belajar bahwa alamat kehidupan sejatinya tidak di suatu koordinat dalam ruang, dan tidak pada suatu jengkal di antara rentang rasa yang ia sangka waktu.

Manusia berasal usul dari Kesadaran Sejati, diberi peluang sejenak untuk menatap dan membaca Kesadaran Sejati itu, sambil dibimbing untuk melangkah, untuk melakukan perjalanan melingkar, untuk sampai kembali ke asal-usulnya, yakni Kesadaran Sejati itu sendiri. Manusia tidak bertempat tinggal di ruang dan waktu, melainkan di kesadaran.

Kesadaran tidak dimuat oleh kepalanya, oleh gelombang akal, struktur pikiran atau susunan dan komposisi saraf-saraf otaknya, meskipun sebagian dari kesadaran itu meruang di kalbunya.

Manusia juga tidak perlu memikirkan tempat tinggalnya, karena hanya ada satu rumah yang ada dalam kehidupan, yakni kemurahan Allah itu sendiri, yang manusia tidak punya kemungkinan untuk keluar atau minggat darinya.

Manusia tidak perlu mencemaskan, tidak perlu takut atau sedih atas kehidupannya, asalkan ia berkonsentrasi pada tugasnya, yakni  berjuang sebentar menggerakkan Cinta yang hulu Kesadaran Sejati menuju hilir yang juga Kesadaran Sejati.

Itulah mudik yang sejati. Itulah mudik yang sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya mudik.

Itulah perjalanan menuju udik. Atau yang kebudayaan manusia, karena pengetahuannya yang linier dan datar, menyebutnya kembali ke udik. Kampung halaman adalah pencapaian sejengkal dari perjalanan ke udik. Menyatu kembali dengan keluarga sanak famili adalah terminal paling sederhana dari perjalanan ke udik.

Kenapa manusia hari ini memelihara kebodohan dengan menjadikan kata ‘udik’ sebagai bahan ejekan, sebagai lambang keterbelakangan, sebagai simbol ketertinggalan?

Betapa hanya sepetak pencapaian kebudayaan ummat manusia. Betapa hanya sejengkal jangkauan peradaban ummat manusia. Betapa makin kerdil pengetahuan dan ilmu manusia.

Ummat manusia dengan kemegahan modernitas beserta ribuan ekspresi kemewahannya, kenapa begitu sukar menemukan bahwa kehidupan ini tidak terdiri atas belakang dan depan, juga tidak terbagi menjadi dulu dan sekarang dan esok.

Bahkan kiri kanan atas depan hanyalah inisial. Waktu bukanlah tali yang memanjang menjulur lurus dari kegelapan di belakang dan keremangan di depan. Ruang bukanlah kekosongan yang berdinding ketak-terbatasan.

Wahai Baginda Nur, alangkah sulitnya menginformasikan bahwa hidup ini melingkar. Bahwa kehidupan ini bulatan. Bahwa ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’ adalah bulatan wajah kehidupan, yang bahkan tanpa kematian….”