Reportase Maiyah Dusun Ambengan, Mei 2016

Hardik-Harkit Nasib

Biasanya pembicara berjumlah terbatas, namun tidak kali ini, Maiyahan edisi Hardik-Harkit-Nasib, mendadak waktu serasa begitu cepat.

Maiyah Dusun Ambengan, Sabtu, 14 Mei 2016 mendapat kehormatan. Selain jamaah rutin, rombongan dari Pengurus Pusat Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), ikut hadir. Termasuk perwakilan dari SBMI asal NTT dan Provinsi Lampung ikut memberikan sumbang saran terkait pentingnya membangun kesadaran bersama, sekaligus perhatian pada saudara-saudari kita yang merantau ke luar negeri.

Bukan hanya itu, salah satu peneliti asal Lembaga Ilmu Penelitian Idonesia (LIPI) juga membersamai Maiyah Dusun Ambengan. Berbagi pengalaman selama riset di Papua, termasuk mendedah pengalaman mengunjungi beberapa negara seperti Jepang yang dinilai maju dari sektor pendidikan.

Maiyah Dusun Ambengan edisi Mei 2016.
Maiyah Dusun Ambengan edisi Mei 2016.

Biasanya pembicara berjumlah terbatas sehingga ada jeda waktu yang luas bagi Cak Sul dalam membawa arah kajian, namun tidak kali ini, Maiyahan edisi Hardik-Harkit-Nasib, mendadak waktu serasa begitu cepat.

Memulai Maiyahan, Cak Sul menyampaikan pesan dari Simbah (Emha Ainun Nadjib) bahwa orang-orang yang diperjalankan ke majelis maiyah berbekal hati yang murni. Ketika kemurnian hati itu yang dibawa dari rumah, maka yang akan didapatkan adalah ilmu-ilmu dan kesadaran-kesadaran ruhani yang dianugerahkan langsung oleh Allah. Di Maiyahan pula, akan menumbuhkan manusia-manusia Indonesia sejati yang bertanggung jawab atas kedaulatan dirinya, manusia-manusia yang diberkahi ilmu dan kelinuwihan yang konsern pada nilai-nilai kebersamaan untuk saling memanusiakan manusia.

Sepanjang maiyahan berlangsung, semua warga dan beberapa jamaah dengan beragam profesi tampak berebut mengemukakan gagasan terutama tentang pendidikan. Pentingnya perubahan nasib bagi masyarakat desa. Beberapa jamaah bahkan tak sungkan-sungkan menunjuk jari untuk interupsi, protes atas pendapat beberapa pemateri yang dinilainya tidak tepat dan kurang pas.

Termasuk Pak Slamet, yang biasanya diam dan jadi jamaah yang anteng, bahkan terlihat galak. “Nama saya Slamet, biarpun mati ya Slamet. Saya tidak setuju dengan usulan Cak Sul dan Pak Kepala Sekolah tadi,” kata beliau memberi interupsi. Kemudian menjelaskan pengalamannya selama mengamati dunia pendidikan di Metro Kibang. Kualitas guru jauh lebih penting untuk ditingkatkan, agar anak-anak di desa tidak kalah dengan anak di perkotaan, jelas Pak Slamet.

Sebelumnya Cak Sul mengungkapkan seharusnya Sekolah Negeri yang diberi anggaran negara dan gurunya juga PNS yang digaji negara, lebih berpihak kepada anak didik dari kalangan keluarga kurang mampu dan mengutamakan anak-anak yang rendah IQ-nya dalam penerimaan siswa. Regulasi pendidikan mesti diubah agar lebih memihak kepada kepentingan rakyat kecil. Yang punya duit dan pintar-pintar agar sekolah di  swasta. Jangan seperti sekarang, anak pintar habis direkrut ke sekolah negeri, sehingga sekolah-sekolah swasta di desa  kebagian anak-anak yang kurang cerdas. Maka selamanya anak-anak itu sulit dipacu menjadi pintar, apalagi rata-rata sekolah swasta di desa itu kembang kempis duitnya.

Dok: Maiyah Dusun Ambengan.
Dok: Maiyah Dusun Ambengan.

Suasana sempat diwarnai hujan sedikit lebat. Jamaah pun menyelamatkan diri dengan mencari tempat berteduh. Ada yang di tritis Rumah Hati, ada yang di depan kantor relawan pendonor darah gratis (Monitor Artis), dan beberapa di antarnya berdesak-desakan di samping panggung utama. Acara terus berlangsung dan semakin seru menguak berbagai fenomena pendidikan, sekolah serta potret kebangkitan nasional khas orang desa.

Anak-anak yang jadi siswa Sekolah Sepakbola (SSB) Astama yang dinaungi Maiyah Dusun Ambengan di Rumah Hati Lampung itu, juga tidak kalah mengambil peran. Ada yang menyanyikan “Gundul-Gundul Pacul” beserta maknanya sebagaimana yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng, ada yang membacakan puisi karya Bunda Asnawati, atau sering disebut Bunda Iyah (Ibunya Maiyah Ambengan). Yang tidak lain adalah Istri Cak Sul, dan berperan sebagai Bundanya Jamaah Maiyah Ambengan.

Mas Didik, salah satu juragan dari Kota Bandar Lampung juga terketuk hatinya untuk membantu anak-anak SSB. Satu dus besar berisi kaos dan sepatu bola untuk anak-anak. Begitu juga ketika untuk persiapan festival sepakbola, ketika Mas Ali Imron diminta agar bersedia menyumbang dua bola. “Lha malah dilebihi, ya jangan dua, enam atau delapan gitu. Alhamdulillah dibantu sejuta dari beliau. Dari Mbak Ella juga, ini ada tiga puluh dus air mineral, jadi jangan kuatir haus. Wes yo, yang nyumbang sudah saya sebutin semua,” kata Cak Sul.

Cak Sul membawa jamaah lebih kontemplatif setelah tadarus dan pendedaran Mukadimah oleh Mas Saif dan Mas Dikin, langsung membawa jamaah pada permenungan sekaligus tadaburan. Kita di sini, murid-muridnya Mbah Nun, sekadar ajak-ajak, dandan-dandan, supaya ada kebanggaan dan kebahagiaan meski kita tinggal di desa. “Desa itu puncak peradaban nusantara. Apa yang tidak ada di desa? Mbak Erna dari SBMI yang rambutnya pirang, ada. Yang dari LIPI juga ada. Apa coba yang tidak ada di desa?”

Mas Widodo, Pak Ngadenan dan Mas Syamsudin. Guru dari beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Metro Kibang itu membawa jamaah pada kajian pendidikan yang lebih empirik. Cak Sul, menjelaskan ketiganya adalah guru sekaligus tokoh masyarakat di sini, jadi kita harus takdhim dan memberikan waktu khusus untuk mereka bertiga.

Tupenas itu Mencerdaskan

Mas Widodo, secara sistematis mengurai tujuan pendidikan nasional disingkat Tupenas. Beliau bahkan hafal di luar kepala tentang apa yang tertulis dalam tujuan pendidikan nasional pasca amandemen Undang-undang. Lalu mengurai pentingnya membangun karakter peserta didik. Anak yang sekolah, harusnya dari anak yang bengis, sorogodok, kejam, bisa menjadi manusia yang utuh, beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa. “Jadi, sebagai orang tua kita harus memberi semangat agar anak-anak kita terus sekolah.”

Pak Ngadenan, yang akrab disapa dan langsung memperkenalkan dirinya, nama saya Iwak Asin. Saya ini kerjaannya guru. Guru itu kerjaannya ‘ngapusi’. Sontak pernyataan Mas Ngadenan membuat grrr jamaah. Lha gimana gak bohong, apalagi matematika. Coba Y=2X plus 3 terus satu lagi Y plus 6X=3. Berapa Y berapa X, susah ini. Mau digunakan untuk nyangkul gak bisa, digunakan dagang dan membangun rumah juga gak bisa. Jadi wajar anak yang sekolah kalah dengan Pak Tukang yang tidak sekolah membangun rumah lebih pintar. Begini, kata Pak Tukang, kalau bukanya. Kalau ke sini 60 cm, ke sananya 100 kesini ini mesti siku. Ini Pak Tukang yang gak sekolah malah pinter menggunakan rumus phytagoras.

Dok: Maiyah Dusun Ambengan.
Dok: Maiyah Dusun Ambengan.

Saya tidak banyak-banyak ini, kebanyakan ini dari SMP sampai SMA murid saya. Kalau kebanyakan mblenger nanti. “Ndenan ini kalau sudah mulai pidato mblengeri (membosankan), itulah ciri Iwak Asin,” kata Pak Ngadenan.

Lebih lanjut, Pak Ngadenan menjelaskan, bagaimana caranya mendidik anak. Yaitu, jangan memaksa. Sekarang ini gak zamannya main paksa. Caranya, antara lain, suruh anak buat jadwal sendiri. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Nah, peran orang tua, mengontrol itu semua agar disiplin. Mempertanyakan apa yang dilakukan anak selama di sekolah. Ini penting. Pasti beda hasilnya antara anak yang diajak dialog orang tuanya dengan yang tidak. “Jangan lupa, tanya anak setelah pulang sekolah. Tadi ngapain saja, belajar apa di sekolah.”

Terakhir, Mas Ngadenan mengutip hadits dari Kanjeng Nabi SAW. “Siapa yang mau meraih dunia, harus dengan ilmu. Meraih akherat, dengan ilmu. Dan siapa yang ingin meraih keduanya, gunakan ilmu.”

Selanjutnya, Mas Syamsudin. Pendidikan di Indonesia ini, sudah sangat lengkap. Tidak ada yang sulit sekarang ini. Namun, siapa yang salah? Sekarang ini akhlak menjadi persoalan serius meski ada pelajaran akidah akhlak. Takdhim pada guru juga sudah nyaris tidak ada. Sistem pendidikan dan kurikulum juga sebenarnya sudah baik. Lalu siapa yang salah hari ini tatkala kita bicara soal pendidikan?

Banyak kejadian yang memprihatinkan kita atas prilaku anak-anak didik kita. Padahal guru sudah sangat baik mengajarnya. Coba kita cari dari makna ilmu. Ilmu itu menurut saya, kalau dari huruf Arab ada ain, lam dan mim. Artinya, ain itu ‘aliyin. Kalau dia bisa mencapai ilmu yang tinggi, maka dia akan mendapat derajat tertinggi dan mulia. Kedua, lam. Artinya, laiyin. Lemah lembut. Mim itu mulk, maksudnya kerajaan. Jadi orang yang punya ilmu, bisa menjadi raja artinya pemimpin. Maka setiap orang yang jadi pemimpin harus punya ilmu.

Harkitnasib

Cak Sul kemudian meminta awak Jamus Kalimasada menghibur jamaah. Kemudian memanggil Ketua SBMI Pusat, Mas Hari, Anggota TNI, Pak Dilly, Anggota DPRD Lamtim, Mas Abas. Juga Mbah Bolo, dan Peneliti dari LIPI, Imelda, untuk berbagi ilmu menyongsong kebangkitan nasional.

Pak Yudi, yang sempat dipuji-puji Cak Sul karena meski non-muslim namun selalu membersamai Maiyah Dusun Ambengan. Bahkan, pernah membantu langsung nyuci piring sampai hampir subuh. Padahal, beliau adalah Kepala Puskesmas di Margototo. Tampil sebagai moderator. Dengan apik kemudian membagi waktu para pemateri terkait beragam tema yang mengarah ke ranah Kebangkitan Nasional dan Hari Pendidikan Nasional. Dengan piawai pula, mengefektifkan para pembicara yang lepas tanpa batas, penuh kegembiraan namun teratur.

Mas Hari dari SBMI misalnya, menggugah kesadaran jamaah tentang pentingnya menjaga para pekerja ke luar negeri yang meninggalkan anak. Termasuk bagaimana masa depan anak yang sudah distigma sebagai anak haram. “Ini harus kita cegah, tidak ada anak manusia yang haram, semua butuh diakui dan diurus secara layak, termasuk pendidikannya.”

Pak Dilly, jauh lebih futuristik. Soal pendidikan, anak-anak SMA di Jepang sudah belajar membuat robot. Kalah dengan anak SMP di Indonesia, ada yang sudah bisa bikin manusia beneran. Lalu kalau film-film kita. Semuanya benar-benar mencerminkan orang Indonesia. Unyil misalnya. Ada Pak Raden, khas orang Indonesia. Punya kumis, galak, suaranya keras, tapi pelit. Pak Ogah, sebelum kerja sudah minta, cepek dong. “Waduh, ini gimana. Anak-anak nyanyinya sudah usrok-usrok, ucrit-ucrit, yang dewasa juga nontonnya film unyil.” Kontan pernyataan Pak Dilly membuat jamaah tertawa.

Pasca Pak Dilly, Pak Yudi menjelaskan, selama ini kita mengabaikan pendidikan nonformal. Salah satu contohnya, karena saya orang Puskesmas maka yang terkait kesehatan.

Kalau ada orang yang telinganya kemasukan biji, bagaimana cara mencabutnya? Kalau ke rumah sakit divakum bisa Rp.300 ribuan. Kalau cara saya, cara Abu Nawas saja. Pakai lidi, kasih lem ateko. Tunggu kering, cabut. Semua itu tidak ada pelajaranya dalam ilmu kesehatan. Tapi berbasis pengalaman. “Jadi kita tidak boleh meremehkan pengalaman dan pendidikan non-formal,” kata Pak Yudi.

Dok: Maiyah Dusun Ambengan.
Dok: Maiyah Dusun Ambengan.

Selanjutnya, Mbak Imelda, membuat suasana sunyi ketika mengurai sejarah, kajian-kajian dan pengalaman risetnya. Kebanyakan jamaah hanya melongo. Sebab, bisa jadi kagum atau justru tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakannya.

“Komunitas ini, perlu diapresiasi karena ini salah satu bukti pendidikan yang bukan warisan barat. Di sini ada diskusi dan inilah tradisi asli kita. Oral traditions atau tradisi bicara adalah karakter budaya kita, bukan tradisi tulis, jadi komunitas semacam orgnisme Maiyah ini sangat baik,” kata dia.

Setelah mengakhiri paparannya tentang pendidikan dan kebangkitan nasional, Pak Yudi menambahkan. “Ada yang mengerti ada yang pasti bilang, iki ngomong opo tho? jadi yang tidak mengerti silahkan tanya pada yang mengerti. Yang sudah mengerti memberi tahu pada yang belum mengerti,” kata Pak Yudi mengutip kisah Nasrudin Hoja yang dipopulerkan Cak Nun dalam Markesot Bertutur.

Pembicara terakhir, Mas Abas menjelaskan paradigma pendidikan dan pentingnya pendidikan islam yang membebaskan. Bahwa karakter peserta didik itu tidak boleh dibentuk, melainkan sekadar diarahkan. Banyak praktek pendidikan di tengah masyarakat kita justru menciderai dunia pendidikan.

Mas Abas mengungkap risetnya lima tahun lalu yang juga dijadikan skripsinya. Anggota DPRD Lampung Timur itu menilai, ada kesalahan paradigma jadi perlu upaya pencerahan yang membebaskan berbasis Islam. Mas Abas mengaku sepakat dengan Mba Imelda soal warisan penjajah dalam bidang pendidikan untuk menciptakan “budak-budak” yang kemudian bekerja pada penjajah. Model pendidikannya pun bersifat penjajahan. Murid atau siswa, bukan peserta didik di sekolah hanya dijejali pengetahuan, tanpa nilai dan budaya yang ditanamkan. Sehingga yang muncul adalah lulusan sekolah tetapi mentalnya pekerja. Hal itu diperkuat dengan fenomena dehumanisasi.

Beberapa jamaah, mengakui agak kaget dengan Ambengan kali ini. Berat dan penuh kajian teoritik yang aneh di telinga warga desa. Namun demikian, semua pembicara mampu membangkitkan jamaah berebut meski waktu sudah menunjukkan jam 00.15. Pak Yudi menawarkan waktu yang disepakati jam berapa diakhiri. Beberapa jamaah nyeletuk jam 2 dini hari. Cak Sul kemudian menengahi, kalau makan secukupnya saja. Kalau kebanyakan nanti mblokek, muntah.

Sampailah waktu Mbah Bolo yang diharapkan bicara jangan lama-lama. “Yang mau pulang ya baliko kono. Suruh bicara kok dibatesi, jare sudah merdeka.” Lalu Mbah Bolo nembang, suruh ngomong kok dibatesi. Suasana seketika grrr….

Dengan gaya khasnya, Mbah Bolo mampu menghidupkan suasana. Bahkan, beberapa kejadian di dalam lingkaran jamaah Maiyah Dusun Ambengan tak lepas dari kritiknya yang penuh kegembiraan. Mbah Bolo mengurai secara filosofis berbagai kejadian seperti anak-anak kecil yang ikut menyeruput kopi. “Lha ini mau jadi pemain bola kok dibiarkan ngopi karo jigang.”

Tak terkecuali buruh yang kerja di luar negeri. Ikut disorot Mbah Bolo. “Gak usah kerjo-kerjo nang Luar Negeri wong di sana jadi lonte aja kok. Amit ya, aku kalau ngomong kasar. Aku yo setuju omongane Iwak Asin tadi. Guru itu kerjaanya ngapusi.”

Dok: Maiyah Dusun Ambengan.
Dok: Maiyah Dusun Ambengan.

Lalu berkisahlah Mbah Bolo, anaknya yang sekolah PAUD, sebulan bayarnya sangat mahal, Rp.120 ribu. Tiba-tiba Mbah Bolo menyanyikan lagu Burung Kakak Tua. “Lha ini, dibayari mahal-mahal disekolahne, kok malah diajari ngejek neneknya. Opo gak asu gurune kui. Makane cah, kalau jadi guru yang bener.”

Celotehan-celotehan khas Maiyah Dusun Ambengan, mampu membenturkan secara lembut antara kekasaran bicara, ketimpangan sosial dan berbagai kejadian khas di lingkungan masyarakat desa. Termasuk Cak Sul berpesan yang terus diulang-ulang, jangan sampai dialog budaya ini menjadi ajang saling menyalahkan, melainkan upaya memperbaiki diri dan syukur-syukur menjadi gelombang kebaikan yang memancar untuk membentuk kebaikan-kebaikan secara luas. Dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial.

Kebangkitan nasional, bahkan disuarakan secara kokoh dari pedalaman desa karena jamaah Ambengan menyakini, “Indonesia adalah Bagian dari Desa Saya”.

Acara berakhir tepat jam 01.39 dini hari. Dilanjutkan ‘santap saur’ bersama. Hujan sudah reda, semua jamaah pulang dengan membawa hasil semacam formula menuntut ilmu dan memahami pentingnya bangkit dari penjajahan. (Redaksi Ambengan/Endri Kalianda)