Daur (44)

Hanya Allah, Selebihnya Hanya Dongeng

Ternyata 41 itu romantisme dari masa kanak-kanak Markesot.

Dulu Wak Mad kalau bikin Yasinan di Langgar selalu berjumlah 41. Dibagi-bagi sesuai dengan peserta yang datang. Kalau 10 orang, maka setiap orang membaca 4 kali Yasin, kecuali Wak Mad yang membaca 5. Kalau kemampuan dan kecepatan baca mereka berbeda-beda, dirundingkan ada yang dapat 1 atau 2 atau 3 atau berapapun yang layak.

Tapi sampai Wak Mad meninggal, Markesot tidak pernah mendapat penjelasan kenapa 41. Kok tidak 40 atau 33. Atau tak usah pakai jumlah-jumlah, yang penting ikhlas semampunya. Markesot sudah mencoba bertanya kepada banyak orang pinter tapi tidak ada yang jelas jawabannya. Akhirnya Markesot mencari sendiri, membayang-bayangkan sendiri dan mendongeng-dongengkannya kepada dirinya sendiri. Sebagaimana dikisahkan dalam dongeng Markesot Joko Lanjaran tentang pencapaian 41 hamba Allah pada batas yang berbeda-beda, berdasarkan sub-sub satuan 41.

Dongeng, bukan? Apalagi ungkapannya selalu dengan kata-kata besar, bahasa muluk-muluk. Coba baca kembali:… cahaya, kegelapan, dunia Jin, Indonesia, banci, hutan belantara, hujan deras, kanker, zigzag, ketidaklayakan, aurat, kulit mangga, brutal, pendamai, doa dan dosa, jamaah maiyah, perhimpunan njarem, jape-methe, tajalli, peta diri….entah apa lagi.

Dideret-deret disusun-susun menjadi orkestra panjang penderitaan, lagu-lagu keluhan, puisi-puisi ratapan, kecengengan-kecengengan dongeng yang didongengkan oleh tokoh di dalam dongeng.

Terkadang, kepada orang tertentu, Markesot berkata: “Yakinlah bahwa semua yang kuomongkan adalah dongeng. Rajinlah makan batu, karena sungguh batu bukanlah dongeng”.

Kepada orang yang berbeda, Markesot menambahkan: “Kalau suatu hari hidupmu dipenuhi batu dan rumahmu ditimpa batu, tak ada masalah bagimu, karena toh batu adalah makananmu”.

***

Mereka disihir oleh Markesot seakan-akan datang dengan membawa tulisan masing-masing. Membacakannya satu demi satu. Apakah itu benar-benar terjadi? Teman-teman Markesot itu kerasukan Jin. Dan Jin-nya tak lain tak bukan adalah Markesot sendiri.

Di tengah itu ia gila, meledakkan cambuk, tertawa-tawa sinting seperti yang mereka kenal dahulu kala di Patangpuluhan. Akan butuh waktu cukup lama bagi 40 orang itu untuk menyimpulkan apakah sehari semalam itu berada dalam keadaan jaga ataukah tidur.

Kalau tidak jelas jaga atau tidur, sadar atau tak sadar, dua kemungkinannya. Majdzub, kalau positif, sebab mereka dijadikan medium atau wadah atau penyalur dari energi positif. Atau kangslupan, kalau negatif, karena yang ngangslupi adalah hantu yang bernama Markesot.

Apakah kalau ditarik garis ke atas, dari Markesot, akan sampai ke Malaikat Jibril? Mana mungkin. Kalau sampai ke Iblis, bisa jadi, meskipun tidak ada yang sekarang bisa memastikannya.

41 tulisan yang berisi omong besar dan festival kesengsaraan bangsa itu sudah pasti berasal dari dongeng Markesot sendiri.

Tetapi hanya setan dan hantu-hantu yang sesekali mendengarkan kata-kata Markesot itu. Siapa percaya?

Lihatlah keluar jendela sana. Tengoklah jalanan yang makin ramai dan macet oleh kendaraan-kendaraan. Pandanglah gedung-gedung makin banyak. Itu adalah tanda-tanda kemajuan bangsa.

Tataplah bangunan-bangunan tinggi. Makin banyak dan makin tinggi mengancam langit. Apa itu kalau bukan meningkatnya peradaban.

Tontonlah televisi, bacalah koran-koran dan majalah, bergabunglah memasuki medsos, media sosial, media silaturahmi terbaik tercanggih tanpa ada yang akan lebih canggih lagi.

Bukalah internet. Kelilingkanlah penglihatanmu, tebarkan pendengaranmu, lengkapkan kesadaranmu. Apa yang kurang dari Negara dan Bangsa ini? Makin maju. Makin makmur. Makin canggih. Makin bergerak ke depan.

Nikmatilah kiprah para pemimpin Bangsa dan Negara, yang tegas, yang profesional, yang mumpuni, yang merupakan pilihan terbaik dari segala pilihan yang pernah dilakukan sepanjang sejarah.

Markesot saja yang tidak pernah bergerak ke depan. Markesot beku di masa silam. Mandeg ditinggalkan oleh waktu.

Siapa yang paham kalimat Markesot kecuali setan dan hantu?

Maka sampai Markesot dewasa, kemudian menua, sampai ketika ia mengundang teman-temannya ke Patangpuluhan, semua 40 orang itu seperti diseret masuk oleh Markesot ke dalam dunia dongeng.

Padahal mereka sudah menemukan hidupnya masing-masing. Berkeluarga dengan sukses. Bekerja dan berkembang. Berkarya dan berprestasi. Mungkin hanya karena sopan santunlah sajalah mereka memenuhi permintaan Markesot untuk berkumpul di Patangpuluhan.

Lambat atau cepat mereka akan terbangun dari mimpi dan kerasukan sehari semalam. Tatkala matahari terbit nanti dongeng Markesot akan berakhir, sihir Markesot akan sirna, khayalan Markesot akan lenyap.

***

Tetapi sampai matahari hampir terbit, mereka masih tidur nyenyak. Sehingga tidak ada pertanyaan pada mereka siapa yang membaca tulisan ke-41. Nanti kalau mereka bangun belum tentu juga ada yang ingat tulisan ke-41, apalagi tentang siapa yang membacanya.

Lebih dari itu, siapa bilang tulisan ke-41 adalah tulisan yang dibacakan pada urutan ke-41? Atas dasar ukuran apa dan berpedoman pada teori teknis redaksional yang bagaimana? Bagaimana kalau tulisan yang dibacakan pada urutan ke-15 sebenarnya adalah tulisan ke-1, sementara yang dibacakan pada urutan ke-18 fungsinya adalah tulisan ke-41? Atau berbagai macam kemungkinan dan acakan yang lain?

Markesot pernah memberi pertanyaan: “Ketika Baginda Adam diturunkan dan tiba di Bumi, itu pas hari apa? Juga tatkala Ibunda Hawa menyusul, kaki beliau menginjak tanah Bumi pertama kali pada siang atau malam hari?”

Di kesempatan lain Markesot melontarkan banyak pertanyaan lain yang bisa dipastikan dia sendiri tidak mampu menjawabnya. “Berapa tinggi badan Nabi Khidlir? Lebih tinggi mana dibanding Nabi Musa? Berapa luas bahtera Nabi Nuh? Berapa panjang landasan runaway pesawat di zaman Nabi Hud? Berapa jumlah Aji-aji yang dikuasai oleh Nabi Sulaiman? Bagaimana bunyi dialog antara Nabi Ibrahim dengan api Firaun yang membakarnya?”

Kebanyakan makhluk kasat-mata di Bumi terlalu meyakini bahwa hari adalah benar-benar hari, bahwa angka adalah hakiki angka, atau bahwa ruang dan waktu adalah sungguh-sungguh ruang dan waktu. Mereka mengira Surat Al-Hadid adalah mata kuliah besi, atau Al-Baqarah adalah firman buat para Cowboys.

Peradaban teknologi dan kebudayaan dibangun dengan pilar angka, padahal toh lenyap di infinitas. Tuhan menganugerahkan kemerdekaan seolah tanpa batas, padahal kemerdekaan adalah alat untuk menentukan batas, tapi kemudian batas-batas dibatalkan oleh ketidak-terbatasan atau ketiadaan batas.

Segala sesuatu, apapun, jagat raya, alam semesta, hanyalah satu. Hanyalah tunggal. Hanyalah Sang Maha Tunggal. Sang Hyang Maha Tunggal menggeliat, meregang, menghembuskan maha-nafas, berlagak memuaikan dirinya, menciptakan konsep 1, 2, 3, 4, milyaran, trilyunan, sampai tak terhingga. Dan semua regangan-Nya memerlukan waktu sangat lama untuk menemukan sesungguhnya mereka semua hanya bagian dari Tunggal.

Bagian-bagian amat sangat kecil yang tak berarti dari Sang Maha Tunggal. “Hanya Allah”, kata Markesot, “selebihnya hanya dongeng”.