Catatan Banjarmasin Bersyukur, 29-30 September 2016

Hamparan Kosong untuk Pondasi Peradaban Kontinyuasi

Terbersit harapan membangun kembali konstruksi tatanan negara ini mulai dari nol, dengan pondasi yang mengikuti kontinyuasi peradaban leluhur bangsa ini.

Lima belas menit ke depan pesawat maskapai milik BUMN, seri CRJ 1000 NextGen dari jenis Bombardier, produksi pabrikan Bombardier Aerospace Kanada akan mendarat di Syamsudin Noor Airport. Pesawat berkapasitas 100 kursi kategori regional jet ini dimiliki maskapai Garuda Indonesia sebanyak 18 unit. Pesawat inilah yang membawa Cak Nun dan KiaiKanjeng menuju Banjarmasin untuk memenuhi undangan Pemerintah Kota Banjarmasin dalam rangka hari jadi kota ini yang ke-490.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tidak seperti jet airliner berbadan lebar semisal Boeing 737-400 atau Airbus A300 yang banyak berseliweran di langit nusantara, yang mesinnya berada di kedua sayap tengah sehingga cukup terdengar keras di dalam kabin, pesawat jet kecil ini mesinnya berada di belakang. Tidak terdengar kencang deru mesin dari tengah dan depan. Karena badannya yang kecil, manuver perjalan dari apron menuju landasan pacu utama terasa gesit seakan menaiki bis dan tinggal terbang saja.

Karena Banjarmasin berada di dagu wajah Kalimantan, penerbangan dari pulau Jawa di selatannya akan tampak lautan terlebih dulu baru kemudian daratan. Dari jendela kabin pesawat, terlihat hijau-kuning menghampar luas bagai karpet raksasa. Hanya satu dua rumah di sana. Yang hijau adalah rimbunan pepohonan, yang kuning ialah persawahan. Liukan sungai besar membentang beserta anak-anak sungainya. Di kejauhan, tampak titik-titik kepulan asap. Sebuah helikopter terbang dengan sesuatu menggantung di bawahnya, tampak seperti gentong besar dengan katup buka-tutup di bagian bawahnya, yang berisi air untuk memadamkan api di titik-titik hutan itu.

Melihat hamparan yang luas kosong itu, tiba-tiba terbayang Jakarta yang padat-sumpek dengan rumah-rumah dan bangunan tingginya. Kota besar itu sudah dikeluhkan atas keruwetannya dan kapasitasnya sebagai pusat administrasi kepengurusan negara yang tidak memadai lagi. Menyaksikan hamparan luas itu, rasanya bisa dipindah saja pusat administrasi negara ke sana.

Foto: Bekti.
Foto: Bekti.

Terbayang Jakarta, teringatlah Indonesia. Lalu dari hamparan kosong yang bisa lebih leluasa membangun sesuatu di sana, terbersit harapan segera membangun kembali konstruksi tatanan negara ini mulai dari nol, dengan pondasi yang mengikuti kontinuasi peradaban leluhur bangsa ini sebagai default namun tanpa mengabaikan adopsi. Bukan peradaban yang mengadopsi total bangsa lain seperti yang digunakan negara ini dengan mengabaikan kontinuasi.

Membangun konstruksi dasar yang membedakan antara Negara dengan Pemerintah. Yang menyadari bahwa bukan Pegawai Negeri, tetapi Pegawai Negara yang bekerja mengikuti Undang-Undang dan Garis Besar Haluan Negara bukan mengikuti kemauan politisi dalam birokrasi yang sebenarnya hanya berstatus outsourcing kontrak per lima tahun.

Membangun bangunan negara yang memiliki Kasepuhan. Negara yang mengutamakan Tuhan dalam segala aspek diri dan geraknya. Atau apapun formulanya yang mungkin bukan Negara, tetapi rumah besar yang dibangun bersama, di mana rakyat adalah pemilik kedaulatan tertinggi sebagai majikan yang memiliki buruh yang mereka bayar. Yaitu pemerintah sebagai pengurus rumah besar itu, dengan seorang Presiden yang menjadi ketua para buruh itu. (jj/adn)