Daur (13)

Gelap Jadi Cahaya, Beban Jadi Penyangga

Pada dua belas tulisan sebelum ini aku banyak menuturkan sesuatu yang sengaja baru besok atau lusa aku tuntaskan. Semacam ‘pekerjaan rumah’ yang mungkin membuat pikiranmu ruwet dan kusut.

Kalau anak cucu dan para jm pusing kepala dan geram oleh alur kacau omonganku, tolonglah bersabar pada orang tua yang mulai pikun dan udzur. Maka beliau-beliau yang lain siapapun tak perlu mendengarkan atau membaca ocehan kakek kepada anak cucunya ini.

Seorang kakek terkadang mungkin memang sengaja bicara tak beraturan. Menjebak-jebak. Berhenti padahal masih koma. Sengaja suatu tema dipotong, kemudian belok ke gang-gang yang seakan tak ada kaitannya dengan tema utama. Pemilihan tema-temanya, lompatan-lompatan dari tema ke tema, kadar tabungan penghayatan suatu tema sebelum besok nyicil tabungan berikutnya, tata kepenulisannya, pertimbangan berpikirnya, irama penelusurannya, format redaksionalnya, serta berbagai macam aturan kepenulisan lainnya — semata-mata membatasi diri pada keperluan internal keluarga anak cucu dan para jm.

Jika itu mengganggumu atau bahkan menyiksamu, berhentilah membaca dan tinggalkan tulisan ini. Jauhilah aku dan Maiyah, sebab aku dan Maiyah tidak mengikat siapapun. Aku dan Maiyah tidak harus ada dalam kehidupan ini. Aku dan Maiyah belum tentu disyukuri adanya, dan memang sama sekali tidak harus. Aku dan Maiyah pun tidak ditangisi oleh siapapun tiadanya.

Kalau ada yang mencurangi tulisan-tulisanku untuk anak cucuku ini, misalnya melemparkannya keluar Maiyah, memotong-motongnya, atau meletakkannya pada alam pikiran umum yang tidak tepat untuk itu, atau apapun bentuk pencurangannya — tidak akan berurusan denganku. Tidak akan mendapat akibat apapun secara langsung dariku. Juga tidak diidentifikasi atau didata apapun yang menjadi akibat dari pendhaliman itu. Tidak diamati, apalagi disyukuri atau disesali.

***

Apabila ada yang menjahati tulisan-tulisan buat anak cucuku ini, termasuk tulisan dan karya apapun dariku, sudah ada yang mengurusinya. Kejahatan itu dilakukan oleh siapapun, yang mencintai atau yang membenci, dari segmen apapun, dari level yang manapun, termasuk jika itu dilakukan oleh anak-anak cucu-cucuku sendiri di Maiyah — hanya akan memperoleh akibat, entah berupa penghargaan atau pembalasan, entah pahala atau adzab, yang berasal dari asal usul tulisan-tulisan ini sendiri. Yakni yang bukan aku.

Karena tulisan-tulisan ini bukan karyaku. Bukan hak milikku. Bukan kreativitasku. Bukan hasil dari kemampuanku. Bukan produksi dari perjuanganku. Melainkan ada pemiliknya, yang menitipkannya melalui aku, kepada anak-anak cucu-cucuku. Baik anak cucu yang sekarang, maupun siapa saja yang pada akhirnya menjadi anak-anak dan cucu-cucuku.

Aku mensyukuri jika akibat itu berupa tambahan kemudahan hidup, berkah kesejahteraan, kekuatan dan ketenteraman hidup. Aku juga tidak pernah membayangkan, mengharapkan, memimpikan atau menanti-nantikan jika akibat dan pembalasan itu berupa proses perapuhan, menyusutnya rejeki, terjatuh dan ambruknya sesuatu yang sudah dibangun, sakit jasad, kehilangan sesuatu yang sangat dibutuhkan, atau apapun. Itu semata-mata urusan pemilik tulisan-tulisan ini beserta segala sesuatu yang terkandung di dalamnya.

***

Salah satu sebab logis dari sudah, sedang dan akan terjadinya balasan yang baik maupun yang buruk itu, antara lain karena tulisan ini dititipkan atas dasar situasi ketidakberdayaan.

Aku tidak disuruh menulis untuk merayakan kegembiraan dan kebahagiaan. Karena siapapun yang sedang mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan, tak perlu melonjak-lonjak, melompat-lompat sambil berteriak-teriak mengibarkan perasaannya. Titipan tulisan ini berasal dari kesedihan, penderitaan, kesengsaraan, keteraniayaan dan kelumpuhan sejarah.

Itu semua berlangsung dalam skala kecil individu-individu, lingkar keluarga, area kemasyarakatan, juga wilayah yang lebih luas, misalnya negara dan dunia yang jika engkau berpikir apa kemauan Tuhan menciptakan semua ini: berisi kemudlaratan yang kadarnya jauh melebihi kemashlahatan. Terapannya pada manusia, personal maupun kolektif, adalah kebingungan, kecemasan dan kesedihan.

Aku tidak dititipi tulisan yang sumbernya adalah keadilan, melainkan ketidakadilan. Bukan bermata air dari keceriaan, melainkan keterpurukan. Bukan dari keindahan, melainkan kekumuhan. Bukan dari pancaran cahaya, tapi kegelapan – meskipun jangan lupa bahwa ilmu yang berasal usul dari kegelapan itu fokus perjalanan yang ditujunya adalah justru cahaya.

Aku tidak diperintahkan untuk mengantarkan nyanyian-nyanyian sukses, lukisan keberhasilan dan tercapainya kejayaan dan kemewahan. Perintah kepadaku adalah mengajak anak-anak cucu-cucuku untuk menggali, meneliti dan menemukan bangunan kehidupan sebagaimana yang sejak awal mula dulu dikehendaki oleh yang memerintah itu — meskipun bahan-bahan yang tersedia adalah kompleksitas permasalahan-permasalahan yang secara ilmu apapun tampak mustahil diatasi.

***

Aku dititipi perjuangan bersama engkau semua anak-anak dan cucu-cucuku. Perjuangan yang meskipun engkau dikepung oleh kegalapan, tapi engkau tetap sanggup menerbitkan cahaya dari dalam dirimu.

Meskipun engkau terbata-bata di jalanan yang sangat terjal, engkau tetap mampu menata kuda-kuda langkahmu sehingga keterjalan jalan itu bergabung ke dalam harmoni tangguhnya langkah-langkahmu.

Meskipun engkau ditimpa, ditindih, dihajar dan seakan-akan dihancurkan oleh beribu beban dan permasalahan, tetapi engkau justru menjadi anak-anak cucu-cucuku yang mengubah jalanan itu menjadi rata bagi semua orang. Beban-beban itu menjadi tenaga masa depan yang dinikmati semua orang. Dahsyatnya permasalahan yang memerangimu itu menjadi bahan bakar yang kau sebar ke seantero bumi sehingga digunakan oleh semua orang untuk bangkit dan tegak membangun hari-hari esoknya.

Sudah semakin banyak jumlah anak-anak cucu-cucuku yang kulihat sanggup mengubah kegelapan menjadi cahaya, beban menjadi tenaga, tindihan menjadi penyangga, derita menjadi gembira.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogya 13 Pebruari 2016