Daur (276)

“Geger Wong Ngoyak Macan”

Tahqiq : “…Ada perjuangan sesekali. Ada perjuangan jangka panjang dan tidak kelihatan. Ada perjuangan yang tidak ekspresif. Menjadi orang baik saja sudah sebuah perjuangan. Ada berbagai ukuran. Dan lagi tidak semua Pasukan berada di satu Barisan…”

Tampaknya Sundusin menyiapkan diri untuk menguraikan soal kebodohan dan kepandaian. Tarmihim tersenyum-senyum dan Brakodin terkantuk-kantuk.

Tapi tiba-tiba Seger menginterupsi. “Maaf ya Pakde Paklik”, katanya, “sudah pasti saya akan sangat bergairah mendengarkan Pakde Sundusin menguraikan hal kepandaian dan kebodohan. Tetapi saya merasa perlu menanyakan sesuatu hal terlebih dulu…”

“Apa itu, Ger”, Tarmihim yang menjawab.

“Gini Pakde”, Seger mencoba menjelaskan, “di luar sana kan sedang terjadi sesuatu yang mungkin akan bisa sangat penting untuk masyarakat dan bangsa. Puluhan ribu, bahkan mungkin bisa ratusan ribu orang dari berbagai wilayah tanah air berkumpul di ibukota…”

“Ya ya…”, Tarmihim memotong, “yang soal salah suguhan itu”

“Kok salah suguhan, Pakde?”

“Ya. Salah hidangan. Setiap ekspresi kita adalah suguhan atau hidangan bagi orang lain. Ucapan, pernyataan, komunikasi, perilaku, akhlak, semuanya, yang berasal dari kita adalah suguhan sosial bagi orang-orang dalam jangkauan pergaulan kita…”

“Kurang ajar, ya Pakde”, Seger tertawa, “Al-Maidah. Hidangan”

“Ada pepatah bilang keselamatan manusia terletak pada kemampuannya menjaga lidahnya. Atau mulutmu adalah harimaumu. Ada gambaran tradisional: itu namanya Geger Wong Ngoyak Macan. Riuh rendah gegap gempita orang-orang mengejar seekor macan. Apa yang kamu mau tanyakan soal itu?”

Brakodin yang menyahut. “Mungkin Seger bertanya-tanya kenapa kita tidak pergi ke ibukota. Kenapa kita tidak berjuang bersama mereka. Mungkin dia khawatir barangsiapa tidak bergabung ke himpunan massa di Jakarta untuk geger wong ngoyak macan itu berarti bukan pejuang. Berarti tidak beriman. Tidak cinta Nabi. Tidak membela Kitab Suci…”

Seger yang sekarang tertawa. “Kalau soal itu saya tidak cemas, Pakde. Kalau semua Kaum Muslimin harus datang ke Jakarta demi supaya mereka tidak tergolong kafir, apakah Jakarta sanggup menampung 300 juta orang sekaligus. Juga pakai berapa kendaraan untuk itu. Banyak juga sebab-sebab yang lain. Perjuangan banyak bidangnya, konteksnya, temanya, segmennya, lapisannya. Ada politik praktis, ada demonstrasi yang gegap gempita yang mungkin memang diperlukan untuk konteks dan momentum tertentu. Ada perjuangan pendidikan, kebudayaan, penerapan akhlak sosial. Ada perjuangan sesekali. Ada perjuangan jangka panjang dan tidak kelihatan. Ada perjuangan yang tidak ekspresif. Menjadi orang baik saja sudah sebuah perjuangan. Ada berbagai ukuran. Dan lagi tidak semua Pasukan berada di satu Barisan…”

“Bagaimana kalau itu dianggap alasan saja untuk menutupi kepengecutan atau kemalasan untuk berjuang?”, Brakodin bertanya.

“Melakukan apa saja bisa dituduh apa saja”, jawab Seger, “shalat pun bisa diartikan dengan seribu makna. Orang shalat bisa untuk pamer kebaikan, unjuk kesalehan, atau untuk dipuji oleh tetangga. Atau malah kita shalat sebagai pengakuan bahwa kita ingin menebus dosa-dosa. Artinya, orang yang shalat adalah orang yang penuh dosa. Macam-macam kemungkinannya, Pakde”

“Kamu sendiri punya tuduhan apa terhadap mereka yang berkumpul di ibukota?”

“Saya dan teman-teman tidak menuduh. Kami mengapresiasi, berusaha memahami dan menghormati…”

“Tidak mengkritisi?”

“Banyak sekali bahan untuk mengkritisi. Tapi kan Pakde Paklik sendiri yang selalu mengatakan bahwa kritisisme tidak efektif untuk siapapun yang keyakinannya sudah mutlak terhadap apa yang diperbuatnya. Misalnya, ada teman bilang bahwa dia akan berangkat kalau Ummat Islam sudah menjadi ummatan wahidah, sudah menaklukkan perbedaan-perbedaan dan menyepakati ada satu Pemimpin Islam di negeri ini. Yang berlangsung sekarang di ibukota itu adalah konstelasi instan, dan sesudah itu mungkin akan kembali tercerai-berai sebagaimana situasi normalnya”

“Masuk akal”, Brakodin berkomentar.

“Ada juga yang bilang bahwa ia sangat sedih Kaum Muslimin tidak pernah bisa dipersatukan oleh iman yang sama kepada Allah serta cinta yang sama kepada Rasulullah. Sekarang ini saya khawatir Ummat Islam sedang dipersatukan oleh kebencian kepada musuh bersama…”

“Mungkin itu manusiawi”, kata Brakodin lagi, “siapa tahu Tuhan memang memformasikan demikian, karena kebangkitan apapun pada manusia tidak ada yang sempurna, selalu ada kekurangan dan cacatnya…”.