Reportase Maiyah Dusun Ambengan 12 Maret 2016

Gegar Kahanan

Mas Bolo dengan gaya khas blak-blakkan dan kocaknya menyinggung kebiasaan anak muda yang suka omben (meminum minuman keras), sebagai bentuk gegar kahanan.

Tepat setelah adzan maghrib, PLN memadamkan aliran listrik. Desa Margototo, Metrokibang, Lampung Timur, menjadi gelap. Di mushala, dekat lokasi Rumah Hati Lampung, tempat digelarnya Maiyah Dusun Ambengan, jadi gelap. Beberapa jamaah asal Lampung Tengah, di antaranya wanita, meminta ijin shalat maghrib di ruang musholla Rumah Hati. Beruntung, ada genset yang bisa memberi penerangan. Pasca shalat maghrib,  mereka langsung sigap ngepel kering pelataran untuk acara sebelum dihampar terpal.

Alhamdulillah habis hujan lebat, jadi bersih. Hanya perlu mengelap untuk mengeringkan titik-titik genangan air.

Maiyah Dusun Ambengan Maret 2016
Maiyah Dusun Ambengan Maret 2016

Syamsul Ariefin atau Cak Sul yang menjadi pusat jamaah maiyah dusun Ambengan, terlihat masih mengenakan singlet dan terengah-engah bermandi keringat, ikut mengeringkan lantai. Tepat jam 20.00 WIB, semua sudah bersiap. Singkong dan pisang goreng, wadah teh dan kopi sudah tersedia di depan pintu masuk Rumah Hati Lampung.

Empat jamaah Maiyah Dusun Ambengan, mulai maju ke depan bergantian tadarus dan mentartilkan Surat Ar-Rohman, lanjut Al-Waqi’ah. Lampu menyala, genset dimatikan, berganti listrik dari PLN. Dilanjutkan, pembacaan Surat Yasiin.

Mas Dikin dan Mas Safiq mulai membuka acara, mengabsen beberapa jamaah yang mulai berdatangan dan langsung duduk tertib. Menjelaskan tema Gegar Kahanan. Belasan santri dari Ponpes Nahdlotul Fatah, Margajaya, duduk paling depan. Awak musik Jamus Kalimasada sudah menempati posisi di depan jamaah yang terus berdatangan, lalu istighfar bersama yang kemudian  dipadu-padan dengan Syiir Tanpo Waton, dikumandangkan dengan khidmat.

Usai Syiir Tanpo Waton, rombongan pembicara mulai masuk ke depan lingkaran jamaah. Ada Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lampung Timur, H. Ma’ruf Abidin, Tokoh Muda NU Lampung Timur H. Marsim Rais, Sekretaris GP Ansor Provinsi Lampung, H. Muhyidin Thohir dan Komandan Koramil Metro Kibang, Bapak Supriono.

Setelah salam, Cak Sul, langsung meminta semua jamaah berdiri. Tidak lupa memegang gelas teh, kopi dan kue-nya. Semua diminta maju dua langkah, yang di belakang, maju tiga langkah ke depan. Setelah posisi merapat, mengajak jamaah mengucap basmalah dan merenggangkan otot kaki, setelah terlihat santai, lalu jamaah dipersilahkan duduk kembali.

Cak Sul menjelaskan  makna santai, dan menambah agar jamaah menikmati suasana, Jamus Kalimasada membawakan lagu Santai milik H. Rhoma Irama. Keriangan jamaah seketika membuncah, dan hanyut dalam kehangatan irama lagu santai.

***

Meski acara sudah dimulai, beberapa orang masih berdatangan. Beberapa anggota TNI dan Polri, ada yang berseragam ada yang berpakaian preman seperti Anggota Kodim 0411 Lampung Tengah, Mas Dily Supianto, serta Camat Purbolinggo Lampung Timur, Pak Maryono, hadir. Tanpa beban mereka menikmati duduk di belakang.

Dua tokoh Muhammadiyah dan NU Lampung Timur di Maiyah Dusun Ambengan.
H. Ma’ruf Abidin (kiri), H. Marsim Rais (kanan)

Pak Camat dan Pak Kodim Lampung Tengah, duduk di belakang, waduh tapi ya gimana lagi, salahnya sendiri, datang belakangan. Kata Cak Sul yang kemudian mebuat i’tibar, dalam shalat jamaah, kalau makmum yang datang belakangan yang posisinya di belakang.

Canda-canda khas Maiyah Dusun Ambengan yang mencerminkan warga desa, banyak hutang, mulai dibawakan Cak Sul dan disambut tawa jamaah. Seorang jamaah, mas Mulud, tiba-tiba nyeletuk, “ya beri bantuan donk supaya gak banyak utang”.

“Itu kang Mulud ya, sudah bicara dengan mulutnya, dengan ketulusannya, dengan kejujurannya, dengan kepolosannya sebagai orang dusun… asyik banget pokoknya, selagi tanah masih ada, selagi  bibit masih ada, selagi bumi belum dibalik oleh Tuhan, selagi gerhana menjadi cermin kita semua untuk memperbaiki diri, insya Allah nanti makmur semua”, kata Cak Sul, disambut amiiin serempak jamaah.

Para pembicara kali ini, dijelaskan dari dua unsur yang sering bersitegang di kampung-kampung. Yakni, NU dan Muhammadiyah, maka dihadirkan dua unsur sekaligus tokoh dari NU dan Muhammadiyah.

Satu persatu, jamaah diperkenalkan dengan para pembicara. Datang juga Mas Bolo, jamaah yang selalu mampu menghidupkan suasana dengan joke-joke untuk membuat jamaah terpingkal-pingkal.

Usai memimpin permenungan yang dilanjut dengan sigap awak Jamus Kalimasada membawakan Shohibu Baiti, suasana berubah, sangat hening. Terutama lantunan dzikir mursyidu imani  tersebut menggerus dan menyayat relung-relung hati. Membawa ke semesta yang penuh kesunyian. Cuaca malam yang pekat setelah hujan, mengantar semacam kesejatian dan nuansa sejuk.

Cak Sul kemudian, membacakan sajak Zaman Gegar Kahanan.

Assalamu’alaikum wa’alaikum salam/ kui sejatine dongo andhum keslametan/nanging nyatane akeh sing gegar kahanan/ tangane salaman atine remuk rasan-rasanan

Iki arane ngono zaman gegar kahanan/akeh wong urip kang salah milih dalan/entek waktune mburu kadonyan lali Pangeran

Grahono sengenge grahono bulan/ dadi pengileng anane akhir zaman/ nanging dasare wong gegar kahanan/ onone grahono malah digae cengengesan

Bengi-bengi liwat jembatan layang tanjung karang/ karepe dijempat yo ben ngurangi kemacetan/ jebule kaget ora karu-karuan/ jembatan isine arek-arek do pacaran/ tambah nyesek atiku tambah gregetan/ mergo sing pacaran kui yo ono sing jilbaban

Jamah mulai terlihat tersenyum, sesekali tertawa. Mengungkap tafsir Gegar Kahanan dengan ungkapan-ungkapan satir. Lalu bershalawat dan memuji keutamaan hidup kajeng Nabi Muhammad SAW yang penuh ketauladanan. Cak Sul melanjutkan membaca wirid Wabal & Tahlukah.

Suasana meriah dengan berbagai narasumber.
Suasana meriah dengan berbagai narasumber.

Suasana sunyi berubah jadi menghentak karena gamelan Jamus Kalimasada memberi intro dengan tabuhan-tabuhan indah. Diantar dengan seruan Cak Sul untuk menyongsong kehidupan yang baru. Penuh cinta dan kebaikan. Midle Ra Digowo Mati/Rampak Osing milik KiaiKanjeng, dibawakan penuh riang. Jamaah yang awalnya bengong, dikejutkan dengan lagu gembira tersebut. Nyaris semua jamaah mengangguk-angguk, ada yang mengangkat tangan layaknya menonton konser dan ada yang memukul-mukul pahanya mengikuti alunan musik.

Dialog dan interaktif kembali dibawakan Cak Sul, penuh jenaka mengutip mukadimah Gegar Kahanan dan pentingnya bersyukur. Lalu memberi kesempatan jamaah untuk bicara. “Awalnya saya khawatir datang ke Ambengan ini, karena kalau kumpul itu biasanya digiring ke sana, ke sini. Tapi saya kaget, ternyata berkumpul di Rumah Hati ini kita penuh kebersamaan, gembira, banyak ilmu,” kata Mas Parni.

H. Makruf Abidin, dalam pemaparannya menjelaskan makna Gegar Kahanan secara empirik. Termasuk membahayakannya orang-orang yang dewasanya prematur. Belum saatnya dewasa namun dipaksa oleh keadaan menjadi dewasa lebih dini. Maka kita harus mengembalikan pada tujuan hidup manusia. Dalam Al-Quran, dijelaskan, tidak diciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah.

Kemudian, Mas Maruf menjelaskan, memainkan musik seperti Jamus Kalimasada pun termasuk ibadah.

Mas Maruf, yang notabene Pimpinan Daerah Muhammadiyah, itu juga mengisahkan soal dunia sufi, talkin dan berbagai kearifan yang lazim diamalkan orang-orang NU meski ditutup ayat Al-Quran khas yang digunakan warga Muhammadiyah. Sementara Gus Marsim Rais, tokoh NU Lampung Timur menjelaskan Gegar Kahanan lebih sistematis. Lebih tekhnokratis. Mirip gaya ceramahnya orang-orang Muhammadiyah. Namun ditutup dengan ciri khas orang NU.

Gus Marsim mengungkapkan, Gegar Kahanan itu kalau manusia mirip monyet yang hipokrit. Banyak maunya. Ada satu kalimat yang bisa kita renungkan maknanya, begini. “Kesandung papan roto, kejaduk awang-awang. Ajang batok suru tampah.” (Kesandung papan rata, ketubruk awan, makan berpiring batok kelapa sendoknya tampah). Ini filosofisnya sangat dalam. Itulah makna gegar kahanan.

Cak Sul, menengahi, indahnya Maiyah Dusun Ambengan. NU-Muhammadiyah sudah tidak bengkerengan lagi, melainkan ngeriyung bareng, gembira bersama. Bahkan, bukan hanya dua ormas itu, jamaah Maiyah juga banyak yang nasrani. Menyanyikan Malam Kudus yang dikombinasikan dengan Sholawat.

Pak Yudi, tokoh beragama nasrani, salah satu jamaah yang aktif dan selalu datang ikut memberikan ceramahnya setelah menyanyikan Malam Kudus. Didampingi Mas Sulis dan beberapa saudara yang lain.

“Ini acara yang  bagus, saya merasakan sangat nyaman sekali. Saya semalam juga sampai jam setengah empat di sini (di Rumah Hati,red). Mendengarkan Cak Nun di Kenduri Cinta bareng-bareng,” kata Pak Yudi.

Danramil Metro Kibang, Pak Supriono, ikut memberikan masukan. Setelah menyimak, melihat dan apalagi ada musiknya, Pak Danramil mengakui dirinya mendapatkan masukan spiritual tersendiri. Kegiatan semacam ini sangat positif. Namun pesan beliau, jangan sampai kemudian di belakang hari ada muatan-muatan yang tidak baik. “Saya mohon pada Cak Sul ya lanjutkan, insya Allah selama bertugas di sini, saya akan selalu dan tetap hadir di sini (Ambengan),” kata beliau.

Giliran mas Bolo yang semula duduk membaur dengan jamaah, dipanggil maju ke depan oleh Cak Sul untuk berkolaborasi dengan Jamus Kalimasada membawakan nomor lagu Pak Tani, Koesplus. Mas Bolo yang mengaku namanya tidak ada di Al-Quran itu, membuat tafsir Gegar Kahanan. Khususnya di desa, yakni anak-anak kecil, yang sudah tidak mengenal nyuwun sewu, pamit, numpang lewat, melainkan langsung werrr… nguenggg, gas motor sambil mengacungkan jari tengah. “Itu gegar kahanan nurut saya.”

Tak hanya sampai di situ, Mas Bolo dengan gaya khas blak-blakkan dan kocaknya menyinggung kebiasaan  anak muda yang suka omben (meminum minuman keras), sebagai bentuk gegar kahanan. “Bensin yang bisa dipakai ngisi motor untuk ngarit, ngenggrek jagung harga 8.000 diprotes, sementara beli tuwak 5.000 satu plastik anteng-anteng saja.” Kata mas Bolo.

Aparat keamanan pun tak luput digelitiknya. Ini yang salah juga aparat TNI dan Polri itu, coba kalau negara menjamin kesejahteraannya, pasti prajurit jika disuruh baris berbaris pasti sigap siap grak lantang dan tegas. “Satu dua! Satu dua! Tapi karena kesejahteraan mereka tak diperhatikan ya mereka payah dan loyo sehingga saat baris ya bunyi aba-abanya tuwak… tuwak… maka minum tuwak jalan terus”. Papar mas Bolo disambut gerrr jamaah.

Selanjutnya Sekretaris GP Ansor Wilayah Lampung, H. Muhyidin. Namun sebelum bicara, Gus Muhyidin mengakui, bingung semua sudah diungkapkan Mas Bolo yang dipuji, ilmunya lebih dahsyat. Terutama ketika mengupas Gegar Kahanan. Akan tetapi, beliau lebih banyak mengupas pentingnya ajang majelis Maiyah Dusun Ambengan untuk dihadiri dan dilestarikan. Terutama dari sisi ngaji kegembiraan. Dzikir dan ibadah yang benar-benar mencari dan mengabdi pada Pangeran (Gusti Allah) karena senang. Nah, senang ketika diri kita senang, pengabdian pada Allah bisa lebih mendalam. “Pokoknya kita ke Ambengan ini harus senang-senang. Nah kalau sudah senang di majelis ini, kita bisa senang dalam mengabdi pada Allah.”

Acara itu masih berlangsung padat, laporan dari kegiatan Monitor Artis dan SSB Astama, juga diberi kesempatan. Bahkan kegiatan sosial dan bersifat pelayanan pada masyarakat itu direspon semua jamaah. Termasuk Gus Muhyidin menjanjikan banyak relawan yang bisa digerakkan mendukung Monitor Artis dan mulai digagas Bapak Asuh oleh Pak Yudi untuk anak-anak SSB Astama yang mulai memikirkan tingkat pendidikan dan karier anak-anak Sekolah Sepak Bola yang dinaungi Maiyah Dusun Ambengan.

Acara berakhir sekira pukul 01.15 WIB. Dipuncaki dengan shalawat Indal Qiyam “Alfu Salam”. Lebih empat jam, nyaris tidak ada jamaah yang bergeser dari tempat duduknya. Hanya ada beberapa orang yang terlihat ke kamar mandi. Beberapa anak-anak usia sekolah dasar juga masih terjaga. Kemudian, jamaah bersama-sama menyantap nasi uduk, sebelum akhirnya pulang menuju rumah masing-masing. [Teks: Red Ambengan/Endri Kalianda]