Daur (179)

Garis Lurus dari dan ke Titik Qadar

Ta’qid : “Ada garis lurus dari arasy Tuhan di langit, garis qadar, lurus ke pusat ubun-ubun kepalamu, kemudian ke titik tengah antara dua kakimu, hingga menunjuk akurat ke titik pusat gravitasi qadar Tuhan”

“Kesimpulannya, Sot”, kata sosok tua itu akhirnya, “kamu sendiri belum lulus dalam menjaga keseimbanganmu di tengah ketidakseimbangan global zamanmu”

Akhirnya Markesot tidak tahan juga oleh cecaran-cecaran itu. Meskipun ia tidak punya pengalaman bersekolah atau menjadi manusia terpelajar, ternyata tersinggung juga kalau dikasih stempel ‘tidak lulus’.

“Tidak lulus bagaimana?”, Markesot bereaksi.

“Kondisi tidak lulus itu membuatmu merasa ketelingsut, hilang lenyap, tertimbun, atau tersembunyi, di tengah hutan rimba ketidakseimbangan nilai yang berlangsung di zaman yang kamu berada di dalamnya. Kamu merasa sangat tertekan dan bahkan mungkin menderita, karena kamu bukan hanya tidak sanggup merumuskan apalagi mengatasi masalah-masalah zamanmu. Lebih dari itu bahkan kamu juga tidak kunjung menemukan kemampuan untuk merumuskan dirimu sendiri.”

“Jadi, saya tidak lulus merumuskan diri saya sendiri?”

“Ada garis lurus dari arasy Tuhan di langit, garis qadar, lurus ke pusat ubun-ubun kepalamu, kemudian ke titik tengah antara dua kakimu, hingga menunjuk akurat ke titik pusat gravitasi qadar Tuhan. Itulah gambaran paling jasad dari keseimbangan. Kamu berdiri tegak sejajar dan simetris dengan garis lurus arasy itu. Hanya pada dan dari posisi itu kamu bisa memandang alam dan dunia dengan keseimbangan. Yang kamu alami sejauh ini adalah oleng ke kiri atau kanan atau belakang atau depan, dengan derajat kemiringan yang terkadang membuat rebah bersilangan dengan garis arasy”.

“Apa tanda dan akibat dari persilangan dengan garis arasy itu?”, Markesot bertanya.

“Penduduk dunia tidak hanya berdiri miring dari garis qadar itu. Sebagian lainnya bahkan rebah dan sebagian yang lain lagi terjungkir arahnya dari garis arasy. Selama hidup di dunia manusia tidak akan pernah sanggup berdiri tegak simetris dengan garis qadar, parameter tuntutan untuk mereka adalah upayanya yang terus-menerus untuk membawa posisinya seakurat mungkin bersesuaian dengan garis yang mereka disuruh oleh Tuhan untuk menyebutnya as-shirath al-mustaqim

“Sehingga doa utama mereka yang diulang-ulang hingga minimal 17 kali adalah ‘hidayahilah aku shirathal mustaqim’. Manusia yang menyadari jarak posisinya dari shirathal mustaqim menghitung dan menakar seberapa banyak ia mengupayakan kompatibilitasnya terhadap garis qadar itu. Atas dasar itu maka ia mungkin merasa perlu memperbanyak jumlah ibadah tidak wajib, bahkan membawa doa kelurusan dengan garis qadar itu di setiap langkahnya, gerakan bibirnya, detak jantungnya, jalan darahnya, getaran perasaannya, serta seluruh aktivitas jasad dan rohaninya”

“Posisi tidak simeteris dengan garis qadar membuat silaturahmi sosial mereka dipenuhi bias, salah paham, keliru persepsi, gagal komunikasi. Membuat penataan politik kenegaraan mereka jauh dari gravitasi keadilan. Membuat pandangan dan penilaian mereka terhadap apa saja di dalam lalu lintas nilai sejarah yang mereka jalani menjadi penuh bahan perbenturan, pertentangan dan permusuhan. Kemudian melahirkan kedengkian, kebencian dan menjebol pintu-pintu aurat menuju langkah kalah menang, yang diaplikasi dengan segala tipu muslihat hingga tahap antara hidup dengan mati. Ketidakseimbangan yang memuncak membuat keserakahan pun memuncak, pemusnahan pun diselenggarakan, penguasaan total atas apapun saja urusan dunia dimaksimalkan”.

“Kebanyakan manusia yang terbiasa tidak berada pada garis simetris dengan gravitasi qadar, akan hampir selalu terbalik melihat apapun saja yang berlangsung dalam kehidupan. Mereka mensyukuri turunnya adzab sosial politik, karena mereka menyangka itu berkah dari Tuhan. Mereka mengagumi, menyembah dan mematuhi fenomena yang sebenarnya sedang bergerak seperti air bah yang menghancurkan mereka hingga anak cucu mereka. Mereka membanggakan hal-hal yang seharusnya membuat mereka marah karena terhina. Mereka menghina, meremehkan dan mencampakkan hal-hal lain yang sesungguhnya mereka butuhkan untuk menyelamatkan sejarah mereka. Spektrum pandangan mereka miring atau terbalik, sehingga mereka benar-benar tidak mampu membedakan antara kehancuran dengan kejayaan”.

“Mereka tidak diperkenankan oleh arus bah penghancuran untuk membiasakan diri mengamati sebab-akibat dari suatu peristiwa. Mereka dikurung untuk hanya menghuni sepetak ruang di lingkup akibat, tanpa memiliki alat apapun di akal dan ilmu mereka untuk mengerti sebab-sebab yang merupakan latar belakang dari akibat yang mengurung mereka. Demikianlah posisi mereka sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga suatu Negara, sebagai hamba Tuhan dan sebagai apapun saja”.

“Dan kamu, Markesot, gagal mengurai itu semua. Bahkan kamu ketelingsut di tengah hutan belantara ketidakseimbangan zaman itu. Sekarang kamu harus memulai kembali segala sesuatunya dari awal. Kamu harus berwudlu total. Mensucikan diri tanpa sisa. Kemudian belajar kembali berdiri tegak di garis qadar, merasakan dan menghayati kembali takbiratul-ihrammu….”