Daur (290)

Gagal Ilmu

Tahqiq : “...Tidak ada apapun yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia kecuali atas tiga keputusan-Nya: memerintahkannya, mengizinkannya atau membiarkannya, atau bahkan mendorong ketersesatannya....”

Pakde Sundusin menguraikan, banyak sekali terminologi atau metodologi yang bisa kita pakai untuk membaca apakah manusia, masyarakat, bangsa, pemerintah, kelompok-kelompok dengan satuan apapun, sedang mengalami keberhasilan atau kegagalan ilmu. Mungkin seseorang atau suatu kelompok tatkala dipaksa untuk terlibat dalam satu pertempuran, belum lengkap bekalnya. Maka suatu pertempuran harus dijadikan landasan untuk meniti, menghimpun, dan manata ilmu peperangan yang panjang.

Katakanlah diambil contoh misalnya: “Ini bukan soal benar atau salah, melainkan menang atau kalah”. Bisa juga belok, “Tidak harus menang dan tak apa kalah di satu langkah, asalkan kepentingan tercapai”. Artinya, di dalam suatu benturan sosial, titik beratnya bisa benar salah, baik buruk, bisa juga menang kalah, bahkan bisa jadi laba rugi. Suatu arus berangkat merangsek arus yang lain bisa karena perjuangan kebenaran, bisa karena harga diri untuk jangan sampai kalah, atau bisa juga berdasarkan kepentingan terhadap akses masa depan atau laba atau keuntungan dalam jangka pendek dan instant.

Jangan lupa juga, tiga dimensi itu bisa digumpalkan menjadi sebuah satuan strategis: “Memang kita berhimpun, bergerak, dan merangsek tembok kekuasaan, demi kepentingan. Kepentingan kita adalah harus menang. Yang kita perjuangkan adalah memenangkan kebenaran. Kebenaran yang kita maksudkan adalah kebenaran seluruh ummat, bukan sebagian ummat. Kebenaran seluruh ummat adalah manifestasi dari kebenaran Allah yang mengamanahi kita semua untuk menjadi ummatan wahidah”.

Pakde Sundusin mengutip terminologi dari khazanah langit bahwa “ummat yang satu” digambarkan seperti satu badan atau satu bangunan yang semua bagian-bagiannya saling memperkuat satu sama lain.

Kalau kaki terantuk batu, badan terjatuh, dan sebagian otot keseleo, maka perasaan yang menerima pengalaman itu, sehingga melaporkan ke susunan otak eksekutif, yang kemudian memerintahkan mulut untuk mengaduh dan menyuruh mata untuk mengalirkan luh-nya.

Tangan yang mengepal tidak akan punya kekuatan pukul jika tak berasal dari keseluruhan kohesi perangkat-perangkat satu badannya. Meskipun pada kenyataannya memang kaki kiri bisa tiba-tiba menjegal kaki kanan, tangan kanan mengepal tapi tangan kiri menadah ke atas untuk mengemis sesuatu.

Demikianlah kenyataan ummat. Demikianlah kenyataan rakyat. Tapi mereka tidak berdiri sendiri. Ada Kekuatan Segala-galanya. Segala Kekuatan yang mengatasi dan mengalahkan semua. Siapa saja bisa berkuasa di dunia, siapa saja bisa berprestasi, untuk mendominasi, bahkan menjajah. Tetapi semua apapun berada di bawah dan kalah oleh “nasib” atau “takdir” atau kehendak Maha Segala Kekuatan itu.

Tidak ada apapun yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia kecuali atas tiga keputusan-Nya: memerintahkannya, mengizinkannya atau membiarkannya, atau bahkan mendorong ketersesatannya. Masalah manusia terletak pada pencarian yang terus-menerus untuk memahami kapan Allah memerintahkan sesuatu atasnya, kapan mengizinkan insiatif manusia, serta kapan membiarkan perilaku manusia meskipun sedhalim dan sekejam apapun.

Apa saja alasan dan asal-usul Allah sehingga mentakdirkan atau memerintahkan. Apa saja kondisi perilaku manusia sehingga diizinkan untuk melakukan sesuatu. Serta apa saja faktor-faktor yang terdapat pada kebudayaan, politik atau peradaban manusia, yang membuat Allah membiarkan kekejaman manusia atas sesamanya. Tentu bukan membiarkan dalam arti meridhai kekejaman itu: itu soal irama, waktu, strategi, penundaan atau entah apa rahasia-Nya.

Pakde Sundusin memberi tekanan: andaikan Ummat Islam bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan dirinya menjadi Ummah Wahidah, mungkinkah Allah menyesatkan mereka?

Ummatan wahidah adalah kohesi antar sel di satu benda atau badan. Yasyuddu ba’dluhum ba’dla antar pondasi, tiang pancang, tembok-tembok, besi-besi cor, seluruh ragangan bangunan, kepatuhan kepada gravitasi oleh semua anasir yang mendukung bangunan itu. Meskipun kebanyakan unsur yang memperkuat berdiri dan tegaknya bangunan itu biasanya justru tidak tampak dari luar.

Sama sekali tidak mudah untuk menjadi Ummah Wahidah. Misalnya karena “la ikraha fiddin”, karena “kemerdekaan tafsir”, “hak untuk bermadzhab”, “relativitas kebenaran manusia di lorong sangat jauh menuju kebenaran sejatinya Allah”. Belum lagi beratnya kehidupan bisa membuat manusia diseret oleh keterpaksaan untuk mempertahankan penghidupan, sampai pun menjadi budak kekufuran atau minimal berkompromi terhadap kedhaliman.