Daur (208)

Gagah Perkasa dan Pendusta

Ta’qid : “Terutama kepada bangsa Indonesia yang tidak punya pemimpin, yang tidak mengerti apa itu pemimpin dan tidak mengerti bahwa mereka butuh belajar membedakan antara pemimpin dengan penguasa, pejabat, petinggi, atau pendusta”

Kiai Sudrun, sosok tua, Saimon, juga Tarmihim Sundusin dan rata-rata orang di sekitar Markesot, semua mengaku tidak tega kepada Markesot. Tidak tega dalam tema, kadar, dan gradasi yang berbeda-beda. Di balik itu secara tersirat juga termuat maksud untuk menyelamatkan Markesot di hari tuanya.

Yang terakhir itu diam-diam sebenarnya membuat Markesot agak tersinggung.

Ketika suatu malam Sundusin dan Tarmihim datang untuk menjajagi rencana-rencana bersama sejumlah teman yang lain, di tengah obrolan, tiba-tiba Markesot nyeletuk: “Saya perhatikan beberapa kali kalian datang ini, ekspresi wajah dan gerak-gerik kalian kok seperti sedang mengunjungi pasien di Rumah Sakit…”

Tarmihim dan Sundusin spontan saling melirik, bersikap salah tingkah dan tidak bisa menemukan kata akan menjawab bagaimana.

“Apakah wajah saya kelihatan pucat, badan saya tampak loyo lemas seperti orang sakit?”

“Ah, ndak, Cak Sot”, Tarmihim menjawab.

“Saya ndak ngerti maksud Cak Sot”, Sundusin menambahi.

“Wajah kalian seperti orang terharu, ekspresi kalian memancarkan rasa kasihan. Hal apa pada saya yang membuat kalian terharu dan kasihan?”

Keduanya terdiam.

“Bahwa saya melangkah semakin mendekat ke kematian, itu pasti. Tapi apakah seharusnya hal itu mengundang rasa iba, terharu dan kasihan?”

“Ndak ah, Cak Sot”, kata Tarmihim.

“Ooo…”, sambung Markesot, “karena saya semakin tua? Wajah saya makin keriput? Gerak-gerik saya tidak lincah lagi seperti dulu? Atau apa? Kalian menangkap apa pada saya? Apakah ada sesuatu yang berasal dari lubuk kedalaman jiwa saya yang membuat kalian bersikap seperti menghadapi pasien di Unit Gawat Darurat?”

“Maaf kalau Sampeyan punya kesan seperti itu”, kata Sundusin, “tapi kami tidak mengerti bahwa ada hal-hal semacam itu”

“Apakah kalian menyangka bahwa karena saya ini Markesot, maka dimerdekakan Tuhan dari proses penuaan? Allah memperkenankan saya berwajah seperti pemuda belia di usia kakek-kakek sekarang ini?”

“Jangan gitu, Cak Sot”, Tarmihim makin kebingungan.

“Kalian tidak tega apanya pada hidup saya?”, Markesot terus mencecar, “Karena saya hidup sendirian? Kesepian? Tidak punya apa-apa, tidak menjadi apa-apa? Bahkan tidak ada masa depan kecuali menantikan saat maut tiba?”

“Cak Sot mohon jangan terlalu mendalam dan terlalu jauh menyangka kami seperti itu”, Sundusin mencoba meredakan.

“Apakah puluhan tahun kalian mengenal saya, pernah menjumpai hal-hal yang sekarang membuat kalian merasa tidak tega, bahkan ada semacam nuansa ingin menyelamatkan saya? Apakah kalian pernah menemukan bahwa bagi saya sedemikian pentingnya diri saya ini? Apakah kalian pernah merasakan bahwa saya merasa tertekan oleh urusan saya ini apa dan siapa, hidup jaya atau gagal, menjadi kaya atau miskin, kariernya menanjak atau mandeg, pencapaiannya apa di tengah masyarakat. Tidak cukupkah tiga puluh tahun waktu untuk meyakinkan bahwa pandangan saya tentang kehidupan benar-benar tidak sama dengan pandangan kebanyakan orang? Tidakkah kalian pernah menjadi sungguh-sungguh percaya bahwa audiens hidup saya adalah Tuhan?”

“Sangat percaya, Cak Sot”, kata Sundusin.

“Sejak awal dulu banget kami percaya itu”, tambah Tarmihim.

“Kalian tahu persis meskipun saya tidak terpelajar, bukan Santri apalagi Kiai, tetapi kalau jungkar-jungkir sembahyang sumpah saya kan sama dengan semua orang lainnya yang bersembahyang: ‘Aku menghadapkan wajahku kepada Yang Maha Menciptakan Langit dan Bumi… Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata untuk Maha Pengasuh alam semesta…’ — Apakah kalian pernah mengira bahwa saya membohongi Tuhan? Membohongi-Nya terus-menerus? Sehari sekian kali? Kalian pikir saya manusia hebat kuat gagah perkasa sehingga punya keberanian untuk berdusta kepada Yang Maha Menguasai hidup saya?”

“Ya, Cak Sot”

“Semua yang saya lakukan selama ini justru berpijak pada rasa tidak tega kepada ummat manusia. Terutama kepada bangsa Indonesia yang tidak punya pemimpin, yang tidak mengerti apa itu pemimpin dan tidak mengerti bahwa mereka butuh belajar membedakan antara pemimpin dengan penguasa, pejabat, petinggi, atau pendusta. Tidak tega kepada kepada rakyat kalian semua ini yang terbengkalai posisinya tanpa berkesudahan, yang semakin lama semakin dibodohi tanpa pernah mengerti bahwa mereka dibodohi. Rakyat yang benar-benar tidak mengerti posisinya, kadar kuasanya, kekuatan dan kewenangannya, yang semakin lama diperburuhkan oleh buruh-buruhnya, diperbudak oleh budak-budak upahannya, didustai oleh orang-orang yang mereka nafkahi, diperdaya oleh orang-orang yang mereka junjung dan mereka kasih kemakmuran. Rakyat yang semakin tidak memahami apa yang semestinya mereka pahami. Tidak berjuang untuk mengetahui apa yang mereka buta dan bodoh terhadapnya. Tidak mempelajari apa yang mereka perlukan untuk mereka pelajari…”

“Kalau Sampeyan sudah ngomong sampai kesitu, kepala saya senut-senut, Cak Sot”, Tarmihim tertawa.