Daur (117)

Freedom of Jin’s Speech

“Waduh”, kata Saimon, “terus terang saya tidak berani bicara seperti itu di kalangan masyarakat Jin. Apalagi kalau pas ada para Ulama Jin. Saya bisa diusir karena dituduh sesat pikir….”

Markesot tertawa. “Bicara apa? Yang mana?”

“Ya itu tadi: Baginda Adam, Iblis menyamar, acting seakan Malaikat, tidak ada yang terkutuk di sorga, tidak ada pohon larangan….”

“Emang kenapa?”

“Ah, gimana tho. Imajinasinya terlalu jauh, analisisnya terlalu liar. Memang logis sih, tapi sebenarnya daya pikir manusia tidak mungkin sampai ke wilayah itu. Hipotesis-hipotesis yang dihasilkan bisa lucu atau berbahaya”

“Sepertinya kamu sendiri yang bersikap seperti yang kamu khawatirkan. Para Ulama Jin mestinya jauh lebih berpengalaman dibanding manusia, sehingga tidak akan geram atau mencak-mencak mendengar hal-hal semacam itu”

“Siapa bilang”

“Jam terbang Jin kan lebih tinggi dibanding manusia. Kalian lebih dulu takjub kepada Al-Qur`an dibanding manusia. Juga habitat dan pengembaraan ilmu kalian lebih luas dibanding manusia yang serba materiil dan penuh batas”

“Nggak lah. Ummat manusia kan selalu yakin dengan kesimpulan mereka bahwa Jin yang terpandai sepadan dengan manusia yang terbodoh”

“Ah, kamu sok merendahkan diri. Kan Tuhan selalu menyebut Jin dulu baru manusia di hampir semua kalimat-kalimat firman-Nya. Pasukan Baginda Raja Sulaiman juga utamanya dan jumlah terbanyaknya adalah Jin. Baru kemudian manusia dan burung-burung”

“Saya tahu kamu sedang memprovokasi saya. Pasti tujuanmu agar saya mulai bicara yang gitu-gitu di masyarakat saya, sehingga mereka akan gerah, para pemimpin kami akan marah, dan bisa-bisa saya diusir dari dunia Jin. Sementara kalau saya diusir benar, tidak mungkin saya mengungsi ke dunia manusia. Apalagi Ustadz-Ustadz manusia rata-rata punya hobi mengusir Jin. Bahkan di-shooting segala dan ditayangkan lewat layar-layar televisi”

Markesot tertawa lagi. “Ya kamu tinggal di rumah kontrakan saya kan bisa”, katanya.

“Itu lebih celaka lagi bagi saya”, Saimon membalas tertawa Markesot.

“Kalau saya sih berani-berani saja”, kata Markesot kemudian, “Saya bebas berekspresi di kalangan manusia. Ada yang namanya Freedom of Speech”

“Benar. Sudah lama saya melakukan penelitian tentang itu”, kata Saimon, “Manusia bebas berekspresi, kecuali pas tidak bebas. Manusia bebas bicara, kecuali pas tidak bebas”

“Jangan sinis, Mon. Saya sendiri mengalami dalam jangka waktu yang sangat lama bahwa saya bebas berbicara. Tak pernah saya mengalami akibat buruk apapun dari kebebasan itu. Jadi tidak ada apapun dari dunia manusia yang saya takutkan”

“Hebat kamu, Sot”, kata Saimon.

“Kalau hebat ya nggak juga”, tegas Markesot, “tetapi memang benar-benar tidak ada yang perlu saya khawatirkan dari dunia manusia”

“Kamu omong apa saja boleh?”

“Yaah begitulah”

“Budaya dialog masyarakat manusia sudah sangat demokratis?”

“Kira-kira demikian”

“Dewasa, matang dan arif?”

“Boleh juga disimpulkan begitu”

“Pantas kamu krasan menemani mereka tanpa pernah surut”

“Bagaimana tidak krasan. Kepada kebanyakan manusia saya bicara apa saja tidak berakibat apa-apa”

“Dahsyat”, sahut Saimon.

“Tidak berbahaya, dan tidak juga ada manfaatnya”

“Lho…”

“Kenapa semua pernyataan atau ekspresi saya tidak pernah ada bahayanya bagi mereka, juga tidak ada manfaatnya, itu ada sebabnya”

“Misalnya?”

“Sebenarnya mereka tidak pernah sungguh-sungguh paham apa yang saya ungkapkan, sehingga tidak menyentuh apa-apa pada mereka. Jadi sama sekali tidak berbahaya”

“Kalau tidak ada sentuhan apa-apa kepada mereka, berarti tidak ada gunanya juga dong?”

“Lha ya itu yang saya bilang”

“Oooh kasihan kamu….”

“Tidak usah kasihan. Kehadiran dan sumbangsih pemikiran saya tidak berbahaya sekaligus tidak berguna bagi kehidupan manusia, itu bukan faktor yang utama”

“Jadi?”

“Yang paling penting adalah bahwa saya tidak dikenal di kalangan manusia. Ummat manusia tidak mengenal saya. Sehingga juga tidak pernah merasa bahwa saya ada dalam kehidupan mereka. Apalagi mendengarkan celotah-celoteh saya….”

“Oalah…”, kata Saimon, “Itu bukan kasihan lagi, Sot. Kamu bunuh diri saja lebih afdhal”

“Diri mana yang harus saya bunuh?”, Tanya Markesot.

“Terserah kamu mau bunuh Markesot yang mana. Atau semua saja sekalian, daripada gagal tugas dan nir-guna”

“Apakah Markesot itu ada, sehingga bisa dibunuh?”

Saimon tertawa lepas, melonjak-lonjak, menari-nari buruk. “Ternyata sama saja manusia atau Jin atau makhluk lainya….”

“Sama gimana”

“Kalau frustrasi lantas berfilsafat”

“Bangsat kamu”

“Kalau lelah berfilsafat, terus berpuisi”

“Tengik kamu”

“Kalu lelah berpuisi, lantas tidur”

“Dasar Jin kamu”

“Tapi karena dengan kondisi frustrasi kamu tidak bisa tidur, maka satu-satunya jalan adalah pura-pura tidur, dan itu yang kamu lakukan tadi di depanku”

“Menyun kamu”

“Semua manusia membangun kebanggaan kosong. Mereka selalu meyakini bahwa mereka lebih unggul dari Jin. Sekarang terbukti Jin yang tergolong tidak terpelajar seperti saya bisa mengalahkan kamu dengan sangat mudah”

“Sudah sangat lama saya bercerai dari urusan menang dan kalah”, Markesot membela diri.

“Itulah keanehan manusia. Tiap saat gila ingin unggul, ingin besar, ingin jaya, ingin menang, tetapi di babak final selalu kalah”

“Saya ulang sekali lagi: Sudah sangat lama saya bercerai dari urusan memang dan kalah”

“Lho, kamu manusia tho?”

“Apa penting saya ini manusia atau bukan”

“Aneh kamu ini”

“Apanya yang aneh?”

“Lha selama ini kamu siapa?”