Daur (120)

Fitnah Zaman

Saimon menuduh, sekurang-kurangnya menilai, bahwa makhluk yang bernama manusia itu aneh, karena cenderung berlaku tidak sebagaimana dirinya. Apa maksudnya?

Markesot tidak menanyakannya. Bahkan tidak tampak bahwa ia peduli terhadap pidato panjang Saimon. Markesot berdiri tegak, dengan dua tangan terjatuh ke bawah, wajahnya lurus menghadap ke arah selatan, sedikit sebelah kanannya gunung yang berdiri tegar dalam keremangan.

Berdirinya seperti orang yang sedang siap-siap melakukan sembahyang. Tapi menghadap ke selatan? Sembahyang apa itu, kalau yang dipandang nun jauh di depan adalah laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul, si Nawangwulan, atau Nyi Roro Kidul, si Nawangsih?

Dulu pernah ada fitnah zaman yang menyangkut tokoh laut selatan ini. Yakni tatkala Gunung Merapi diwajibkan untuk mengalami kesedihan yang mendalam. Ketika ia dijadwal oleh pengurus dari Langit untuk merayakan hajatnya, mengekspresikan kemurahan hatinya, menyampaikan titipan kesejahteraan dari Tuhan kepada manusia penduduk di sekitarnya — mulut Merapi harus menghembuskan asap panas, yang manusia di sekitarnya menyebutnya “wedus gembel”.

Asap itu harus dipanasi enam kali lipat dari suhu air mendidih, dan hembusannya harus meluncurkannya dengan kecepatan separuh dari lajunya pesawat terbang. Yang membuat Merapi sangat bersedih adalah bahwa ia harus turut mengantarkan sahabat karibnya, seorang Sepuh yang sareh dan cerdas, untuk berpindah tugas dan maqam dari dunia yang hina dina ini beralih ke wilayah tugas berikutnya.

Merapi minta izin untuk menunggu sampai Mbah Sepuh itu selesai bersembahyang Isya di Masjid yang beliau dirikan, kemudian beliau pulang ke rumah, menuju dapur, mengambil kendi dan meminum airnya. Dengan perasaan yang penuh rasa tidak tega, hembusan asap Merapi melibas jasad Mbah Sepuh, sementara Baginda Izrail menarik nyawa beliau untuk diaplikasikan dalam penugasan yang baru.

Meskipun Merapi berhasil untuk tidak membakar jasad beliau yang dibungkus oleh kulitnya, tidak membakar sehelai rambut beliau pun, bahkan tidak merobek atau meluluhkan sarung maupun baju batik beliau — tetapi Merapi, karena kegalauan hatinya, tidak waspada untuk memperhitungkan ke arah mana tubuh Mbah Sepuh dirobohkan.

Sudah bisa dilaksanakan sesuatu rencana bahwa badan Mbah Sepuh roboh ke tanah dalam keadaan bersujud. Tetapi kurang diwaspadai arahnya. Merapi menyesal setengah mati sampai menangis berhari-hari, ketika dilihatnya Mbah Sepuh ternyata bersujud menghadap ke arah selatan. Sebenarnya sangat mudah bagi Merapi untuk membuat hembusan asapnya di dapur rumah Mbah Sepuh itu berputar sedemikian rupa sehingga mengubah sujud beliau menjadi bergeser ke arah kiblat. Tetapi itu menyalahi sunnah Tuhan.

Kenapa menyalahi hukum dan perintah Tuhan? Karena kalau sekumpulan asap diarahkan atau diputar ke arah yang berbenturan dengan shaf-shaf gelombang asap secara keseluruhan, itu berarti anomali atau curian keajaiban. Dan itu bukan otoritas Merapi.

Di dalam manajemen sosial, dimungkinkan tindakan kolusi dan nepotis, tetapi di antara sesama makhluk tidak ada hak untuk melakukannya. Hanya Tuhan yang memiliki hak itu. Nepotisme dan kolusi tidak pasti sesuatu yang buruk, karena faktornya bukan pada peristiwa itu sendiri, melainkan pada proporsi pelaku-pelakunya. Hubungan Cinta Segi Tiga antara Tuhan, Muhammad dan para pengikutnya dalam beberapa hal bersifat nepotistik dan kolusial: seorang hamba yang semestinya masuk neraka, bisa menjadi masuk sorga, apabila ditawar oleh Muhammad kepada Tuhan, berdasarkan kadar dan kualitas timbal balik cinta di antara ketiganya. Itu yang dinamakan syafaat.

Sebagaimana tindakan membunuh, misalnya. Jangan pernah menyimpulkan bahwa Baginda Izroil adalah pembunuh massal, dengan rekor tertinggi dari segala macam peristiwa pembunuhan di segala zaman. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan adalah Dzat yang maha kejam karena mentakdirkan Gunung untuk meletus dan menelan ribuan jiwa, merusak rumah-rumah dan apa saja di wilayah letusan itu.

Manusia harus belajar proporsi otoritas, logika dan sebab akibat antara Tuhan dengan makhluk-makhluknya. Kalau ada seorang anak perempuan diperkosa beramai-ramai, kemudian dibunuh, dimutilasi dan dibuang di dalam hutan — jangan menantang kehidupan dengan sesumbar: “Mana Tuhan kalian? Kenapa Ia tidak mampu melindungi perempuan itu dari perkosaan dan pembunuhan?”

Tetapi memang banyak sekali manusia yang berhitungnya adalah memahami hidup di dunia ini adalah segala-galanya. Di dunia inilah babak penyisihan hingga babak final dan pengumuman kejuaraannya. Kebanyakan manusia tidak serius mendengarkan kata “akhirat”, “sorga” atau “neraka”. Sehingga tidak bisa tersentuh oleh kenyataan bahwa perempuan yang diperkosa itu oleh Tuhan bukan hanya tidak dihitung dosa dan kesalahannya. Lebih dari itu ia diangkat sangat tinggi derajatnya di kehidupan berikutnya, ditempatkan berdekatan dengan para Rasul, Nabi, Auliya dan para kekasih Allah lainnya.

Bagi siapa saja di antara manusia yang tidak menghitung bahwa hidup di dunia ini sekadar jalan pendek yang ditempuh, sekadar rumah singgah sementara, sekadar peluang perjuangan untuk membangun kehidupan yang sejati dan mendirikan rumah yang abadi — disarankan agar jangan berbuat baik, karena toh tidak ada akselerasinya ke rentang waktu yang panjang ke depan. Dianjurkan untuk merampok saja sebanyak-banyaknya, kalau perlu membunuh dan memusnahkan apa saja sesuai dengan ambisi dan nafsunya. Toh tidak ada Tuhan, tidak ada akhirat, tidak ada dosa, tidak ada dialektika antara sekarang dengan kelak, tidak ada kausalitas antara Dunia dengan Akhirat.

Tetapi bagi manusia yang menjalani hidupnya dengan perhitungan panjang Dunia dan Akhirat, hendaklah tetap santun, sayang dan menolong siapa saja meskipun mereka tidak percaya kepada Tuhan dan akhirat. Sebab pertolongan dan kasih sayang para pengikut Tuhan akan mengendarai resonansi dan alunan gelombang dinamika cintanya hingga ke kesejatian dan keabadian. Tidak hanya kholidina fiha, tidak hanya kekal. Tapi bahkan juga abada. Abadi.

Merapi yang menyesali telah berlaku sembrono sehingga Mbah Sepuh bersujud menghadap ke selatan, dimuliakan Tuhan karena penyesalannya.  Bahkan Tuhan menyiapkan hiburan bagi hatinya sejak jauh-jauh zaman sebelumnya dengan firman “Kebaikan bukanlah menghadapkan wajahmu ke Timur atau ke Barat. Akan tetapi kebaikan adalah beriman kepada Tuhan, hari kemudian, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya….”, dan seterusnya.

Bereslah urusan Merapi dengan Tuhannya. Sebagaimana Gunung Uhud yang menawarkan kepada Nabi Muhammad untuk menggugurkan batu-batunya agar menimpa mereka yang melukai pundak dan leher Baginda Nabi. Beliau Muhammad menolaknya, kecuali itu adalah perintah Allah. Tetapi tawaran Uhud itu sudah membuat Tuhan memuliakannya.

Al-Uhudu jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhu”, kata Rasulullah. Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita mencintainya. Maka, “Al-Merapi jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhu….

Tetapi yang disebut “fitnah zaman” di atas adalah sebagian orang-orang yang berada jauh dari Merapi bertanya: “Ooo jadi Mbah Sepuh itu bersujud ke arah selatan karena menyembah Kanjeng Ratu Kidul?”