Catatan Ngaji Bareng Suronan, Gemolong Sragen 8 Oktober 2016

Filosofi Tata Letak Alat Musik KiaiKanjeng

Formasi alat musik KiaiKanjeng seperti memberi contoh bagaimana hubungan antara kontinuasi dan adopsi sebaiknya dibangun.

Lapangan Merdeka Ngalangak Gemolong yang basah dan sebagian berlumpur menyambut kedatangan KiaiKanjeng sore ini pukul 16.45. Saat tiba, di panggung sedang berlangsungvgladi resik anak-anak TPA Ar-Roudhoh yang nanti akan mementaskan drama. Bersamaan dengan itu, sebagian warga kampung dan orangtua mereka ikut meramaikan suasana persiapan acara. Kebetulan hujan sudah mulai mereda, meskipun masih rintik-rintik.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Alat-alat musik KiaiKanjeng sendiri pun sudah tertata sejak siang tadi, dan menunggu para empunya datang. Mungkin jarang ada yang bertanya tentang mengapa tata letak alat-alat musik KiaiKanjeng seperti itu. Seperangkat gamelan ada di paling depan, baru kemudian di belakangnya adalah alat-alat seperti drum, keyboard, gitar, bass, biola, dan lain-lain. Ternyata ini bukan sembarang formasi. Ada makna di baliknya.

Foto: Yudhis.
Foto: Yudhis.

Menurut Pak Bobiet, formasi di mana dua saron dua demung dan satu buah kendang dan bonang berada di tempat paling depan menggambarkan bahwa musik KiaiKanjeng mengedepankan apa yang kita punya dari khasanah asli nenak moyang bangsa kita. Peranti yang sejatinya merupakan buah peradaban panjang dan tua, jauh lebih tua dari yang modern. Karenanya, alat-alat musik modern yang ada di barisan belakang “mengabdi” kepada gamelan. Tak hanya secara fisik dalam tata letaknya, dalam hal aransemen pun, musik-musik KiaiKanjeng mengacu kepada bunyi dan musikalitas gamelan yang digubah oleh Pak Nevi Budianto ini. Formasi alat-alat musik KiaiKanjeng seperti memberi contoh bagaimana hubungan antara kontinuasi dan adopsi sebaiknya dibangun. (hm/adn)