Eskatologi Hidup Wajib Abadi

Dalam dua bulan terakhir ini pada pertemuan-pertemuan Maiyahan, Cak Nun cukup intens mengemukakan pemahamannya tentang kholidina fiha abada (kekal di dalamnya dan abadi). Lebih dari sekadar mengingatkan bahwa hidup manusia tak sebatas pada jengkal ruang waktu di dunia ini, Cak Nun mengingatkan bahwa sesudah mengalami transformasi melalui kematian, manusia akan memasuki tahap selanjutnya yakni akhirat dan di sana akan berlangsung secara kekal dan abadi, sebuah kekekalan dan keabadian yang dikehendaki oleh Allah. Karena dikehendaki oleh Allah, maka keabadian itu akan mengenai siapapun, dan tak seorang pun bisa mbolos atau mangkir darinya. Itulah yang Cak Nun sebut sebagai wajib abadi. Manusia wajib hidup abadi.

Dalam kajian ilmiah, pembahasan mengenai kehidupan pasca kematian di dunia ini lazim disebut dengan eskatologi. Yaitu bagian dari teologi atau filsafat yang membahas kejadian nun jauh di masa depan atau peristiwa akhir yang bakal dialami manusia, termasuk hidup sesudah mati, kiamat, surga, dan neraka.

Berbarengan dengan Cak Nun menguraikan tafsir dan pembahasan mengenai kholidina fiha abada ini, saya kebetulan sedang membaca sebuah buku yang terbit enam belas tahun silam (2000) berjudul Life After Death: Hidup Setelah Mati: Studi Mengenai Hidup Akhirat dalam Agama-Agama Dunia karya Farnáz Ma’súmián, seorang Iran yang mengajar di Universitas Texas, Austin. Buku ini merupakan salah satu kajian eskatologis. Menariknya, kajian ini bersifat komparatif dengan menghadirkan secara ringkas konsep-konsep hidup sesudah mati atau akhirat menurut berbagai agama. Ada sejumlah perbedaan, tetapi juga terdapat beberapa kesamaan di antara agama-agama itu dalam memahami kehidupan akhirat.

Di dalam ulasan-ulasannya, Farnás menyajikan eskatologi pribadi dan eskatologi umum. Dalam konsepsi Islam, pada eskatologi pribadi, digambarkan apa dan bagaimana kehidupan di alam barzakh yang dialami oleh setiap orang dan apa yang dialaminya itu akan bergantung pada perbuatannya di dunia. Mereka juga akan menghadapi pertanyaan kubur oleh malaikat Munkar dan Nakir. Siapa yang di masa hidup di dunianya banyak melakukan amal kebajikan, dia akan menuai keadaan yang baik di alam kubur. Pun sebaliknya. Penjelasan yang sama persis dengan yang sering kita terima sebagai bagian dari pendidikan keimanan sejak kecil.

Kemudian pada eskatologi umum, diuraikan beberapa tahap selanjutnya yaitu kebangkitan menuju pengadilan atau penghakiman untuk semua manusia oleh Tuhan, dan fase berikutnya adalah memasuki kehidupan surga dan neraka. Dalam hal ini surga dan neraka dilukiskan sebagaimana al-Quran mengungkapkannya dengan bahasa alam dunia berupa beragam kenikmatan, kenyamanan, dan kepuasan. Kenikmatan apapun akan diperoleh oleh para penghuni surga. Demikian pula sebaliknya dengan neraka yang menakutkan. Para penghuninya mendapatkan aneka siksaan yang pedih dan mengerikan. Fárnas menyitir dengan baik ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang surga dan neraka. Dan khusus mengenai kenikmatan surga, kenikmatan dan keindahan yang paling puncak adalah tatkala penghuni surga dapat memandang wajah-Nya. Wujuhuwin yaumaidzin naadliroh. Ila robbiha naadhiroh. (QS: 75: 22-23).

Agak penasaran apakah ada pembahasan tentang kholidina fiha abada di dalamnya? Ternyata tidak dibahas secara khusus kholidina fiha abada ini, yang notabene merupakan sifat dari kehidupan di surga dan neraka yang merupakan kelanjutan dari garis perjalanan panjang kehidupan manusia. Mungkin karena kebutuhan buku ini sebatas menguraikan secara global saja, di mana di situ telah digambarkan secara umum kehidupan sesudah mati, surga, dan neraka, dan beberapa hal terkait dengan kejadian-kejadian menjelang kiamat yaitu datangnya Dajjal dan turun kembalinya Isa al-Masih.

Kita mungkin perlu membaca lebih banyak lagi literatur atau kajian eskatologis lainnya untuk mengetahui seberapa banyak konsep-konsep yang telah dibicarakan menyangkut kehidupan akhirat. Dan bila dari kajian-kajian itu belum terdapat perhatian secara khusus dan mendalam mengenai kholidina fiha abada, maka di sinilah salah satu arti penting Maiyahan dalam beberapa kesempatan terakhir ini, yakni kontribusi Cak Nun memperhatikan apa yang selama ini kurang diperhatikan, untuk kemudian menjadi titik berat dalam memahami perjalanan manusia, dan menjadi suatu filsafat yang baru yang sama sekali belum dirasakan betul-betul sebagai suatu kesadaran.

Selama ini perhatian kita mungkin lebih tertuju pada surga dan nerakanya –bagaimana kejadian kehidupan di dalamnya–, tapi bukan pada sifat kholidina fiha abada-nya (kekekalan dan keabadian) yang melekat padanya. Dan ternyata, bila fokus diarahkan pada kekekalan dan keabadian, kita bisa memperoleh suatu konstruksi kesadaran baru yang barangkali diperlukan untuk mengurangi kebekuan dan kesempitan alam berpikir yang sengaja atau tak sengaja menimpa hidup manusia modern saat ini, baik karena beban materialisme maupun konsentrasi kegolongan yang berlebihan, dan sebab-sebab lainnya.

Jika diingat-ingat kembali, pemahaman yang dikedepankan Cak Nun kepada jamaah Maiyah ihwal kholidina fiha abada ini dapat dikatakan merupakan puncak (setidaknya sampai saat ini) dari penjelasan-penjelasan Beliau tentang ‘akhirat sebagai tujuan dan dunia sekadar tidak lupa saja’ (dan kebanyakan kita terbalik memosisikannya), ‘dunia bukan tempat membangun, tapi di surga nanti membangunnya’, ‘dunia bukan tempat mencapai (prestasi)’, dan ‘setelah mati manusia akan dihidupkan lagi’ (artinya punya atau pindah tugas baru), yang kesemuanya juga disampaikan dalam pertemuan-pertemuan Maiyahan.

Cak Nun merasakan pesan dan tekanan dari ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang akhirat bahwa Allah menghendaki manusia hidup dalam bentangan yang bernama kekekalan dan keabadian, sebagaimana terkandung dalam kata kholidina fiha abada. Dan hal itu perlu disadari betul terlebih di tengah kecenderungan kita yang batas kesadaran waktunya sangat pendek. Bahwa hidup tak hanya yang di dunia ini. Masih ada perjalanan panjang selanjutnya, dan kesibukan yang sedemikian rupa di dunia ini sangat mudah membawa manusia untuk tak sempat mengingat, memiliki, dan meneguhkan kesadaran itu.

Dalam berbagai kesempatan Maiyahan, bersama beragam tema yang harus direspons dan menjadi pintu pembelajaran, Cak Nun mengajak jamaah dan masyarakat untuk nyetel hati dan pikiran serta sikap batin yang kompatibel dengan kesadaran kekekalan dan keabadian itu. Apa-apa yang terjadi dan dialami ditimbang, dihayati, dan disikapi dengan sudut pandang kekekalan dan keabadian. Setiap laku dan tindakan yang dikerjakannya memasuki logika dan semesta keabadian. Proyeksi-proyeksi, cicilan, dan cicipan rasa akan keabadian dan kekekalan itu pun sudah coba dicari miniatur atau contoh wujudunya dalam kehidupan saat ini.

Dengan titik berat, tekanan, dan penajaman penghayatan pada kholidina fiha abada, jika benar kajian-kajian eskatologis selama ini belum menyentuhnya sebagai salah satu fokus pendalaman, maka Maiyahan menyumbangkan titik baru perhatian pada bidang atau kajian eskatologis yang uniknya itu terdiskusikan atau terdiseminasikan di tengah-tengah masyarakat umum yang luas, bukan pada forum akademis resmi, sehingga menghasilkan mozaik dan corak tersendiri. Dari forum-forum Maiyahan itu pula, titik tekan akan kholidina fiha abada ini juga sekaligus menambah kekayaan cara dan rute dalam mengingatkan kita semua akan kehidupan akhirat, yang merupakan masa depan setiap manusia.