Energi Sulthan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Allah menciptakan alam semesta bertahap enam (6) ‘hari’ (pakai tanda petik, karena hari-nya Allah bukan hari kita).

Orang Maiyah membaca sesuatu sekaligus di satu saat, kemudian membacanya terus setiap saat, dan menjalaninya di semua saat.

Tetapi berpikir, merenungi dan men-tadabbur-inya secara bertahap dari saat ke saat. Misalnya memilih per-putaran tujuh.

***

Radite, Ahad, hari pertama:  Melihat dari Dunia

Siapakah Anda di antara sejumlah tiga di bawah ini, atau pada diri Anda terdapat prosentase potensial atau praksis-faktual di antara ketiganya:

Pertama, orang yang menguasai dunia, memperbudak para penduduk dunia, yang kemudian digilas oleh penguasa dunia berikutnya.

Kedua, orang yang dikuasai dunia, menyembah keduniaan dan menjadi budak para penguasa dunia.

Ketiga, orang yang tidak menguasai dunia, tetapi memiliki pertahanan untuk tidak dikuasai oleh dunia, tidak menjadi budak para penguasa dunia, dan tidak bergerak untuk menjadi penguasa dunia yang memperbudak para penduduk dunia.

***

Soma, Senin, hari kedua:  Melihat dari Diri

Pertama, orang yang menguasai dunia di luar dirinya, tetapi dikuasai oleh dunia di dalam dirinya.

Kedua, orang yang dikuasai oleh dunia di dan dari luar dirinya, juga dikuasai oleh dunia di dan dari dalam dirinya.

Ketiga, orang yang tidak menguasai dunia di luar dirinya, tetapi menguasai dunia di dalam dirinya, sehingga mampu menegakkan kedaulatan dan kemandirian untuk tidak dikuasai oleh dunia di dan dari luar dirinya.

***

Anggoro, Selasa, hari ketiga:  Melihat dari Langit

Pertama, orang yang menguasai dunia di Bumi, yang kekuasaannya tidak berkaitan dengan Langit, yang Dunianya tidak mengakses ke Akhirat, yang kekuasaannya sangat dibatasi oleh ukuran usianya, yang resonansi dan akselerasi (jariyah)nya sesudah mati akan menimpanya di Langit dan Akhirat tanpa ia bisa melakukan apa-apa lagi.

Kedua, orang yang dikuasai oleh dunia di Bumi, yang menyerah sebagai budak dunia di luar maupun di dalam dirinya, yang kecemasannya terhadap Langit dan Akirat dibayar dengan persembahan peribadatan simbol-simbol (identitas keagamaan, pakaian dan penampilan, ibadah sebagai dempul atau sumpel), sambil memposisikan Tuhan sebagai alat untuk mencapai keberhasilan keduniaan, nyengkiwing Agama sebagai kapital, Islam sebagai komoditas.

Ketiga, orang yang kakinya berpijak di Bumi tapi melangkah di jalanan (shirat, thariq, syari’) Langit, yang jasadnya di Dunia tapi hatinya di Akhirat, yang tidak membangun Dunia dan penguasaan atas Dunia, yang sepanjang hidupnya di tahap Dunia ia mengumpulkan dan menghimpun bahan-bahan untuk menegakkan Langit dan membangun rumah sejati dan abadi di Akhirat.

***

Budho, Rabu, hari keempat:  Melihat dari Angkasa

Penduduk Bumi sedang memasuki Revolusi Industri ke-IV: Cyber Technology. Nyawa industri dan kapitalisme diganti oleh teknologi baru yang ‘terlalu cepat’ lajunya. Penguasa dunia kemarin ambruk hari ini. Dawet dan Janggelan online. Robot nyingkal nggaru. Montor nyetir dewe. Kuliah 6 tahun diganti browsing seminggu. Legalitas ijazah Sekolah diungguli kepakaran praksis. Yang sekarang perlente pethitha-pethithi, beberapa tahun ke depan mlorot.

Bangunan besar abad-20 hancur di abad-21. Putra-putri kita ada yang mengakselerasi dirinya dari abad-20 ke abad-21. Orang Maiyah harus lebih detail: 2017, 2020, 2024, 2030 hingga 2045 ke atas. Karena yang tinggal serumah dengan Orang Maiyah ada yang masih menikmati abad-20, ada yang bertahan di abad-19, bahkan abad-14. Pertumbuhan eksponsional yang baru menjadi benalu dan kanker di jasad lama, benalu akan menjadi pohon, kanker akan menjadi tubuh itu sendiri. Kalau pakai bahasa Maiyah: ada yang sedang menuju surup, ada yang menuju fajar. Itu dalam semua arti dan pembidangan: kekuasaan politik, nasib sosial, integritas pribadi, posisi di depan Allah dan lain sebagainya.

Orang-orang tua Maiyah yang baik memberi pesan agar anak-anak cucu-cucu disiapkan empat hal: (1) Aqidah dan Akhlaq, (2) Pembiasaan Disiplin Militer, (3) Konstruksi Akuntansi atau Muhasabah Kehidupan, serta (4) Penguasaan terhadap Cyber Technology.

Di Maiyahan orang-orang Maiyah belajar Energi Sulthan.

***

Respati, Kamis, hari kelima:  Melihat dari Bulatan Semesta

Kalau ada kata atau apapun yang baru, misalnya ‘energi sulthan’, orang Maiyah tidak gumunan, tidak kagetan, tidak mudah terpukau, tidak terseret oleh pesona yang mungkin diperolehnya. Ia tetap bertahan pada hati-hakiki dan presisi-akal. Jiwanya tidak mudah ‘masuk angin’ dan ‘demam’.

Orang Maiyah mengalami dan mengelola kehidupan dunia untuk menghimpun perangkat-perangkat yang diperlukan untuk membangun rumah kekal-abadi (kholidina abada) di sorga, dengan terlebih dulu diujikan di hadapan Tuan Rumah Sejati dunia dan akhirat.

Dunia dihormati dan dicintai sewajar maqam-nya oleh Orang Maiyah, tetapi tidak mungkin kekerdilan dunia dijadikan tujuan perjalanan mereka. Maka kesenangan dan kekayaan dunia semewah apapun tidak memabukkan mereka. Penderitaan dan kemiskinan se-menindih apapun atau kengerian se-menusuk apapun dari kehidupan dunia, tidak membuat cengeng perasaan mereka, tidak membuat akal mereka ambruk, serta tidak membuat jiwa mereka lumpuh.

Bahkan letusan gunung, longsornya tanah, memuting-beliungnya angin, meluapnya air lautan, membanjirnya air, luluh lantaknya segala yang kasat mata, musnahnya Negara dan apapun bikinan manusia, bahkanpun mendadaknya Kiamat tiba – tidak melunturkan iman dan cinta mereka kepada Tuhan dan kekasih pilihan-Nya.

Maka tatkala Orang Maiyah mendengar ‘energi sulthan’, mereka maupun ia masing-masing, tidak terjebak untuk meng-klenik-kannya, tidak terpeleset untuk men-seram-seramkannya ke dalam dirinya maupun keluar dirinya. Orang Maiyah berkenalan dengan idiom itu dengan kewaspadaan akal, kejernihan nurani, kelembutan jiwa.

***

Sukro, Jum’at, hari bersama:  Melihat dari Ma’iyah Ma’allah

Mataair Energi Sulthan adalah tantangan Allah: “Wahai Jin dan Manusia, kalau kalian sanggup menembus lapisan-lapisan langit dan bumi, maka tembuslan. Tetapi kalian tidak akan sanggup menembusnya kecuali dengan sulthan”.

Di dalam tradisi standar pemahaman Islam semua dianjurkan untuk berpijak pada “La haula wa quwwata illa billahil-‘aliyyil ‘adhim”. Seluruh yang berlangsung di Bumi sejak ekspansi penjajahan mulai abad 16, memuncak ilmu dan teknologi penjajagannya di abad 18 dengan dajjalisme Renaissance, tercapai praksis kolonialisme global itu dengan Kerajaan Ottoman ditawur oleh Sekutu Barat di awal abad-20, kemudian sempurna pada Arab Spring awal abad-21, dan hari ini kekuasaan global dari Utara memusatkan penjajahan ya’juj ma’juj-nya ke kepulauan Nusantara istimewanya Pulau Jawa – semua itu berada dalam lingkup haul wa quwwah yang disebut dalam kalimat di atas.

Orang Maiyah belajar mengatahui bahwa penjajahan era mutakhir itu sasarannya adalah ‘Rumah Iblis’, tempat di mana Malaikat Izrail mengambil tanah liat atau lempung untuk mematung tapel Adam atas perintah Allah. Dan di tanah itu, Muhammad dengan Nur-nya sudah hadir sejak tujuh abad silam. Para penduduk pulau dan kepulauan itu berdaulat untuk memilih untuk menjadi bagian penuh dari densitas negatif Iblis, ataukah bergabung bersama Orang Maiyah di dalam ‘energi sulthan’ Muhammad untuk menaklukkan dan mengelola arus negatif listrik Iblis.

Barang siapa menolak menjadi budak kekuasaan Utara, harus memastikan penguasaan ilmu dan lelakunya di wilayah haul wa quwwah dunia. Harus siap tanding di Cyber Technologi dan Kemunafikan Politik Global. Itu jihad minimal pelaku dan anak-cucu Maiyah.

Tetapi insyaallah Orang Maiyah dengan iman dan husnudhdhon kepada ‘sign’ atau amtsal ayat Allah, Orang Maiyah memasukkan dirinya ke dalam bulatan kesadaran “La haula wala quwwata wala sulthana illa billahil’aliyyil ‘adhim”. Orang Maiyah bergerak bersama mencari, menuju dan harapan memperoleh perkenan Allah untuk diberkahi ‘energi sulthan’. Apa itu?

Yakni proses ijtihad yang berkonteks Bumi-Langit atau Dunia-Akhirat sekaligus. Yakni ikhitar untuk menguasai Dunia, minimal di dalam dirinya sendiri, menghimpun perangkat-perangkat untuk bangunan sejati Akhirat. Yakni memastikan diri tidak penjadi budak, pekatik atau bolo dhupakan di injakan kaki penjajah. Yakni perilaku kreatif terus menerus dan tradisi istiqamatu akhlaqil-karimah yang membuat ‘prestasi’ Orang Maiyah di Dunia berada di dalam anugerah kemenangan (al-fath) dari Allah: (1) Nyata sebagai kemenangan menurut parameter Allah, (2) Mendapat ampunan atas dosa yang lalu dan mendatang, (3) Disempurnakan nikmat Maiyah oleh Allah, (4) Dituntun oleh hidayah shirathal-mustaqim sepanjang hari, bulan dan tahun, (5) Jika Allah mengizinkan Orang Maiyah dibentur persoalan, Allah menolong mereka dengan pertolongan yang agung, tidak sekedar pertolongan.

Tumpak, Sabtu, hari sendiri, nyepi:  Berbaring atau sèndèn, menarik nafas panjang.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Emha Ainun Nadjib, 27 Mei 2016