Catatan Ngaji Bareng Sedekah Bumi, Bojonegoro 21 Oktober 2016

Enam Jam Segar Sampai Akhir

Hampir enam jam para jamaah itu berada di sini, menyimak, mengikuti, dan menikmati kebersamaan. Mereka semua tetap terlihat segar sampai acara berakhir.

Beberapa menit lagi waktu sudah merambah pukul 01.00 dini hari. Jamaah masih bertahan seperti biasa. Cak Nun pun selalu stabil dan konstan energinya. Beliau masih menjawab beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Tadi juga sudah dihadirkan lagu atas request yaitu Ruang Rindu Letto yang dinyanyikan oleh Mas Doni dan cukup meriah keikutsertaan anak-anak muda itu. Anak-anak muda yang sebagiannya berpeci laiknya santri dan yang putri berkerudung. Mereka menikmati lagu “pop” Letto yang dbawakan Donni sang vokalis yang tanpa peci.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Nomor berikut yang dihadirkan adalah In Jabartum Kasro Qolbi oleh Mbak Nia dan Laksmana Raja Di Laut oleh Mbak Yuli. Pak Camat, Pak Kades, dan Ketua Panitia juga setia mengikuti acara, melihat langsung ketahanan jamaah yang tak kunjung menurun. Cak Nun sendiri membayangkan betapa akan sangat lama kalau mesti berjabat tangan satu per satu, alangkah indah kalau hati saling bisa ikhlas berjabat tangan di hati, tapi seringkali tak bisa.

Bersegera mengakhiri perjumpaan ini, Cak Nun meminta Mbak Yuli Mbak Nia membawakan Shalawat Badar ala Sumenep, dan kemudian Ngaji Bareng ini dipuncaki dengan doa bersama. Panitia menyampaikan terima kasih atas kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam puncak rangkaian kegiatan Sedekah Bumi di Dusun Bandar ini. Tentang sedekah bumi ini, Cak Nun sempat menyinggung bahwa sedekah bumi adalah kesadaran menyedekahkan rahmat Allah yaitu bumi atau sesuatu dari bumi.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Jamaah mengalir terus menyalami Cak Nun dan pemuka masyarakat di pungkasan acara ini. Dan lagi-lagi KiaiKanjeng mengiringi dengan alunan-alunan lagu yang berkarakter kuat dan khas. Saat jeda antar lagu, terdengar para jamaah yang sedang bersalaman ini melantunkan shalawat Allahumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad Ya Robbi Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad. KiaiKanjeng pun segera menyusulinya dengan lirik penuh ajakan berjudul “Ngantri Imam”.

Sudah hampir enam jam para jamaah itu berada di sini, menyimak, mengikuti, dan menikmati kebersamaan kemesraan di lapangan Bandar dan mereka semua tetap terlihat segar sampai acara berakhir dan satu per satu berjabat tangan. (hm/adn)