Catatan Sinau Bareng Pameran Kaligrafi Nusantara, 28 September 2016

Enaknya Sinau Seni di Maiyah

Jangan dibikin sulit. Masyarakat juga diajak untuk mulai sekarang merasa bahwa galeri itu milik mereka, bukan milik orang dengan kelas tertentu.

Ada hal-hal dalam diskusi seni rupa yang bikin mbentoyong dan berat, biasanya karena kengototan pada kutub-kutub yang dipertentangkan. Atau dua kutub yang dipertanya-tanyakan terus, sehingga seakan tak ada jalan yang mudah untuk memahami sesuatu. Satu dua pertanyaan muncul dari dan terkait soal kutub ini. Misalnya tentang hubungan antara lukisan dengan orang yang menonton lukisan. Ini bisa merupakan urusan filsafat dan psikologi yang rumit.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tetapi kepada anak muda yang bertanya itu, Cak Nun mencoba memberikan kunci yang sederhana saja. Pertama,  di hadapan lukisan, kita berposisi menikmati dan menafsirkan. Kedua, kita bisa memilih antara mempelajari lukisannya atau berkonsetrasi pada mempelajari pelukisnya. Tinggal pilih saja yang mana. Jangan dibikin sulit. Masyarakat juga diajak untuk mulai sekarang merasa bahwa galeri itu milik mereka (masyarakat), bukan milik orang dengan kelas tertentu. Kepada Langit Art Space pun saran yang sama juga disampaikan Cak Nun. “Neng galeri awakmu iso golek lukisan, iso ndelok-ndelok lukisan, utowo neng galeri dinggo ngilangke stress…,” ujar Cak Nun kepada hadirin menyegarkan. (hm/adn)