Daur (21)

Empat Huruf Yang Mengatasi Demokrasi dan Tuhan

Kekuatan besar dunia terus mempermainkan ummat manusia dengan melemparkan hati dan pikiran mereka di sungai-sungai isu yang berganti-ganti: Islam musuh baru sesudah komunisme, Arab Spring, Islam teroris, provokasi terencana untuk membuat Kaum Muslimin sedunia bermusuhan, kemudian beberapa level isu, bom pura-pura hingga tema Wandu.

Kuharap anak-cucuku dan para jm tak usah membawa pembicaraan kita ini ke lapangan Indonesia dan dunia. Ini bisik-bisik pribadi, aku kepada anak cucu dan para JM. Dunia dan Indonesia sangat kuat dan berkuasa. Maka kalian kalau bisa berupaya agar jangan sampai dikuati dan dikuasai. Kalian harus kuat dan berkuasa atas diri dan kehidupan kalian sendiri.

Kalau bisa jangan sampai terhanyut dan tenggelam oleh tipu daya global atau nasional apapun. Maka selalu kutuliskan secara khusus dan berkala berbagai hal untuk itu, syukur menjadi bekal untuk tidak terjajah oleh beribu tipu daya yang membanjiri kiri kananmu. Semata-mata buat anak cucuku dan Jamaah Maiyah.

Sebenarnya jadwalku hari ini meneruskan ‘PR’ lanjutan tulisan terutama perang terhadap kata dan simpul-simpul masyarakat Jin. Tetapi alangkah menderitanya hatiku hari ini!

Hidup di dunia yang diciptakan sangat indah oleh Tuhan namun dibusukkan dan dikumuhkan oleh peradaban ummat manusia yang penuh ketidakadilan dan keserakahan. Dan aku tersandera untuk turut meramu obat untuk penyakit-penyakit yang seharusnya tak perlu ada. Ikut mencarikan jalan keluar atas persoalan-persoalan yang sesungguhnya bisa tidak usah ada. Dipaksa berkata, menyusun kalimat, menguraikan dan menjelaskan berbagai hal-hal yang semestinya tidak perlu ada penjelasan apa-apa.

Hidup puluhan tahun di tepian jauh alam semesta dilepas oleh Tuhan dengan tugas untuk mengembara mencari kunci demi kunci untuk membuka pintu-pintu rahasia-Nya. Untuk meraba apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh-Nya. Mendengarkan bisikan-bisikan kesunyian untuk menemukan apa hakekat kemauan-Nya, bagaimana alur skenario-Nya, apakah sudah mendekati babak final skrip-Nya, ataukah masih jauh jauuuh di seberang cakrawala.

Tiba-tiba hari ini aku harus menuliskan sesuatu yang sangat merusak keindahan yang sudah terbangun sangat lama di kedalaman jiwaku. Dunia dipenuhi oleh sampah-sampah hasil kerusakan akhlak, oleh kemalasan dan kegelapan berpikir, oleh barang-barang dan peristiwa-peristiwa hina produk dari keserakahan manusia, serta oleh berbagai jenis kekonyolan, kesempitan dan kedangkalan — yang awalnya terasa menggelikan, kemudian menyebalkan, dan akhirnya memuakkan.

Mendadak aku diinstruksikan untuk menulis tentang Wandu. Betapa sengsaranya hatiku.

***

Wandu itu banci. Banci itu kelamin syubhat. Kemudian sebenarnya tidak ada kelamin syubhat, tapi ditakhayuli oleh api nafsu yang menyamar sebagai hak alamiah. Lantas diambil alih oleh akulturasi budaya di mana manusia tidak memiliki kontrol apapun untuk memahaminya dan untuk menghindari terjebak terkurung dan diaduk-aduk oleh hakekat pembiasaan budaya itu.

Bahkan kemudian dilegitimasi oleh kekuasaan politik melalui legalitas hukum. Dan sesungguhnya apa yang ditandatangani dan disebar-sebarkan itu tidaklah ada kaitannya dengan politik dan hukum, melainkan berhubungan dengan niat perapuhan atas suatu kelompok masyarakat atau bangsa. Perapuhan, pemecah-belahan, pengkebirian intelektual dan mental. Dan pangkal hajat yang tersembunyi di belakang itu semua adalah skenario perampokan harta, penjambretan kekayaan bumi di wilayah yang skala dan titik-titik koordinatnya sudah digambar di lembar kertas perencanaan penjajahan.

Akhirnya hari ini semua orang di sekitarku senegara beserta beberapa masyarakat di beberapa negara target lainnya, disibukkan oleh empat huruf yang heboh. Empat huruf yang dibiayai oleh persatuan bangsa-bangsa untuk disosialisasi secara khusus sejak Desember dua tahun kemarin hingga September tahun depan. Empat huruf yang di sejumlah negara besar di muka bumi semua orang harus berpendapat sama tentangnya.

Empat huruf yang barangsiapa tidak menyetujuinya maka ia akan dihina dan dihardik. Empat huruf yang lebih tinggi kekuasaan nilainya dibanding Demokrasi dan Freedom of Speech. Empat huruf yang dibela total oleh Hak Asasi Manusia. Empat huruf yang hakekat kehadirannya bahkan “harus dipatuhi oleh Tuhan”…. Empat huruf yang mengubah sejarah penciptaan makhluk-makhluk dan alam semesta. Empat huruf yang menambah lembaran catatan bahwa dulu Tuhan tidak hanya menciptakan Adam dan Hawa, tapi juga Hawa dan Syahba, serta Adam dan Karta.

***

Ummat manusia semakin tidak percaya dan tidak merasa perlu meneliti batas dan jarak antara sunnatullah atau ciptaan otentik alamiah dengan gejala budaya, interaksi kultur, fenomena akulturasi dan pergesekan pengaruh di dalam kebudayaan kolektif manusia. Tidak bisa dan tidak mau memperhatikan dan melihat perbedaan antara setan dari luar dengan setan dari dalam dirinya sendiri, “alladzi yuwaswisu fi shudurinnas, minal jinnati wannas”. Tidak mampu dan tidak bersedia menemukan pilah dan garis-urai antara ruh dengan nafsu, antara semangat hati dengan gejolak api, antara cinta dengan kebinatangan, antara kesucian dengan pelampiasan.

Maka ummat manusia, terutama yang terpelajar, sudah tidak memerlukan pertimbangan mendasar tentang apa yang harus dijalankan dan apa yang wajib tidak dijalankan. Apa yang layak dijunjung dan apa yang seharusnya dihentikan. Apa yang bermasa depan untuk dianjurkan dan diaktivasikan secara sosial, serta apa yang tidak bisa ditumbuhkan, tidak akan memuai menjadi pohon dan daun-daun, serta sama sekali tidak akan pernah berbuah manfaat apapun bagi kehidupan.

Para aktivis empat huruf itu tidak menemukan apapun di dalam dirinya kecuali segumpal benda yang berhakekat maut, segumpal sosok semu atau sekepulan asap khoyal yang baginya itu merupakan kekayaan tertinggi dalam hidupnya. Ia lindungi sisa kekayaan itu dengan kotak baja hak asasi manusia. Bahkan ia takut kehilangan gumpalan asap itu kalau beberapa saat saja ia menoleh melihat apa sebenarnya asal-usul semua itu. Juga merasa akan kehilangan cinta semu yang berperan sangat nyata di hati takhayulnya itu jika ia menatap cakrawala masa depan yang jauh, tak usah masa depan dan regenerasi seluruh ummat manusia — bahkanpun sekedar masa depan dirinya sendiri dengan pasangannya.

***

Jika aku punya hak dan boleh memilih, takkan kutuliskan hal ini. Maka jika aku menuliskannya, tidaklah sama sekali kumaksudkan untuk para empat huruf, bahkan juga tidak untuk masyarakat, bangsa atau ummat manusia.

Aku menulis hanya untuk anak-anakku cucu-cucuku. Maka kubikin tidak gamblang, tidak mudah dicerna, tidak seperti mangga yang sudah kukuliti kuirisi dan kusuguhkan di atas meja.

Aku menyampaikan kepada anak-anak cucu-cucuku bukan buah mangga, melainkan pelok, bijih-nya. Tidak untuk dimakan, melainkan untuk ditanam di sawah ladang akal pikiran, untuk diperkebunkan di semesta wawasan ilmu dan pengetahuan, untuk disirami dengan kecerdasan dan disuburkan dengan menjaga persambungan dengan Maha Sumber Ilmu.

Ya Khuntsa.

Ya Mukhonnats.

Ya ayyuhal AlMukhnitsin.

Ya Luthy…. orang menyebut mereka Qoumu Luth, alias Luthy…. Tapi aku tak setuju sebutan itu. Mereka bukan kaum Luth, karena Nabiyullah Luth yang ma’shum tidaklah sama sekali mengajarkan kedangkalan, kesempitan, kesepenggalan dan kekonyolan itu.

Bahkan Yu Sumi, Guk Urip dan Mas Bardi, yang oleh Allah disandera dalam cinta yang berupa ujian hakiki alami berpotensi lebih besar untsa-nya atau dzakar-nya, feminitas atau maskulinitasnya — bukanlah warga empat huruf.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
23 Februari 2016