Reportase Maiyah Dusun Ambengan 16 April 2016

Emansipasi La Raiba Fih

Ini perempuan sekarang. Bentar-bentar emansipasi. Emansipasi taek. Coba ikuti baju Kartini yang pakai kebaya, bahannya ratu sripit, kainnya sidomukti.

Komitmen Maiyah Dusun Ambengan, dengan mulai rutinnya menggelar Maiyahan setiap Sabtu malam pada minggu kedua setiap bulan, semakin kokoh menapak dan menunjukkan konsistensinya. Yaitu, mengusung tema-tema terkait masalah yang dihadapi masyarakat di perdesaan, sebagaimana tema-tema yang menyentuh kebutuhan dasar manusia seperti pangan, kesehatan, pendidikan, energi dari berbagai sisi, itu secara khusus diwasiatkan oleh Sifat Maiyah, Kiai Tohar.

Tema Emansipasi La Raiba Fih, 16 April 2016, digagas seiring dengan peringatan hari Kartini, 21 April, ternyata mampu memiliki dampak kejut yang luar biasa. Mengejawantah dengan menyulut kesadaran kaum ibu di Desa Margototo dan desa-desa sekitar, bahkan secara umum di Lampung Timur dan Provinsi Lampung untuk benar-benar terlibat.

Teridentifikasi bahwa jamaah yang mengikuti Maiyah Ambengan mulai beragam, berasal dari berbagai wilayah Lampung Timur seperti kecamatan Batanghari, Pekalongan, Purbolinggo, Way Jepara, Braja Selebah, Mataram Baru, Sribawono, Sekampung Udik, Sekampung. Juga jamaah dari Kabupaten/Kota provinsi Lampung antara lain Kota Metro, Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Barat, dan Tanggamus.

Maiyah Dusun Ambengan edisi April 2016
Maiyah Dusun Ambengan edisi April 2016

Sementara warga di lingkungan Rumah Hati Lampung – sebagai lokasi Maiyah Dusun Ambengan – mereka bukan saja sekadar hadir, berbicara dan mewarnai diskusi pada malam harinya, akan tetapi keguyuban semakin terasa kental dan memadat seiring bersemainya nilai-nilai maiyah didalam kesadaran batin mereka. Bahkan, beberapa ibu, sebagaimana diungkap dalam Mukadimah, ternyata makin terbiasa untuk rewang. Gotong royong sejak siang hari untuk menyiapkan kudapan khas desa. Ada iwel-iwel, atau kue berbahan singkong yang digiling lembut kemudian dikukus dengan masing-masing dibungkus daun pisang, ada pisang rebusnya juga, pepaya, dan tentu, minuman teh serta kopi panas. Terlihat beberapa kali ditambah sebab, jamaah ada yang menyeruput kopi hingga menandaskan dua gelas.

Termasuk, kartini-kartini desa itu sibuk menyiapkan makan ‘saur’ jamaah yang luar biasa. Ada nasi, tiwul, sambal terasi, tumis kacang, ikan asin, tempe goreng, oseng pare, kerupuk, serta yang banyak dipuji jamaah, gudeg khas Lampung. Sayur dari nangka yang berbeda dengan gudeg asal Yogyakarta baik rasa maupun metoda olahnya. Sayur nangka muda di pedalaman Lampung lebih tepat disebut opor, direbus dengan santan kelapa yang kental, paduan yang sempurna dimakan bersama nasi tiwul. Rasanya, pedas, berikut asin dan gurihnya sangat melekat di lidah. Beberapa jamaah bahkan tak sungkan-sungkan, tambah.

Bang Dion dan Bang Anton yang biasanya kurang suka masakan manis pedas khas warga desa, saling bersahut komentar.  “Ini bukan sekadar makanan orang desa, ini adalah santapan penuh berkah yang dimasak dengan rewang dan keikhlasan para Kartini”.

Para ibu yang terlibat memasak, membuat kue, menyedu kopi, itu ternyata mampu mengambil peran, ada yang membaca puisi, pembicara, juga beberapa di antaranya memberi interupsi ketika majelis Maiyah Dusun Ambengan dimulai tepat pada pukul 20.00. Peserta yang interupsi itu salah satunya Mbak Erna, sebagai ibu muda, dia tak ingin majelis ini hanya sekadar diskusi tanpa rencana tindak lanjut yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang dialami para Kartini desa. Misalnya, dibuat kelompok kerajinan penganan atau kerajinan tangan yang melibatkan ibu-ibu desa agar tidak terus-terusan terlilit kemiskinan. Inisiasi semacam membuat kopi ambengan, klanting dan semacamnya, mencoba terus digagas dan bakal dipraktekkan sebagai upaya penyadaran untuk bangkit dengan daya upaya sendiri. Beberapa anggota DPRD yang hadir, juga diminta bisa memfasilitasinya.

Kartini-Kartini Desa

SEBELUM Mas Syamsul Arifien yang akrab disapa Cak Sul memimpin jalannya “kebersamaan”, Mas Saif mengimami tadarus Al Quran. Lalu Mas Kendar memberikan laporan tentang perkembangan Sekolah Sepak Bola (SSB) Astama, dan Mas Tjipto melaporkan kegiatan dari amal sosial donor darah gratis (Monitor Artis). SSB dan Monitor Artis adalah dua bidang layanan sosial masyarakat yang dinaungi Maiyah Dusun Ambengan karena dorongan tentang pentingnya melahirkan amal shaleh bagi jamaah.

Acara dibuka dengan pagelaran musik Jamus Kalimasada, membawakan tembang-tembang shalawat yang digubah Kiai Kanjeng. Hadir rombongan jamaah dari Gereja Santo Bantul, Kota Metro. Sepuluh muda-mudi itu berpartisipasi dalam tembang pembuka bersamaan dengan salawat yang dibawakan vokalis Jamus Kalimasada Mas Aqil, jamaah tersebut maju ke depan membawakan lagu “Malam Kudus”.

Memulai acara, Cak Sul mengajak semua jamaah untuk berdiri, memegang gelas dan piring kecil wadah kuenya masing-masing. “Semua dipegang, dipegang, gelas teh dan kopi, serta cemilan itu simbol kesederhanaan dan energi positif kita. Itulah rezeki, yang sudah pasti. Semoga berkah, mampu menambah energi lahir dan batin kita untuk 2 sampai 3 jam ke depan.”

Bersama Kartini-Kartini Desa
Bersama Kartini-Kartini Desa

Semua jamaah merapatkan barisan. Kemudian Cak Sul mengajak dengan permenungan-permenungan untuk meneguhkan pancaran gelombang cinta yang meminjam bahasa simbah Emha Ainun Nadjib sebagai Dzat Maiyah, meneguhkan sikap kalau “Indonesia bagian dari Desa Saya”.

Kartini-kartini dari desa, tidak kalah dengan perjuangan RA Kartini. Bahkan bisa dibilang jauh lebih kompleks dan berat sebab berjuang mengisi kemerdekaan dengan masih menyimpan pertanyaan retorik, yang belum sepenuhnya bebas dari belenggu penjajah.

Kita di sini, kata Cak Sul (meminjam istilah Gus Sabrang Mowo Damar Panuluh – Noe), untuk mencari kebenaran sejati, bukan mengklaim dan merebut kebenaran. Atau merasa benar sendiri-sendiri. Lalu suara “Tarkim” dikumandangkan.

Mempermenungkan kisah Kartini itu, majelis Maiyah Dusun Ambengan menghadirkan Kartini-Kartini desa yang sudah duduk di depan jamaah. Bu Tri, Mbak Yuni, Mbak Khoir, dan Mbokde Kartini. Semua jamaah setelah mendapat penjelasan dan apa itu makna maiyah, bersama-sama menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. “Ibu kita Kartini, pendekar bangsa pendekar kaumnya, untuk merdeka….”

Cak Sul memancing dengan mempertanyakan makna kemerdekaan terkait kedaulatan-kedaulatan diri. Banyak pribadi-pribadi kita masih terjajah di kedalaman jiwanya, dari sikap ujub, dan berbagai penjajahan batin lain.

Suasana gembira setelah mendengar berbagai tembang milik Kiai Kanjeng seperti Bangbang Wetan, dan celetukan-celetukan jenaka tiba-tiba berubah murung, setelah Cak Sul mengisahkan hidup pribadinya di bawah asuhan Kartini Desa yang luar biasa. Sebagai seorang anak yatim sejak kecil. Lazimnya anak desa lain, hidup dalam kubangan kemelaratan.

Saya anak tunggal, ibu saya janda, sudah almarhumah sekarang. Makanan saya, pisang mentah, sekolah tak pernah pakai seragam dan sering disetrap. Sebab, hari Senin, pakai baju pramuka celananya biru. Itu pun dari minjam. SPP tak pernah terbayar. Ini penting untuk teman-teman, anak-anak kita agar tidak mbagusi. Sok dan penuh gaya. Ibu saya itu benar-benar Kartini yang luar biasa, dengan keterbatasan mampu mendidik saya penuh cinta hingga seperti sekarang ini. Terlihat raut sedih dan gemetar dalam ucapan-ucapan Cak Sul.

Bu Tri, sebagai pembicara pertama mengaku, tugas utamanya, ibu rumah tangga tapi punya tugas tambahan yang juga tak kalah serius ketika mengerjakannya. Yakni, mengajar di SMA Negeri 1 Metro Kibang.

Bu Tri menceritakan pentingnya paham dan masuk ke dunia masa kini. Seperti soal hape. Ponsel anak saya itu isinya apa saja, saya harus tahu dan mau belajar. Memaknai emansipasi, menurut dia sangat penting terutama dalam kaitan menguasai tekhnologi. Akan tetapi jangan salah, Kartini di desa itu, meski punya aktivitas di luar rumah, bangun tidur sudah menyiapkan sarapan, kopi berikut baju. “Sak sempak-sempake, disiapne.” Semua demi melayani dan menetapi kodrat sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Semua disiapkan. Kalau laki-laki, berangkat kerja ya langsung berangkat saja. Ini bedanya.

Bu Tri yang baru pertama kali hadir di majelis Maiyah Dusun Ambengan, mengaku terkejut. “Kok ada ngaceng, asu, anak-anakku yang hadir di komunitas ini, jangan salah memahami ya,” pesan Bu Tri yang kemudian dengan mahir menyampaikan pesan-pesan moral bagi jamaah, tentang makna emansipasi. Termasuk membawakan lagu Armada, Bukan yang Pertama demi emansipasi, agar tak salah kaprah. Agar bisa mengawal anak-anak bujangnya supaya tidak salah melangkah. Tiga anaknya, lelaki semua, memaksa Bu Tri masuk ke alam anak lelaki. Memang, menurut Cak Sul, kalau mau tahu benar, tentunya harus paham apa yang salah.

Merespon kata “ngaceng dan asu” itu, yang ditingkahi dengan gelak tawa sebagian jamaah dan sebagian jamaah lainnya tampak kaget, Cak Sul mencoba memperhalus dengan pelurusan maknawi. “Ojo gampang rusuh ati atau salah paham. Ngaceng itu artinya ngadeke sing kenceng, punya pendirian yang jelas. Tidak gampang terombang-ambing. Hidup harus jejek, punya cita-cita harus tegak. Sehingga nanti menjadi Anak-anak Sukses alias ASU”.

Lalu Mbak Yuni, sebagai pembicara kedua. Menceritakan pengalamannya sebagai tenaga kerja di luar negeri atau Buruh Migran Indonesia. Sebagai aktivis di SBMI, Mbak Yuni mengisahkan deretan kesedihan saudara-saudara kita, terutama perempuan dari desa yang mengadu nasib ke luar negeri.

Bahkan bersama kita di sini, hadir saudari kita yang pernah mengalami penyiksaan dan pemerkosaan. Sedangkan mbak Yuni sendiri sempat menunjukkan jari tangannya yang pritil, akibat kecelakaan kerja di Malaysia.

Semua jamaah melongok, mencari pembenaran apa yang diucapkan Mbak Yuni. Hingga diajaklah maju ke depan. Suasana sempat hening beberapa saat, benar-benar menjadi puncak kesedihan, Mbak Yuni terisak. Jelas sekali beliau menangis. Kemudian menjelaskan, korban perdagangan orang sebenarnya tidak hanya menimpa kaum perempuan saja, laki-laki juga banyak yang jadi korban trafficking. “Tapi korban yang perempuan, mereka disiksa, diperkosa….” Mbak Yuni menghentikan suaranya.

Mbak Yuni yang hanya lulusan SMP itu, bisa secara detil menggambarkan beratnya perjuangan kaum ibu di perdesaan, yang merantau dan yang bekerja menjadi tulang punggung keluarga. Termasuk menggunakan “bahasa tumbuh-tumbuhan”, sindiran yang diberikan Mbokde Kartini untuk istilah-istilah asing yang diucapkan Mbak Yuni.

“Saya mohon maaf bukan lulusan perguruan tinggi, saya hanya lulusan SMP tapi saya banyak belajar dari pengalaman, ya maaf kalau bahasanya kurang tertata,” kata Mbak Yuni. Kehadiran beliau benar-benar mengejutkan. Jamaah mendapat cerita-cerita pilu terkait perjuangan kartini-kartini desa yang merantau.

Kemudian, pembicara ketiga, Mbokde Kartini Binti Jepang. “Perkenalkan saya Kartini yang ndusun. Saya jauh-jauh dari Lampung Selatan, diundang ke sini karena nama saya Kartini dan lahir saya tepat 21 April seribu sembilan ratus hihi malu saya. Saya anaknya Pak Jepang,” kata dia yang disambut tawa jamaah membuka pembicaraan.

Mbokde Kartini, dengan suara khas pedagang sayur di pasar dan hidup di perdesaan, membuatnya tak terlihat sedikitpun mengguratkan kesedihan meski jika melihat kehidupannya sehari-hari, jauh lebih memilukan dibanding kisah-kisah sinetron di televisi. Bahkan, beliau dengan suara khasnya mampu memicu tawa.

Kompak, jamaah bersama-sama gembira sekaligus mentertawakan segala kesulitan dan belitan masalah dalam hidup. “Sebagai Kartini Ndeso, saya ya tidak mau kalau dibilang hanya bertugas di dapur dan kasur tok. Ya meski tidak bisa bahasa tumbuh-tumbuhan kayak Kartini-Kartini di sebelah saya ini.”

Kartini Ndeso, menurut dia jauh lebih dalam mengurai bahwa hidup itu tidak enak, hidup itu susah. Bagi saya, tidak seperti yang di kota-kota. “Tapi saya berpesan pada anak-anak saya, jangan minder.”

Apa usahamu? Potong Cak Sul. “Aku isin kalau menceritakan usahaku.” Dialog-dialog jenaka dan mentertawakan kehidupan desa, dilakukan Cak Sul dan Mbokde Kartini. “Jadi perempuan itu, selain di rumah, perempuan desa itu bisa membantu perekonomian kelurga juga, demi anak-anak agar bisa sekolah tinggi, agar tidak seperti ibunya,” pesan Mbokde.

Sayangnya, Mbokde Kartini memilih undur duluan sebelum sesi tanya jawab sebab anaknya yang masih kecil terlihat menangis.

Tiga pembicara Kartini-Kartini desa itu, membuat pembicara keempat, Mbak Khoir, sekadar memberikan rangkuman pemahaman atas emansipasi dan banyak mengeksplore perjuangan Kartini-Kartini desa masa kini. Mbak Khoir yang notabene Ketua Bawaslu Provinsi Lampung, justru terlibat menceritakan kemurungan. “Saya juga lahir di desa, namanya Desa Teluk Dalam, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur. Ibu saya sama dengan Mbokde Kartini, dagang di pasar yang jauh. Berangkatnya subuh. Beliau adalah Kartini, pejuang bagi kehidupan saya, alhamdulillah bisa menyekolahkan saya,” ujarnya.

Mbak Khoir yang kedua kalinya membersamai Maiyah Dusun Ambengan ini mengaku bangga, duduk bersama Kartini-Kartini desa yang luar biasa. Kartini-Kartini yang sesungguhnya dan ada sebagai bukti perempuan bukan sekadar kanca wingking. Bukan wanita yang bermakna wani ditata. Melainkan, wani menata. Lebih sebagai penata rumah tangga, penata kehidupan, penata semesta untuk benar-benar harmoni.

Emansipasi itu, menurut dia, tidak serta merta kesamaan dengan lelaki. Kalau lelaki nyangkul, perempuan tidak perlu sama haru bisa nyangkul. Melainkan potensi yang mampu berperan ganda yang fungsinya saling melengkapi.

Sesi dialog, dibuka dengan penanggap pertama dari Bang Fanzir. Dia lebih menyoal pentingnya membuat skala prioritas pembangunan yang harus dilakukan pemerintah. “Paparan dan kisah hidup para kartini desa itu, membuat kita miris. Memang sebaiknya kita harus berpikir bangkit dari dan dengan upaya sendiri. Meski sebaiknya, pemerintah mulai menghentikan pengiriman TKI”.

Nada provokasi dari Bang Fanzir, justru dijadikan candaan Cak Sul. Agar warga desa itu jangan diajak demo karena setiap denyut nadi hidupnya, warga di perdesaan sudah berunjuk rasa pada pemerintah. Sesekali bahkan, melawan hukum alam hanya untuk bertahan hidup, agar anak-anaknya bisa sekolah dan bisa hidup lebih baik dibanding orang tuanya.

Penanggap kedua, Mbak Dewi. Salah satu Kartini desa ini justru mengungkap kejadian yang membuat jamaah terbengong-bengong. “Saya lahir dan besar dari didikan tiga kartini sekaligus. Tiga Kartini yang luar biasa.”

Bayangkan, permen saja yang bisa dibeli di warung, kalau dibagi-bagi pasti ada unsur tidak ikhlasnya. “Lha ini paribasane mbur rokok sebatang, dibagi orang tiga,” kata Mbak Dewi yang membuat jamaah tertawa.

Akan tetapi, lanjut dia, ini bukan untuk dicontoh ya. Saya yakin tidak ada yang mampu lagi seperti keluarga saya. Tiga istri bapak saya itu benar-benar kartini yang sangat mulia. Hidup berdekatan dan tidak pernah terdengar ribut-ribut. Bahkan, saling mempersilahkan madunya, jika bapak berangkat tidur atau mau makan. Tidak ada keributan. “Dek, bapak mau makan itu dilayani dulu atau Yuk, itu bapak sudah ke kamar, monggo ditemani dulu.” Itu semua, diungkapkan di depan anak-anaknya. Anak bapak saya ada 19 orang. Tidak ada juga yang ribut-ribut rebutan warisan. Kenapa? Karena tiga Kartini saya adalah perempuan-perempuan luar biasa. “Sekali lagi, tapi jangan dicontoh.”

Cak Sul juga nyletuk, kamu juga jangan dendam terus gantian nyari tiga batang rokok. Semua jamaah tertawa. Mbak Dewi malah menanggapi santai, lha satu saja gak habis-habis, Cak.

Mbak Dewi kemudian menjelaskan, bagaimana kehilangan dirinya ketika ibunya meninggal. Meski yang meninggal adalah istri pertama dan dia sendiri anak dari istri ketiga, namun rasa kehilangan itu sangat terasa. Sama seperti kehilangan ibu kandung sendiri.

Untuk itu, jangan diajari kedamaian, bagaimana berbagi, saling memberi, berterima kasih dan tulusnya melayani keluarga pada orang desa. Semua itu, karena peran dan banyaknya kiprah Kartini-Kartini desa yang tangguh dan luar biasa seperti tiga ibu saya.

Makna Emansipasi

KEGEMBIRAAN Maiyah Dusun Ambengan terus berlanjut meski yang didedah adalah kejadian-kejadian memilukan dan kelaziman sulitnya hidup yang dihadapi warga desa. Namun, lepas acara, tidak ada wajah-wajah putus asa. Semua terjadi sebagaimana adanya dan sebagaimana mestinya. Sebab, nurut Cak Sul, kejujuran menerima fakta-fakta adalah jiwa dasar kegembiraan.

Pondasi dalam keluarga di perdesaan memang kuat, baik dan sesuai kaidah agama. “Akan tetapi dengan siapa anak-anak bergaul, juga ternyata penting diwaspadai,” jelas Bu Tri.

Soal nasib anak jika ditinggal merantau, Mbak Yuni menjelaskan, SBMI itu bukan organisasi atau perusahaan yang merekrut tenaga kerja. Melainkan hanya lembaga yang mengadvokasi tenaga kerja. “Jika terpaksa meninggalkan anak, menitipkan anak pada kiyai atau di ponpes menurut saya lebih tepat. Tapi yang perlu diingat, kalau istrinya kerja di luar negeri, suami kita kebanyakan jual pete. Yaitu, petentengan. Kawin lagi dan sebagainya.”

Maka, meningkatkan krativitas perempuan di desa adalah jawaban terbaik.

Mas Bolo yang selalu tampil, mampu menghibur dengan gaya bicaranya yang khas. Menyampaikan, tak perlu salam, nanti gak dijawab. Ini ilmu hitam. Jadi kalau tanya sama saya itu yang susah-susah. Jangan yang mudah-mudah kayak gitu. Mas Bolo banyak menjelaskan makna Maiyah Dusun Ambengan dan Rumah Hati. Lalu menafsirkan makna emansipasi yang penting namun ada batasannya. “Terhadap kebebasan wanita tetap harus terjaga norma-norma.” Semua jamaah memberi aplaus. Ada jamaah yang nyletuk, tumben mbeneh.

Lalu dia banyak bercerita pengalamannya melihat tragedi para pekerja di luar negeri. “Kalau mbur arep golek duit, berguru sini sama saya. Gak usah mblayakan sampai luar negeri!”

Mas Bolo merespon soal Mbak Dewi yang punya ibu tiga. Itu bukan hal yang aneh. Itu biasa. “Coba, kalau pertama itu is-one, kedua itu is-two, ketiga, is-three. Ya wajar kalau istrinya tiga.”

Ini perempuan sekarang. Bentar-bentar emansipasi. Emansipasi taek. Emansipasi coba ikuti baju Kartini yang pakai kebaya, bahannya ratu sripit, kainnya sidomukti. “Gak tahukan? Ayo, golek ono nang google. Celananya levis kok emansipasi.” Jamaah memberikan aplaus.

Kehadiran Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS, ikut membersamai Maiyah Dusun Ambengan. Bahkan beliau sempat membacakan puisi dalam bukunya yang baru terbit Februari, 2016. “Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu”. Turut juga membacakan karya puisinya, anggota Koramil Metro Kibang mas Suryanto. Sementara puisi berjudul Kartini gubahan Suryadi alias Surya Soekarno, yang tak lain adalah salah seorang ‘santri’ simbah Emha Ainun Nadjib semasa beliau  bermukim di Kota Metro puluhan tahun silam, minta dibacakan oleh Ibu Asmiyati. Istri Cak Sul ini, dikalangan penggiat dan jamaah biasa disebut sebagai simboknya Ambengan,

Sebelum memimpin doa dan sampai puncak acara, Cak Sul menegaskan kembali. Di Maiyah ini boleh ngomong apa saja, tetapi Anda punya kedaulatan sebagai pribadi merdeka untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Terhadap segala sesuatu itu coba jangan satu sudut pandang, harus bisa mengurai semua masalah, mengenal apa saja sebagai ilmu. Termasuk tahu ilmu keburukan agar bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk itu. Lalu diiringi musik Jamus Kalimasada, jamaah antre untuk menyantap hidangan makan bersama.

Tepat jam 01.15 WIB jamaah mulai berpamitan pulang, terlihat beberapa ibu sibuk mencuci piring. Termasuk Pak Yusuf Wahyudi, jemaat nasrani  yang juga Kepala Puskesmas Desa Margototo turut bersibuk diri mencuci piring  hingga selesai.  Awak musik Jamus Kalimasada, membereskan peralatan dan memasukkan ke dalam gudang yang letaknya, di belakang Rumah Hati Lampung. Gudang ukuran 7 kali 5 meter itu juga berfungsi sebagai kantor Monitor Artis, SSB Astama sekaligus satu kursi panjang yang bisa digunakan untuk tidur jamaah yang kelelahan. (Teks : Redaksi Ambengan/Endri Kalianda)