Catatan Ngaji Bareng Sedekah Bumi, Bojonegoro 21 Oktober 2016

Ekstra Kepekaan Sebagai Mata Pelajaran

Bukan sekadar luas dan dalamnya analisis. Ada sesuatu yang membuat mereka penasaran, dan mungkin ini berkisar pada kepekaan dan ketajaman.

Mungkin ini masih bisa diteliti lebih jauh. Salah satu yang melatarbelakangi jamaah bertanya adalah rasa penasaran akan kadar kepekaan Cak Nun dalam mengulas, membahas, dan merespons sesuatu. Bukan sekadar luas dan dalamnya analisis. Ada sesuatu yang membuat mereka penasaran, dan mungkin ini berkisar pada kepekaan dan ketajaman.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Demikianlah, saat tanya-jawab dibuka. Banyak sekali pertanyaan muncul. Ada satu pertanyaan berbunyi ‘Cak Nun sangat pinter. Apa ada pegangan tertentu?’. Dalam menjawab pertanyaan ini pun kepekaan Cak Nun terlihat. Sebelum menjawab secara komprehensif, Cak Nun menunjukkan kepekaan dalam membaca inti pertanyaan. Cak Nun menegaskan agar si penanya jangan ingin jadi siapa-siapa. “Anda tak bisa menjadi saya, sebagaimana saya tak bisa menjadi Anda.”

Diberikanlah suatu pemahaman sederhana tapi hakiki. “Tak ada wong hebat, pinter, dan kuasa. Yang ada adalah La haula wala quwwata illa billah. Ini berpikir esensial dan kualitatif. Ojo ora eling Allah sing nggawe segala sesuatu. Semua tergantung kedekatanmu dengan Allah. Aku iki nyerah neng Allah. Allah yang menentukan apa yang diberikan pada saya. Saya tak bisa menentukan. Dan jangan membawa kepinteran dan kehebatan kepada Allah. Anda tinggal meningkatkan sregep belajar. Ojo pingin dadi sopo-sopo. Aku ora iso dadi awakmu. Aku yo ora arep dadi awakmu.”

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Para jamaah khususnya para generasi muda menyimak kembali kepekaan Cak Nun sebagai mata pelajaran. Ibu-ibu rumah tangga, tua maupun muda, pun bapak-bapak semua masih memancarkan ekspresi menyimak, mengikuti, dan menyerap pemahaman dan butir-butir ilmu dari Cak Nun. (hm/adn)