Ekonomi Siklikal Orang Maiyah

Bila menggunakan idiom Islam, ekonomi siklikal adalah ekonomi yang kaffah. Kaffah berarti menyeluruh, maksimal dan total. Ibarat kurva, kaffah adalah lingkaran sempurna. Maka ekonomi siklikal adalah ekonomi yang memperhitungkan segala kemungkinan parameter dalam proses pengambilan keputusannya.

Di dalam term Maiyah, ekonomi siklikal ditempuh manusia dengan kesadaran khalifatullah, atau setidaknya dalam proses menuju kesadaran khalifatullah. Orang Maiyah memahami tiga tingkat kesadaran kemanusiaan. Pertama, ana insan, atau “aku manusia”, yaitu tingkat kesadaran yang bersifat ego-eksistensial. Di tingkat ini kesadaran kemanusiaan berfokus pada upaya “menjadi”. Manusia menjalani kehidupan dalam rangka mencatatkan pencapaian-pencapaian. Kedua, ana abdullah, atau “aku hamba Allah”. Setiap laku manusia merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah, sehingga ketepatan pada syariat menjadi misi utama. Ketiga, khalifatullah. Seorang khalifatullah meletakkan cinta kepada Allah sebagai lambaran hidup, sehingga semua pilihan laku hidupnya merupakan aktualisasi cinta tersebut. Diri seorang khalifatullah lebur dalam perayaan cinta, tidak saja kepada sesama, tetapi juga kepada angin, embun, sapi, rerumputan, bebatuan, dan semua ciptaan Tuhan yang membentuk dunia seisinya.

Bila seseorang memiliki tabungan yang cukup untuk biaya haji dan sehat jasmaninya, maka seseorang dengan kesadaran ana insan akan mendaftar dan menjalani proses haji sebagai bentuk pencapaian individu: berziarah ke tanah suci, menyandang prestise gelar haji. Seseorang dengan kesadaran ana abdullah akan juga berhaji, tetapi dengan dorongan menyempurnakan rukun Islam-nya. Sementara seseorang dengan kesadaran khalifatullah, meski tabungan cukup, kesehatan prima, kerinduan berhaji juga tinggi, sebelum mendaftar akan tengok kiri-kanan dulu. Adakah saudara atau tetangga di sekeliling yang masih sehari makan sehari puasa? Adakah anak-anak yatim dalam jangkauan lingkungan yang keleleran nasibnya? Bila ada, dia akan malu sendiri dan menyadari ada kewajiban lain yang lebih mendesak daripada berhaji. Dia ingat tantangan Al-Ma’un dan terpanggil mengaktualisasikannya. Dia mengalah sementara waktu: memendam kerinduan berhaji demi menyelenggarakan suatu mekanisme ekonomi yang mampu menolong tetangga miskin dan yatim.

Itulah ekonomi siklikal. Peristiwa ekonomi mewujud tidak sekedar pengolahan faktor-faktor produksi atau pertemuan demand and supply. Terdapat pelibatan hal-hal yang dalam pandangan mainstream tidak harus dilibatkan. Persepsi laba-rugi sedemikian cair, tak tergantung timbangan debet-kredit, namun sejauh mana hati terasa ayem.

Konsep Kepemilikan Leher Kambing

Kepada orang Maiyah jangan berkhotbah tentang ideologi ekonomi, apalagi yang dimaksud ideologi ternyata sekedar kapitalisme atau sosialisme. Baru dilihat dari konsep kepemilikan saja keduanya sudah terbukti senda-gurau.

Kapitalisme dengan segala derivasinya menekankan kepemilikan individu sebagai hak dasar. Adam Smith dalam The Wealth of Nations, kitab awal kaum kapitalis, menyatakan bahwa pengejaran keuntungan pribadi yang individual dan tanpa batas demi menumpuk hak milik akan meningkatkan kesejahteraan bersama. Faktanya, kapitalisme membuat manusia makin rakus. Ketika kerakusan terakumulasi dalam satu kepentingan besar, yang terjadi adalah bencana.

Sementara sosialisme mengidealkan adanya kepemilikan kolektif atas sumber daya-sumber daya. Jargonnya utopis: Meng-kita-kan aku. “Kita” dalam jargon ini adalah kepentingan bersama. Kepentingan bersama berwujud negara dijalankan pemerintah. Di titik ini kecelakaan sejarah kerap tak terhindari: pemerintah menjadi kita di dalam kita. Pemerintah makmur sejahtera, rakyat hanya mendapat sisa-sisa.

Sudut pandang ekonomi siklikal terhadap konsep kepemilikan berbeda. Tidak satu hal dalam kehidupan yang pantas manusia hak miliki. Kesemua adalah milik-Nya. Yang dipikir hak milik sebenarnya hanya pinjam pakai saja. Karena pinjam pakai, logikanya pasti ada urunan yang harus ditunaikan. Urunan itu adalah pernik cinta dan kesetiaan sukarela kepada-Nya — bisa berupa zakat, infak, sedekah atau apapun istilahnya. Semakin banyak harta dan fasilitas pinjam pakai, semakin besar tanggung jawab urunan mesti ditunaikan. Kalaupun harus ada hak milik, maka hak milik manusia sebatas besar urunan tersebut. Jadi, yang kita relakan untuk tidak kita pegang lagi justru itulah hak milik dalam konsep ekonomi siklikal.

Suatu hari Rasulullah mendapat hadiah seekor kambing. Beliau lantas menyembelih dan meminta Aisyah membagikan merata ke tetangga sekeliling rumah.

“Sudah habis semua, Kakanda,” kata Aisyah. “Yang tersisa buat kita miliki tinggal leher kambing ini saja.”

“Tidak, Sayangku,” sahut Rasulullah, “Yang tersisa untuk kita miliki adalah keseluruhan dagingnya, kecuali bagian leher ini.”

Ilmu Cukup dan Martabat

Patokan ilmu kaya-miskin bagi orang Maiyah sangat jelas. Ketika ditawari menjadi mulkan nabiya dengan jaminan bergunung-gunung emas, lautan minyak, dan kekayaan jenis apapun terserah mau jentikkan jari, Rasulullah memilih “cukup” menjadi abdan nabiya.

Rasulullah sangat kaya raya, tetapi harta pribadi beliau sengaja ditanam untuk membangun perekonomian daerah-daerah. Untuk keperluan sehari-hari, Rasulullah memilih cukup. Cukupan. Pas. Tengah-tengah. Dimensi keteladanan ini kemudian terpahami tidak tentang kuantitas. Melimpah namun tak bermanfaat bagi orang banyak apalah guna? Maka, orang Maiyah elek-elek bersetia berjamaah pada pilihan Rasulullah: menjunjung tinggi martabat yang sama sekali tidak bergantung pada uang dan segala anasir kekayaan duniawi.

Rezeki dan Momentum Cegatan Taksi

Seorang sopir taksi bisa memilih strategi mendapatkan penumpang. Apakah melaju kencang demi melintasi lebih banyak kemungkinan titik-titik keberadaan calon penumpang. Atau, berjalan lambat-lambat agar lebih awas melihat kiri-kanan jalan. Tetapi adakah jaminan keberhasilan? Siapakah yang menyusun skenario seorang calon penumpang keluar gang lalu nyegat taksi yang kebetulan pas lewat?

Inilah momentum yang menjadi batas cakrawala ekonomi siklikal. Bekerja keras sebaik-baiknya sambil menyerahkan hasil akhir kepada pemilik segalanya. Yang penting nyopir dengan benar, taat aturan, tak membahayakan pengguna jalan lain. Urusan penumpang, Allah yang akan menciptakan momentum cegatannya.

Profesi sopir taksi dalam fragmen ini bisa diganti dengan jenis pekerjaan halal lainnya. Cegatan penumpang bisa diganti dengan momentum rezeki apa pun. Tetapi pola tawakal ekonomi siklikal orang Maiyah tak berubah: bekerja keras sebaik-baiknya sambil menyerahkan hasil akhir kepada pemilik segalanya.

Konsumerisme: Ular-Ular Sihir Yang Dilawan Musa

Konsumsi merupakan bagian dari alur ekonomi. Konsumsi terbentuk dari variabel  kebutuhan. Ketika variabel konsumsi telah bias, tidak lagi sekedar kebutuhan namun condong pada keinginan dan kepentingan, maka mewujudlah konsumerisme. Konsumerisme menjadikan apa-apa yang tidak substansial dianggap wajib atau tidak dapat ditinggalkan.

Dalam kisah Musa, ketika para penyihir sewaan Fir’aun melemparkan tongkat, tiba-tiba tongkat tersebut berubah wujud menjadi ular-ular kecil. Musa gelagapan. Allah kemudian menegur: “Jangan takut pada yang tidak ada, kamulah yang lebih unggul. Lemparkan tongkat di tanganmu!”

Konsumerisme adalah ular-ular sihir. Tidak ada tetapi terlihat ada. Gampang dikalahkan namun bila hati tak yakin, terasa mengejar, melilit dan mencengkeram. Orang Maiyah setiap saat belajar menundukkan ular-ular sihir Fir’aun untuk mewujudkan tata ekonomi siklikal yang meletakkan konsumsi sesuai takaran kebutuhan. Meski ada guyonan, penolakan terhadap konsumerisme sebenarnya keterpaksaan karena modal di dompet Orang Maiyah memang tidak memungkinkan untuk nuruti tetek bengek keinginan dan kepentingan.