Daur (184)

Einstein Nyuwuk, Socrates Selawatan

Ta’qid : “Kalau kamu mau meneruskan Nabi Nuh, bisamu cuma bisa bikin gethek atau perahu kecil. Kalau mau meniru Nabi Musa, Tuhan ngasih tongkat apa ke kamu? Mau meng-Ibrahim, mana kapakmu? Jarum pun kamu tak punya. Mau nyulaiman? Mana piring terbangmu?”

Hari itu benar-benar sangat senyap dan berat bagi Markesot. Seperti hari pengadilan besar dan mendasar yang membanting-bantingnya. Ia malah menjadi seperti wakil sosok tua semalam yang meneruskan pengadilan atas dirinya sendiri.

“Sot”, kata dirinya kepada dirinya sendiri, “Kamu ini sebenarnya siapa, letakmu di mana dan ngapain?”

“Lha menurutmu saya siapa, letakku di mana dan ngapain?”, Markesot menjawab.

“Apakah kamu ini Negarawan atau politisi? Kok berat amat memikirkan Negara dan Bangsa?”

“Lho saya tidak pernah memikirkan itu. Negara dan Bangsa yang nyelonong masuk ke otak dan hati saya tanpa saya minta”

“Siapa yang menyorong soal itu ke dalam dirimu?”

“Ndak tahu. Mungkin Tuhan, mungkin setan”

“Atau kamu yang memang usil. Gegedhen rumangsan. GR. Tidak ada yang menyuruhmu, tidak ada yang mendaulatmu, tidak ada yang mewakilkan urusan Bangsa dan Negara kepadamu, tidak ada yang mempercayaimu, tidak ada yang mendengarkanmu, tapi kamu sok asyik dengan tema itu”

“Lho saya tidak pernah berhajat apa-apa. Itu berlangsung begitu saja tanpa saya bisa menghentikannya. Mungkin karena bagaimanapun saya ini diposisikan sebagai manusia, dengan semua kemungkinan perhatian dan cintanya”

“Kalau mau mengurusi politik ya terjun dong ke dunia politik. Kalau mau jadi Negarwan ya tampil dong di panggung nasional Negara yang kamu huni. Kok malah masuk hutan, bengong di tepi sungai, berlagak seperti pertapa, melanglang desa-desa, menjauh dari pusat masalah yang kamu pikirkan sampai hampir pecah kepalamu”

“Kan saya tidak punya hajat, kepentingan, ambisi atau cita-cita untuk itu. Saya hanya dijadikan dan diperjalankan….”

“Tapi kalau memang jadi Negarawan ya tidak usah jadi pengarang lagu”

“Saya bukan pengarang lagu. Saya sekadar memenuhi ruang kosong yang memerlukan lagu”

“Kalau urusan lagu, nada, irama, aransemen, nuansa, ya tidak perlu menjadi penafsir Kitab Suci”

“Saya bukan penafsir, yang saya lakukan hanya menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang perlu penafsiran baru”

“Kalau sudah sibuk jadi penafsir ayat-ayat Tuhan ya tidak usah meloncat-locat ke lapangan sepakbola, tinju, kickboxing atau MMA”

“Mungkin karena ada semacam naluri atau daya serap dalam dan dari diri setiap manusia untuk mencari sportivitas, kejantanan, ketegasan, keteguhan dan keadilan”

“Kalau memang mau tuntas mengurusi olahraga ya tidak perlu jadi ilmuwan, menganalisis masalah sosial dan kemasyarakatan, bahkan sok tahu tentang fisika, gravitasi, kemiringan dari garis tauhid, sikap gravitatif, ketajaman ujung jarum di titik tengah universalitas”

“Namanya juga manthiq, ia berlaku di apa saja, bisa loncat ke pata apapun, tema apapun, masalah apapun”

“Tapi di dalam sejarah tidak ada ilmuwan sekaligus Dukun. Einstein tidak nyuwuk orang sakit, Socrates tidak selawatan. Kalau selawatan ya fokus seperti Imam Busyiri, AlHabsyi, Kiai Mansur, Kiai Asnawi, Guru Ijai atau AlBarzanji. Tidak nyelonong-nyelonong mendamaikan ribuan petambak yang tawur, saling melukai, mengusir, membunuh”

“Siapa yang nyelonong? Ada orang minta tolong ya wajib ditolong”

“Kalau memang mengurusi persatuan dan kesatuan masyarakat, bagaimana mungkin sekaligus juga menjadi penyair, penulis repertoar teater, melengserkan Presiden, workshop dengan anak-anak, dan macam-macam lagi. Kamu ini tidak fokus. Kamu rakus. Semua yang kamu lakukan itu menggambarkan keserakahan. Makanya kamu jadi keranjang sampah. Semua masalah manusia dibuang ke kamu. Kamu dituntut untuk mampu menyelesaikan semua masalah manusia, masyarakat, Negara, Dunia, di semua bidang, Agama, politik, ekonomi, kebudayaan, ilmu, moral, mental, spiritual, kesehatan fisik, kebatinan, dan segala macam lainnya. Itu semua bersumber tidak lain dari kebodohan dan kesombonganmu sendiri”

“Yang salah yang membuang dong”

“Kesulitan keluarga mencari nafkah, Negara tidak beres, ijtihad ilmu, semua kemudlaratan di bidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, praktik keagamaan, orang sedih dan stres, wanita hamil minta didoakan, racun-racun informasi dan komunikasi, pelayanan nama bayi-bayi, keterancaman para ilmuwan penemu dan inovator, orang ketakutan tertangkap kasus korupsi, laskar-laskar milisi-milisi mau menyerbu, erupsi gunung berapi, semua kamu telan.”

“Saya tidak menelan. Itu semua masuk begitu saja ke mulut saya”

“Kamu pikir kamu Nabi atau Rasul atau Imam Mahdi? Sehingga merasa bertanggung jawab atas semua masalah ummat manusia? Kalau kamu mau meneruskan Nabi Nuh, bisamu cuma bisa bikin gethek atau perahu kecil. Kalau mau meniru Nabi Musa, Tuhan ngasih tongkat apa ke kamu? Mau meng-Ibrahim, mana kapakmu? Jarum pun kamu tak punya. Mau nyulaiman? Mana piring terbangmu? Pernah belajar manthiqut-thoir? Mana pasukan Jin-mu? Mana laskar burung-burungmu? Atau mau jadi pahlawan sehingga kamu menyalib dirimu sendiri?”