Catatan Sinau Bareng SLB Ma’arif, Pucungrejo, Muntilan, Magelang, 26 Maret 2016

Dunia Hanya Tempat Sejenak Berkebun

Jamaah sudah memenuhi lapangan. Melihat kesungguhan dan ketulusan mereka, Cak Nun mengungkapkan, “Ini saking kangennya mereka kepada kebaikan.”

Karena dunia hanya sesaat dan bukan tujuan hidup, maka yang harus dikerjakan adalah menanam dan menanam, dan panennya bukan terutama di sini, tetapi di akhirat kelak. Yang ditanam tidak lain kecuali kebaikan. Malam ini, bertempat di lapangan SLB Ma’arif Kenatan Pucungrejo Muntilan, masyarakat Muntilan berkumpul untuk mengikuti Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam semangat rindu menanam kebaikan.

Memasuki desa tempat acara digelar, langsung terasa suasana keguyuban, cancut taliwondo, ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi, dan seluruh panitia berada pada posisi dan tugas masing-masing tetapi saling bekerjasama demi lancarnya acara Sinau Bareng malam ini. Sementara jamaah sudah berada dan memenuhi lapangan. Tampak juga beberapa yang masih berjalan kaki dari jalan besar menuju lapangan. Melihat kesungguhan dan ketulusan mereka, Cak Nun mengungkapkan, “Ini saking kangennya mereka kepada kebaikan.”

Sinau Bareng Menanam Kebaikan
Sinau Bareng Menanam Kebaikan. Foto: Adin.

Acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng ini diselenggarkan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) Ma’arif Muntilan dan didukung oleh pelbagai elemen masyarakat di sini. SLB Ma’arif memohon Cak Nun memberikan do’a bagi perjuangan para pengurus dalam menemani anak-anak yang berkebutuhan khusus dan agar dimudahkan segala urusan dan kebutuhan, baik sarana maupun prasarana, bagi kelangsungan pendidikan ini.

Di ruang transit, panitia dan beberapa tokoh masyarakat — Pak Camat, Pak Danramil, Pak Kapolsek, beberapa pemuka NU dll, menyambut kedatangan Cak Nun dengan penuh penghormatan dan tawadhu’. Di situlah, kemudian Pak Dahlan mewakili panitia mengemukakan harapan-harapannya kepada Cak Nun. Kepada segenap panitia dan pengelola SLB itu, Cak Nun mengingatkan bahwa yang ditagih oleh Allah adalah perjuangan dan kesungguh-sungguhan kita, bukan hasilnya, apalagi hasil di dunia. Tercapai atau tidaknya yang dicita-citakan di dunia ini tak usah sedih, sebab Allah punya rencana juga. Cak Nun mengingatkan perjuangan itu, seperti menemani anak-anak berkebutuhan khusus ini, rentangnya adalah sampai kita mati. Harus istiqamah.

Malam ini Cak Nun ingin mengajak semua masyarakat untuk melihat dan merasakan segala sesuatu melalui  sudut pandang keabadian-kesejatian akhirat dan kesementaraan dunia, akhirat sebagai tujuan (tempat pohon berbuah) dan dunia sebagai sarana-lahan (untuk sejenak menanam). Suatu sudut pandang yang sudah ketlingsut di tengah amat lengketnya manusia terhadap dunia dan seisinya sehingga melupakan nilai-nilai yang sejati.

Anda adalah orang-orang sejati
Anda adalah orang-orang sejati. Foto: Adin.

Salah seorang siswa SLB yang menyandang tuna netra menggetarkan hati semua hadirin karena melantunkan ayat-ayat suci al-Quran saat pembukaan acara. Dia dan teman-temannya setiap hari belajar dan beraktivitas di SLB Ma’arif Muntilan ini. Sebagaimana terhadap anak-anak yatim piatu, hati Cak Nun sangat dekat dan sangat belajar dari keadaan mereka. “Orang cacat yang asli adalah orang lengkap dan normal anggota badannya tetapi tidak bisa ngabekti kepada Allah. Saya trenyuh kepada anak-anak SLB ini, dan mereka ini punya kenikmatan dibanding kita yang seakan-akan normal ini.”

Pada bagian-bagian awal ini, jamaah diajak terlabih dahulu menggenggam dasar-dasar ilmu yang diperlukan untuk memahami situasi saat ini. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Cak Nun, ini adalah saat-saat di mana negara kita berada dalam keadaan yang Allah paling tidak suka. Tetapi Cak Nun selalu menemukan peluang-peluang yang baik dan sejati, “Tetapi melihat anda semua berkumpul di sini kangen akan kebaikan, hati-Nya lemes dan terharu. Kalau parpol bikin anda berkumpul kan hanya pas pemilu, lagi pula tak sebanyak ini jumlahnya. Anda adalah orang-orang sejati.”

KiaiKanjeng membuka kehadirannya di awal tadi dengan nomor Pambuko dan disambung dengan wirid atau dzikir Hasbunallah. Masyarakat di sini, yang sebagian besar berkultur santri, tak ada kesulitan untuk berbareng melantunkan shalawat yang dibawakan KiaiKanjeng. Bahkan pada nomor yang baru dikomposisikan pada latihan terakhir, sebuah nomor bernuansa qasidah, mereka juga mau belajar bersama. Nomor itu mungkin belum ada namanya, tapi kalimat awalnya berbunyi seperti ini: Sing jembar atimu, sing jujur pikirmu, ing ndonya ming mlaku sedelot, mlaku sedelot, eling lan waspodo, jo nganti leno (yang luas hatimu, yang jujur pikiranmu, di dunia hanya berjalan sebentar, ingat dan waspada, jangan sampai terlena). Mbak Yuli dan Mas Imam membawakan dengan pelan-pelan, diselai suluk ya Habibi ya Rasulallah, kemudian dipuncaki dengan shalawat Ya Rasulullah Ya Salam Alaika. Nomor baru ini membahasakan ilmu meletakkan dunia pada tempatnya. Dunia sebagai tempat berkebun untuk sementara waktu.

Gus Yusuf Khudhori dan Gus Ahmad Mansyur, sebagai tokoh masyarakat Magelang sudah datang dan dipersilakan naik ke panggung oleh Cak Nun. Bersama tokoh-tokoh masyarakat lain, beliau berdua menikmati dan menyaksikan secara langsung bagaimana Maiyah menyentuh hati dan jiwa paling dasar masyarakat. Bukan sekali dua kali mereka hadir setiap kali Cak Nun dan KiaiKanjeng Maiyahan di wilayah Magelang dan sekitarnya. Gus Yusuf sendiri pernah mengatakan kedatangannya untuk nyucup barokah doa Maiyah. Dan tentunya juga menyimak dan belajar dari bagaimana Cak Nun memberikan contoh kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat. Momen-momen khusus selalu mengandung ilmu dan pembelajaran. Seperti saat dua anak SLB yaitu Musa dan Rahmat diajak naik ke panggung.

“Saya ke sini untuk mendengarkan hatimu. Kalau Anda tersenyum, itu nanti kata-kata saya ya senyum yang ada di hatimu. Karena itu kita makin awet,” terang Cak Nun. Kepekaan-kepekaan Maiyah itulah yang sebenarnya terasakan pada setiap kejadian yang berlangsung di Maiyahan, apakah pada saat nomor-nomor lagu dibawakan, ataukah saat ilmu diartikulasikan untuk memahami persoalan secara benar dan mendasar, lain titik-titik masuk lainnya. Mas Alay sang road manajer KiaiKanjeng didapuk ikut mbantu membawakan Marhaban ya Nurul ‘Aini, Mas Doni seperti biasa pada One More Night-nya Maroon 5 ditambah Cublak-Cublak Suweng, disambung Beban Kasih Asmara dan Rasa Cinta oleh Mas Imam Fatawi. Para jamaah khususnya yang masih muda-muda sangat senang dan antusias pada nomor-nomor ini. Beberapa di antara mereka menggoyangkan badan sembari tetap masih duduk. Juga ada remaja putri yang tak bergeming menatap ke panggung saat Mas Doni penuh impresi menyanyikan lagu Maroon 5 tadi, dan semua mata dan telinga tak kuasa mengelak saat Cublak-Cublak Suweng dengan iringan KiaiKanjeng dihadirkan penuh rasa juga oleh Mas Doni.

Musa dan Rahmat
Musa dan Rahmat. Foto: Adin.

Di tengah “keterbatasannya”, Musa dan Rahmat yang masih duduk di kelas 4 SD adalah anak-anak yang menorehkan prestasi. Rahmat yang menyandang tuna netra dan asli dari Kalimantan adalah juara II catur tingkat provinsi. Cak Nun mengajak mereka berbicara dan kemudian memberikan kesempatan untuk memberikan persembahan. Musa dan Rahmat membacakan puisi, salah satunya berjudul Aku Anak Indonesia. Dengan lantang mereka menyuarakan bait-bait puisi mereka. Tak bisa melepaskan begitu saja usai mereka baca, Cak Nun memintanya baca lagi. Kali ini KiaiKanjeng ditugasi mengiringi dengan musik. Sampai pada puncaknya, Cak Nun langsung bersuluk dengan suara yang tinggi, dan membawa semua hadirin bershalawat shalatun minallah wa alfa salam, dan diakhiri dengan doa Rasulullah Innama turhamuna wa turzaquna wa tunshoruna bi dhuafaikum. “Orang mulia adalah orang yang mau nyedulur (bersaudara) dengan orang yang bukan sedulur (saudara),” demikian Cak Nun memberikan dasar cinta kepada sesama manusia, apapun kondisi mereka.

Dalam kesempatan yang diberikan oleh Cak Nun, Gus Mansyur dan Gus Yusuf menyampaikan dukungannya kepada para pengurus dan guru SLB ini. Gus Yusuf juga mengingatkan betapa Musa dan Rahmat telah menjadi saksi bahwa adik-adik itu tetap diberi semangat, optimisme, dan kepercayaan diri oleh Allah. Hal ini penting disadari sebab penglihatan kita berbeda dengan penglihatan Allah. Sebab sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan wajah kita, melainkan melihat kepada hati kita.

Musa dan Rahmat menjadi jalan maksimalnya ilmu dan kebahagiaan sejati. Musa kini membaca al-Quran surat Tabarok (al-Mulk). Jamaah menyusulinya dengan teriakan “Allah” setiap kali Musa sampai di penghujung ayat. Lantunan surat tabarok ini juga mengingatkan Cak Nun akan ngaji al-Quran di masa kecilnya. Dan puncak kasih-sayang untuk anak-anak ini, Cak Nun memusik-puisikan puisi Musa yang bertutur tentang kondisi tuna netra. Bunyi alat-alat musik KK muncul dalam kekuatan magisnya pada musik-puisi yang diproses singkat di panggung ini.

Tak terasa waktu sudah memasuki pukul 00.20. Jamaah masih setia mengikuti Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Dari pengamatan dari jarak dekat, terlihat sangat banyak generasi muda yang hadir di sini. Yang laki-laki banyak yang mengenakan jaket, peci bermacam-macam mode, tak terkecuali peci Maiyah, tak sedikit pula yang mengalungkan sarung di lehernya sekedar untuk menahan hawa dingin. Bahkan terlihat pula anak-anak usia SD yang diajak kedua orangtuanya, dan belum ada tanda-tanda mengantuk. Di tempat-tempat yang agak jauh dari panggung di bawah tenda, bapak-bapak dan ibu-ibu juga masih istiqamah menyimak uraian Cak Nun yang saat ini tengah menjawab beberapa pertanyaan dari jamaah.

Musa dan Rahmat, ilmu dan kebahagiaan sejati.
Musa dan Rahmat, ilmu dan kebahagiaan sejati. Foto: Adin.

Salah satu pertanyaan diajukan kepada pengurus dan guru SLB mengenai pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Dijelaskan bahwa tugas utama guru anak-anak berkebutuhan khusus ini adalah berupaya menemukan kelebihan-kelebihan pada diri mereka. Sebab Allah memberikan kelebihan di balik kekurangan mereka. Musa misalnya pada saat belajar al-Quran tak ada yang melebihi kecepatannya dalam menghafalkan ayat-ayat al-Quran. Tangannya yang bergerak-gerak terus adalah tanda dia sedang menyerap informasi dengan penuh konsentrasi. Dengan memaksimalkan potensi yang mereka miliki melalui pelbagai pelatihan, diharapkan kelak mereka bisa hidup secara mandiri juga.

Rizki Allah datang bersama Maiyahan malam ini. Salah satunya, kotak infaq yang diedarkan panitia membubuhkan angka 23.363.000. Dua puluh tiga juta tiga ratus enam puluh tiga ribu rupiah. SLB Ma’arif sedang dalam ikhtiar untuk membeli tanah di dekat gedung yang sudah ada untuk menambah fasilitas pendidikan agar daya tampungnya lebih besar lagi. Cak Nun mengingatkan, angka infaq tadi kalau dijumlahkan hasilnya adalah 17. “Ini bukan mistik, ini petunjuk. Maka setiap tanggal 17, para pengurus perlu meningkatkan dzikirnya. Ini sama dengan jumlah rokaat shalat dalam sehari. Sama seperti tanggal kemerdekaan Indonesia. Ingat puisi anak kita tadi: Aku Anak Indonesia.”

Makin larut malam, makin memasuki dimensi-dimensi ilmu. Sesudah Mas Tanto Mendut yang turut bergabung dan menyampaikan uraian-uraian yang melontarkan kecurigaan-kecurigaan atau kepenasaraan bahwa bumi Nusantara ini termasuk Magelang ini dulu-dulunya adalah tanah para Nabi dan kekasih-kekasih Allah.

Dengan paradigma tadabbur, Cak Nun merespons uraian Mas Tanto. Apakah adalah hubungannya anak-anak berkebutuhan khusus ini dengan tanah kepulauan Nusantara tempat para kekasih Allah? Sangat jelas. Di bumi yang dipijak para kekasih Allah, rangsangan akan turunnya hidayah, pertolongan, dan keselamatan dari Allah lebih kondusif.

“Apakah benar atau tidak yang disampaikan Mas Tanto, jawaban resminya ada pada penelitian. Tapi kalau penelitian beneran akan terikat pada metodologi ilmiah atau Barat. Sebagaimana tafsir itu bersifat ilmiah dan ‘objektif’. Nah, kalau orang awam diminta menafsir ya berat. Maka saya memilih tadabbur. Ukuran tadabbur bukanlah kebenaran objektif (misal berapa umur Nabi Khidhir), melainkan apa saja yang kita hadapi, sepanjang membuat kita lebih dekat dengan Allah, dan lebih dekat kepada melakukan kebaikan-kebaikan. Fenomena Nabi Sulaiman ditadabburi, hasilnya adalah kekaguman kepada Allah dan rasa syukur kepada-Nya.”

Ini saking kangennya mereka kepada kebaikan.
Ini saking kangennya mereka kepada kebaikan. Foto: Adin.

Lebih jauh Cak Nun menegaskan, “Dunia Barat meracuni Anda dengan penelitian ilmiah sebagai jalan mendapatkan kebenaran objektif, dan itu tak selalu dimungkinkan. Jangankan jauh ke sejarah Nabi Sulaiman, ke sejarah Majapahit pun tak bisa benar-benar objektif. Maka tradisi umat Islam harusnya adalah tadabbur, bukan tafsir semata.”

Memasuki pukul 01.45 acara tiba di penghujungnya. Para jamaah diminta berdiri dan mengamini doa bersama yang dipimpin oleh Gus Yusuf Khudhori. Kabut mulai turun. Jamaah satu per satu mulai ke tempat masing-masing. Pak Nomo Koeswoyo belum jadi berkesempatan hadir, tetapi lagunya berjudul Jo Podho Nelongso tadi sudah dibawakan KiaiKanjeng. Dan sekarang, KiaiKanjeng mengiringi kepulangan jamaah dengan beberapa nomor di antaranya oleh mbak Yuli lewat pepujian Wujud Qidam Baqa. Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng telah berakhir. Cak Nun berjalan meninggalkan panggung sembari melayani jamaah yang menjabat dan mencium tangannya.