Daur (63)

Dunia Bukan Tempat Membangun

Tak henti-hentinya Markesot bicara tentang tadabbur. Terkantuk-kantuk Sapron mendengarkannya. Tapi karena kesetiaannya, Sapron sebisa-bisa selalu meresponsnya.

“Dunia bukan tempat membangun, melainkan tempat mencari menemukan bahan-bahan bangunan”, begitu filosofi Markesot.

“Lantas membangunnya di mana?”, Tanya Sapron.

“Tidak di dunia”

“Lha di mana?”

“Pokoknya tidak di dunia yang ini”

“Lha di dunia yang mana?”

“Yang lain, yang sesudahnya”

“Akhirat?”

“Akhirat itu bukan nama, tapi pertanda. Aran. Tetenger. Inisial untuk memahami bahwa ada sesuatu sesudah akhir dunia”

“Ada kehidupan yang lain sesudah kehidupan di dunia?”

“Yang benar-benar kehidupan ya bukan yang di dunia ini. Kan cuma sebentar sekali. Manusia berjuang untuk memiliki dan membangun sesuatu, belum tentu berhasil, besok tiba-tiba tua dan mati. Jadi untuk apa memfungsikan dunia yang sangat sejenak ini sebagai ruang dan waktu untuk membangun sesuatu?”

Sapron protes. “Wajar dong orang hidup di dunia, berkeluarga, mencari nafkah, memastikan sandang pangan papan. Punya rumah sendiri. Menyekolahkan anak-anak. Menggelar tikar persiapan untuk masa depan anak turunnya. Kalau bisa rumahnya yang nyaman dan bagus. Kendaraannya jangan butut-butut amat. Punya tabungan…”

Markesot menjawab. “Itu bukan hanya wajar. Itu juga rancangan dan perintah Tuhan: ‘jangan lupa nasibmu di dunia’ tatkala kita menempuh perjalanan menuju Tuhan, sangkan-nya manusia sekaligus paran-nya”

“Berarti kan membangun dunia dan tempatnya juga di dunia?”, Sapron mengejar.

“Sekadarnya saja. Karena toh setiap manusia sebentar saja akan pindah dari dunia ke dunia berikutnya yang sama sekali tidak sama rumus dan konstruksinya dengan dunia yang ini”

“Berhias sedikit selama singgah di dunia kan tidak salah?”

“Lho dunia ini dirancang Tuhan memang untuk sekadar hiasan. Dunia ini dikonsep bukan sebagai substansi, melainkan ilustrasi. Ilustrasinya jangan melebihi dan mengalahkan substansinya. Itu bodoh dan pasti rugi sendiri. Apalagi karena terlalu mensubstansikan ilustrasi maka manusia melakukan korupsi, perebutan, penjajahan, perampokan, penindasan, penguasaan, sekadar untuk berhias beberapa saat. Dungu itu”

“Kan sepanjang sejarah isi dunia selalu kelakuan manusia yang seperti itu, menindas, merampok, menipu, memperdaya, merekayasa, dari jalanan, kampung-kampung hingga Istana Negara”

“Ya. Benar. Dungu memang”

“Lha Cak Sot maunya mengubah sejarah ummat manusia yang sudah mengakar kedunguannya?”

“Saya tidak punya kepentingan untuk mengubah apa-apa. Saya cuma mengungkapkan apa saja yang benar menurut saya. Dan yang benar menurut saya itu tidak mengikat siapapun. Benar untuk saya tidak harus benar bagi yang bukan saya”

“Tapi saya repot menjawab banyak orang yang menanyakan tentang omongan Sampeyan”

“Lebih baik repot menjawab daripada mencuri”

“Bagaimana logikanya itu?”

“Ya repot menjawab itu lebih baik daripada korupsi”

“Ooo ini semacam sholat lebih baik daripada tidur…”

Alhasil Sapron lupa bahwa seharusnya jangan menjawab atau merespons atau apalagi membantah Markesot.

Dulu ada tokoh ludruk namanya Markuwat. Semua pelakon lain menyepakati untuk jangan sekali-kali mengajak omong Markuwat. “Kita omong sak-kecap, Markuwat omong rong-kecap. Kita dua-kecap, Markesot sepuluh kecap. Kita tandingi sepuluh kecap, markuwat kecap-kecap tanpa koma tanpa titik dan tanpa henti…”

Jadi Sapron berpikir biarlah Markesot kecap-kecap semau-mau dia, akhirnya nanti toh akan berhenti sendiri.

“Dunia ini”, kata Markesot, “sangat segera akan musnah. Atau kita sendiri terlalu cepat akan meninggalkannya. Dunia bukan rumah permanen, ia hanya rumah singgah. Dunia hanya terminal sementara, di mana manusia melakukan perjalanan menuju rumah sejati. Dan satu-satunya jalan untuk mencapai rumah sejati adalah perjuangan nilai, bukan perjuangan dunia”

“Siapa yang percaya sama omongan Sampeyan, Cak Sot”, ternyata Sapron tidak tahan juga untuk tidak merespons.

“Omongan saya tidak ada kaitannya dengan kepercayaan orang. Kalau omongan Tuhan, itu baru bermasalah pada orang yang tidak mempercayainya”, jawab Markesot.

“Lha omongan Sampeyan hubungannya dengan apa?”

“Ini semacam latihan menghadapi Malaikat besok-besok”

“Mosok Malaikat bertanya sampai yang ruwet-ruwet begitu?”

“Malaikat itu makhluk yang aslinya lembut, sehingga selalu bersikap detail. Mereka mendata kelakuan kita tidak hanya pada ekspresi jasad dan pergaulan sosial, tapi juga perilaku sejak di alam pikiran”

“Kalau kepada orang bisa, metode komunikasi Malaikat bagaimana?”

“Justru lebih mudah. Tidak perlu wawancara seperti kepada kamu dan saya. Malaikat cukup melakukan pendataan langsung dengan memeriksa munculan-munculan gelombang saraf-saraf otak mereka”

“Malaikat juga bawa kalkulator untuk menghitung pembangunan angka-angka kita di dunia?”

“Malaikat semua adalah supra-kalkulator, dan itu bukan fungsi utama mereka, sebab angka itu soal mudah. Yang substansial bagi para Malaikat adalah nilai. Terdapat beda serius dan mendasar antara angka dibanding nilai. Angka akan ditinggalkan di dunia oleh manusia, karena ia bukan kekayaan”

“Lho kok angka bukan kekayaan. Kan kekayaan tidak berwujud kalau tidak dihitung dengan angka”

“Kalau orang biasa seperti kamu biasanya menggunakan angka tidak untuk menghitung kekayaan, tapi utang”

“Bukannya pejabat-pejabat tinggi dan pengusaha-pengusaha kaya juga tidak menggunakan angka untuk menghitung kekayaan mereka?”

“Maksudmu?”

“Kalau para petinggi Negara kan hanya tahu angka kurang, tidak mengenal angka lebih”

“Itu bedanya dengan kamu. Pada hidupmu angka sangat sering tampil dalam kasus utang. Tapi pada tema kekayaan, angka tidak berguna, karena tidak ada kekayaan yang perlu dihitung”

“Bukannya Sampeyan yang begitu itu, Cak Sot?

“Lho bukan sombong ya, bagi saya yang kekayaan adalah nilai. Angka itu ilmu yang baik, tetapi ia membunuh manusia yang menyangka angka adalah nilai. Maka setiap angka harus dinilaikan. Uang harus diabadikan. Dunia harus diakhiratkan”

Sapron memotong: “Nanti kalau terlalu banyak omong ruwet-ruwet tentang angka dan nilai Sampeyan bisa-bisa dituduh anti-angka lho, Cak Sot”

Markesot menjawab, “Lho kan sejak dulu saya dituduh anti-dunia, bahkan anti-kehidupan. Itu sebabnya saya tidak punya tempat dalam kehidupan”

“Mungkin tuduhannya dispesifikkan: Markesot frustrasi karena tidak punya tempat di masyarakat, tidak berada di titik koordinat manapun dalam kehidupan. Ia bukan penduduk legal di dunia, maka ia selalu rewel omongannya”

“Lebih besar mana dunia dibanding manusia? Yang makro dunia ataukah manusia? Yang paling diciptakan di puncak kemuliaan, manusia ataukah dunia?”

“Orang akan berargumentasi: manusia yang tidak punya peran dalam kehidupan dunia, ia adalah butiran debu di tanah. Dan karena Markesot hanya sebutir, maka ia boleh tidak ada. Tidak ada bedanya bagi dunia Markesot ada atau tidak ada”

“Saya tidak perlu bermanfaat bagi dunia, kalau dunia menuntut saya bermanfaat baginya. Dunia hanya perangkat untuk manfaat akhirat saya. Dunia tidak boleh memenjarakan saya. Dunia jangan pernah berpikir mampu menyandera saya”

“Orang akan melebar tuduhannya:  Markesot terdesak ke pojokan tasawuf. Bicaranya meniru-niru filosofi kaum Sufi. Tapi Markesot bersufi-sufi ria itu sebabnya hanya satu: karena dia tidak punya dunia, dia miskin dan bukan siapa-siapa”