Daur (193)

Dodot Pinelorot

Ta’qid : “...tetapi mengartikannya secara sangat egosentris di dalam kesempitan aspirasi keduniawiannya. Kenapa bangsaku tidak pernah belajar sungguh-sungguh kepada Ayat Kursi?”

Bangsa di mana Markesot tinggal di tengah-tengahnya mungkin tidak punya situasi dan kondisi kehidupan, tidak punya habitat budaya, tidak ada rangsangan atau dorongan untuk bersentuhan dengan momentum ruang-waktu yang membuat mereka sempat atau mau mempertanyakan dan membenahi kembali mana “ada” mana “tiada”.

Segolongan orang habis usianya untuk memastikan hari ini dan syukur besok masih bisa makan sekeluarganya atau tidak. Segolongan yang lain suntuk siang malamnya untuk mengejar kepastian masa depan dalam bentuk menambahi celengan atau simpanan atau saldo materi dan uang.

Golongan yang lain terserap usianya hingga tua untuk memburu fatamorgana kekayaan yang tanpa batas, baik berupa harta karun yang bisa dikonsumsi hingga anak cucu, berupa penguatan jaringan kekuasaan dan peta modal di genggaman tangan legalitasnya.

Bumi, tanah air, negeri dan Negara dipenuhi oleh kesibukan yang tidak lama lagi, mungkin hanya beberapa puluh tahun ke depan, akan terjungkal oleh kenyataan amat besar dan kuat yang mereka tak akan sanggup menghindarinya, apalagi melawannya.

Ulaika humul Fasiqun”, kata Allah. Ada beratus penafsiran atas kata dan kategori itu, dan kebanyakan titik beratnya adalah pada tema keimanan dan moral. Markesot meraba ternyata kefasiqan global yang sedang berlangsung sekarang ini berupa krisis akal, krisis filsafat, krisis teologi, yang berupa kemiringan atau kesilangan atau keberbalikan dengan as-shirath almustaqim, dengan garis inti jiwa manusia ke pusat arasy Allah. “Wa la yauduhu hifdhuhuma”. Allah maha teguh menjaga kursinya atas bumi dan langit, sedangkan manusia sendiri mengabaikan penjagaan atas kursi kehidupannya.

Bahkan manusia memaknai “kursi” benar-benar hanya dalam lingkup materialisme dan keduniaan, bahkan lebih materialistik dari itu. Kenapa bangsaku meminjam kata “kursi” untuk dimasukkan ke deretan kata di kamusnya, tetapi mengartikannya secara sangat egosentris di dalam kesempitan aspirasi keduniawiannya. Kenapa bangsaku tidak pernah belajar sungguh-sungguh kepada Ayat Kursi?

Tarmihim membatin, “Cak Sot ini terlalu mendalam memasukkan problem-problem besar manusia ke dalam hatinya. Mungkin itu yang menyebabkannya di waktu-waktu terakhir ini ia seperti mendadak tua. Proses menuanya berlangsung lebih cepat dari seharusnya”.

Tarmihim semakin tidak tega melirik kerut merut wajah Markesot. Dua kantung besar di bawah kedua matanya seakan menampung air tujuh lautan duka derita dan kesengsaraan rohani yang sangat menekan dan membebaninya.

Markesot ingat bagaimana para leluhur mengurut kata “sandang, pangan, papan”. Tidak boleh, tidak bisa dan tidak benar kalau urutannya dibalik. Tidak masalah kita tidak punya rumah, sewa-sewa tempat kost atau kalau perlu menggelandang di jalanan juga masih oke, asal masih bisa makan. Kesehatan lebih penting dari rumah atau tempat tinggal.

Kalau keadaan lebih parah dan faqir, baiklah. Tidak bisa makan harus kita alami dan terima dengan ikhlas, asalkan ketika akhirnya mati karena kelaparan: kita masih dalam keadaan berpakaian. Harga diri kemanusiaan, martabat hidup, muru`ah sebagai makhluk, lebih utama dibanding kesehatan fisik.

Titik berat ahsanu taqwim, keistimewaan manusia sebagai makhluk Tuhan, tidak terletak pada kekayaannya, pada seberapa bagus rumahnya dan seberapa mewah mobilnya. Juga tidak terutama pada seberapa subur sehat badannya, pada seberapa berkualitas kesiapan nutrisi dan gizinya.

Melainkan pada harga kemakhlukannya, martabat kemanusiaannya, aji derajatnya yang tidak sama dengan batu-batu dan hewan-hewan. Lembu disembelih dalam keadaan telanjang, tikus mati di got tanpa pakaian, ayam bergeletakan mati oleh penyakit, tak masalah. Tapi manusia, ahsanu taqwin, jangan hidup dalam keadaan telanjang, bahkan jangan sampai tiba-tiba mati dalam keadaan tanpa harga diri, tanpa martabat di pandangan manusia dan tanpa derajat di mata Tuhan.

Dodot iro, dodot iro, kumitir bedhah ing pinggir. Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore…”

Piweling dan piwulang yang indah dan mulia itu lahir dari nenek moyang yang kebudayaannya belum mengenal kertas dan tinta, jauh dari ada komputer dan gadget, jauh dari kepustakaan-kepustakaan digital bahkan pun manual. Ternyata itulah yang sangat diperlukan di abad sekarang ini oleh ummat manusia yang sudah bermewah-mewah dengan Peradaban Satelit, Peradaban Cyber, Peradaban “Millenial”, Peradaban yang dihuni oleh ummat manusia yang sangat meyakini bahwa mereka jauh lebih pandai, lebih maju, lebih canggih, lebih modern, lebih move on dan lebih updated dibanding generasi-generasi sebelumnya, apalagi nenek moyang para leluhur.

Ummat manusia hari ini sungguh sedang menjalani adzab “nasullaha fa ansahum anfusahum”: lupa kepada Allah sehingga lupa kepada dirinya sendiri. “Lupa” itu jangan dipikir sekadar lalai atau abai, tapi benar-benar memang tidak mengerti, bahkan tidak mengerti bahwa mereka tidak mengerti.

Dodot iro” bukan hanya “bedhah ing pinggir”. Kebudayaan yang sedang berlangsung pada ummat manusia sekarang ini adalah pakaian “bedhah” di hampir semua sisi pakaiannya. Bolong-bolong. Bahkan sengaja dibolong-bolongi, dengan keyakinan itu adalah kecanggihan dan modernitas. Dodot-nya pinelorot.