Daur (01)

Doaku Dosaku

Di sebuah forum salah seorang hadirin menggugatku dengan nada sangat keras dan geram.

“Pada tahun 1994 Saudara menulis puisi yang berjudul ‘Doa Mohon Kutukan’. Anda sangat kejam dan mengambil keputusan yang sangat tidak masuk akal.”

Karena mendadak, aku sangat panik dan langsung serasa ditimpa rasa bersalah yang mendalam.

“Di mana-mana di segala zaman manusia itu kalau memohon kepada Tuhan ya rejeki, berkah atau kebahagiaan. Kok Anda memohon kutukan! Bagaimana nalarnya?”

Aku yang memang seorang penakut jadi berkeringat dingin.

“Andaikanpun yang Anda mohon itu kutukan kepada diri Anda sendiri, tetap tidak masuk akal bagi saya. Apalagi yang Anda lakukan ini menyangkut ratusan juta rakyat Indonesia yang hidupnya kebingungan tanpa ada ujungnya. Kita ini bangsa yang dahsyat sekarang menjadi konyol. Kita ini kumpulan manusia-manusia yang multitalent tapi sekarang serabutan mengerjakan hal-hal yang bertukar-tukar keahlian. Kita kaya raya tapi jadi pengemis. Kita bermental tangguh tapi sekarang cengeng dan terlalu mudah kagum sehingga gampang dikendalikan oleh orang lain. Ini semua gara-gara Anda memohon kutukan, dan sampai hari ini kita semua hidup remang-remang bahkan gelap pekat seperti terkurung di bawah kutukan langit….”

Aku benar-benar merasa ambruk. Hatiku remuk redam. Aku berteriak-teriak, memekik-mekik sampai telingaku kaget sendiri, sehingga terbangun mendadak. Terbangun, meloncat dari ranjang, posisi berdiri dengan kuda-kuda silat, seolah-olah aku pernah tahu apa-apa tentang silat.

***

Tentu saja aku tertawa geli sendiri menemukan diri berdiri dengan posisi yang tidak jelas apakah itu epigon Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Lee, Uwais atau Wak Sampan pendekar Brudu. Untung tak ada siapapun ketika itu. Maka kutoyor kepalaku sendiri, kemudian langsung aku berlari ke kamar kerja, mencari puisi “Doa Mohon Kutukan”, yang ternyata tidak ada. Sungguh buruk dokumentasi hidupku. Pun tak terpikir untuk browsing, karena di samping aku tidak terbiasa dengan dunia internet, juga tidak pernah punya naluri untuk menyangka bahwa di dunia maya itu ada puisiku.

Akhirnya setelah kuhubungi, seorang teman menolong memberi teks puisi 1994 terkutuk itu. Aku baca berulang-ulang sambil mengutuk diriku sendiri.

Dengan sangat kumohon kutukanmu ya Tuhan, jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup, mencari derajat tinggi di hadapanMu, sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya.

Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku, untuk menghalau dengki dari bumi, untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri.

Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia, serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya menanam pohon-pohonMu yang baru.

Ambillah hidupku sekarang juga, jika memang itu diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati, kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia.

Hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini, jadikan duka deritaku ini makanan bagai kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan, asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu.

Jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah. Potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya, seratus berikutnya, dan seribu berikutnya, sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu menjadi terang benderang karena keikhlasan.

Jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan dibutuhkan kekalahan para hambaMu yang lain, maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu ia menundukkan wajahnya di hadapanMu.

Jika untuk mengusir muatan kedunguan di balik kepandaian hambaMu diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain, maka hancurkan dan permalukan aku, asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir di hatinya.

Jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku.

Jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku, maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku.

Jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu.

Demi Engkau wahai Tuhan yang aku tiada kecuali karena kemauanMu, aku berikrar dengan sungguh-sungguh bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang kudambakan, bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan, serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan.

Demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku, aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat, hidupku hanyalah tanpa henti memandangMu sampai kembali hakikat tiadaku.

(1994)

Pelan-pelan kubaca kembali, kupelajari lagi, kuselami hingga huruf demi huruf. Untuk menghormati orang yang memprotesku, kuletakkan diriku sebagai orang terkutuk yang membuat doa terkutuk.

Di setiap awal langkah, apapun dalam kehidupan ini, yang kutuding dan kucari kesalahannya adalah diriku sendiri. Nanti pelan-pelan kurenungi Doa Mohon Kutukan itu. Tetapi dasar sikapku adalah bersiap mengakui bahwa doaku adalah dosaku.

Dan akhirnya, dengan rasa sedih dan penuh keprihatinan, saya temukan betapa banyak kesalahan dan kebodohanku, namun sementara supaya aku kuat menanggung beban rasa dosaku: kuambil lima saja.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
1 Pebruari 2016