Catatan Ngaji Bareng HUT TNI ke-71 dan Sumpah Pemuda, Blora 28 Oktober 2016

Doa Langit Bumi untuk Penjajah Indonesia

Tidak peduli dari atau di titik manapun, langkah yang diambil adalah langsung bergerak ke langit. Agar Allah bersegera menolong dan menyelamatkan Indonesia.

Begitu sampai waktunya, Cak Nun naik ke panggung bersama tokoh masyarakat. Mikrofon dipegang, dan langsung Cak Nun memulai dengan berdoa agar siapapun yang memecah belah kesatuan Indonesia segera didatangi Malaikat Zabaniah dan diseret di depan Allah, siapapun yang merampok kekayaan tanah air Indonesia akan segera berhadapan dengan Malaikat Syahlatus Syams, dan siapapun yang menyakiti hati rakyat Indonesia segera didatangi malaikat Malik untuk mendapatkan hukuman dari Allah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Cak Nun hendak mengajak semua hadirin dan jamaah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syukur sebagaimana pada sejumlah Maiyahan, tetapi malam ini racikannya berbeda dari biasanya. Yakni dilengkapi dengan gerak langsung ke langit. Dua lagu itu dikawal dengan doa. Yang pertama dengan permohonan kepada Allah agar tiga Malaikat kekuasaan dan keadilan Allah diperintahkan untuk turun tangan, dan kedua, doa yang dimohonkan dipimpin oleh Kiai Mucharror Ali. Sesudah lagu Indonesia Raya, lagi-lagi tak seperti biasanya, Cak Nun mengumandangkan Adzan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Prinsip Cak Nun jelas. Tidak peduli dari atau di titik manapun, langkah yang diambil adalah langsung “bergerak” ke langit. Agar Allah bersegera menolong dan menyelamatkan Indonesia. Lagu Indonesia Raya mengumandang dengan penuh jiwa nasionalisme. Demikian pula dengan lagu Syukur. Dua lagu ini beserta pengantar dan penegasan-penegasan Cak Nun di awal membuka Ngaji Bareng yang berlatar belakang HUT TNI ke-71, Hari Sumpah Pemuda, dan Hari Santri. (hm/adn)