Reportase

Diskusi bersama Pak Pipit Rochiyat Kartawidjaja

Perlawanan seorang Pipit terhadap rezim Orde Baru memang bukan perlawanan seperti yang dilakukan oleh para aktivis kebanyakan.

Jum’at, 23 September 2016, penggiat Kenduri Cinta berkesempatan untuk belajar bersama Pipit Rochiyat Kartawidjaja yang pada Kenduri Cinta edisi September lalu turut hadir di Taman Ismail Marzuki. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, bahasan materi yang disampaikan oleh Pak Pipit dalam setiap forum yang mengundang beliau untuk berbicara tidak lepas dari pembicaraan Politik. Pak Pipit sendiri adalah yang menulis buku Pemerintah bukanlah Negara.

Setelah menyantap makan malam yang sederhana, semua berkumpul di ruangan Aula Edotel SMKN 27 Jakarta. Di awal, Fahmi yang bertugas memoderasi diskusi kali ini berinisiatif untuk meminta Pak Pipit sedikit bercerita perjalanan hidup beliau hingga akhirnya memutuskan hijrah ke Jerman. Masa kecil Pak Pipit sendiri dihabiskan di Ngadirejo, Kediri. Sedikit banyaknya Pak Pipit ikut merasakan situasi ketegangan politik pada tahun 60-an dimana pada saat itu salah satu peristiwa yang sangat menyita perhatian dunia adalah pemberontakan salah satu partai politik yang berideologi komunis di Indonesia; PKI.

20160927-pipit-01

Menyinggung konflik politik saat itu tersebut, Pak Pipit berpendapat bahwa untuk menyelesaikan konflik tersebut yang hingga saat ini masih belum diputuskan siapa yang bersalah. Menurut Pak Pipit, memang harus ada pihak yang bertanggung jawab, dan dalam hal ini menurut Pak Pipit, Negara harus mengambil tanggung jawab tersebut. Persoalan bahwa kemudian siapa yang disalahkan, itu ditentukan kemudian. Menurut Pak Pipit, akibat peristiwa pembantaian massal pendukung PKI saat itu, maka pada rezim-rezim selanjutnya kemudian peristiwa penculikan, penghilangan hingga pembunuhan terhadap manusia akibat dari konstelasi politik di Indonesia pun kembali terulang tanpa kita mengetahui siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Karena Indonesia menyatakan diri sebagai Negara Hukum, sudah seharusnya hukum ditegakkan untuk menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Menentang Orde Baru

Pak Pipit kemudian bercerita bahwa pasca peristiwa tersebut, beliau memutuskan untuk hijrah ke Jerman. Sekitar tahun 1971 beliau meneruskan pendidikan ke Jerman. Sebenarnya, latar belakang pendidikan Pak Pipit bukanlah Ilmu Politik, beliau justru merupakan seorang sarjana muda teknik elektro. Namun, kecintaan beliau dalam berorganisasi ketika menjadi mahasiswa di Jerman mengantarkan beliau untuk mendalami Ilmu Politik. Pada saat menjadi mahasiswa di jerman, Pak Pipit terpilih menjadi Ketua PPI di Berlin. Pada saat Orde Baru berkuasa, Pak Pipit sendiri merupakan salah satu orang yang getol melawan rezim tersebut. Dalam satu kesempatan beliau berkisah, bahwa hampir setiap peringatan 17 Agustus diundang oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jerman. Dalam kesempatan itu, tidak jarang beliau beserta teman-teman beliau yang melawan rezim Orde baru dibujuk oleh Pejabat yang bertugas disana untuk menghentikan perlawanan mereka terhadap Orde Baru.

Ada satu kisah yang cukup menarik, di tengah perlawanan Pak Pipit terhadap rezim Orde Baru, itu tidak berpengaruh pada hubungan baiknya dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Sering kali Pak Pipit diundang oleh Konsulat untuk sekedar makan malam bersama para pejabat itu. Kenakalan Pak Pipit seringkali muncul dalam pertemuan itu, melihat banyaknya makanan mewah yang dihidangkan, Pak Pipit tidak segan meminta dengan terus terang untuk membawa makanan-makanan itu dibawa pulang ketika acara usai. Sehingga, seringkali Pak Pipit membawa banyak makanan setelah diundang oleh Konsulat untuk makan malam.

Ada banyak kekonyolan-kekonyolan Pak Pipit semasa hidup di Jerman, kekonyolan yang lain adalah ketika pada suatu hari beliau didatangi oleh seseorang yang mengaku dirinya adalah anggota BAKIN yang saat ini dikenal dengan BIN. Orang yang mendatangi Pak Pipit itu ditertawakan oleh Pak Pipit karena mengaku sebagai anggota BAKIN tetapi giginya ompong. Pak Pipit berseloroh kepada orang itu bahwa tidak mungkin orang BAKIN itu giginya ompong. Selang beberapa hari kemudian orang tersebut datang lagi kepada Pak Pipit dengan gigi yang sudah tidak ompong, sontak ketika bertemu dengan orang tersebut Pak Pipit semakin tidak percaya bahwa orang tersebut adalah anggota BAKIN, karena sudah pasti giginya palsu.

Perlawanan seorang Pipit terhadap rezim Orde Baru memang bukan perlawanan seperti yang dilakukan oleh para aktivis kebanyakan. Provokasinya untuk melawan rezim Orde Baru selama di Jerman mengundang perhatian Soeharto. Karena keteguhan prinsip beliau, Pak Pipit tidak gentar dan terus mengungkapkan perlawanannya terhadap Pemerintahan Orde Baru saat itu, hingga akhirnya Paspor Indonesia milik beliau resmi dicabut oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya beliau berusaha untuk mendapatkan Foreign Card di Jerman, karena pada saat itu tidak memungkinkan bagi beliau untuk kembali ke Indonesia. Dan pada masa itu, beliau kemudian bekerja dalam salah satu Lembaga Pemerintahan di Jerman. Dari sinilah kemudian beliau belajar bahwa pada hakikatnya Negara dan Pemerintah itu sangat berbeda.

Pembahasan diskusi berjalan sangat cair, semua peserta terlibat untuk bergantian melemparkan beberapa pertanyaan kepada Pak Pipit terkait pengalamannya hidup di Jerman. Meskipun memiliki Foreign Card di Jerman, Pemerintah setempat tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Pak Pipit memegang Foreign Card, sehingga tidak ada alasan yang kuat juga bagi Pemerintah Indonesia untuk menangkap seorang Pipit Ruchiyat Kartawidjaja.

Mengenal Cak Nun

Pak Pipit berkisah, pertemuan pertamanya dengan Cak Nun terjadi pada tahun 1983. Saat itu Cak Nun merupakan salah satu rombongan yang datang ke Jerman bersama Gus Dur dan beberapa orang yang lain dan tinggal di rumah Adnan Buyung Nasution. Dari pertemuan itulah kemudian Pak Pipit menemukan kecocokan dengan seorang Emha Ainun Nadjib. Hingga akhirnya pada saat Cak Nun berkelana di Eropa, hampir satu tahun lamanya Cak Nun tinggal di kediaman Pak Pipit. Pak Pipit mengakui bahwa obrolan-obrolan ringan bersama Cak Nun turut mewarnai pemikiran Pak Pipit, bahkan secara eksplisit Pak Pipit menyatakan, Cak Nun adalah guru menulisnya. Tulisan-tulisan Pak Pipit setelah beliau bertemu dengan Cak Nun mengalami perubahan yang siginifikan dalam gaya menulis.

20160927-pipit-02

Ada satu peristiwa yang menarik dikisahkan oleh Pak Pipit, suatu ketika Cak Nun ingin menulis tentang Berlin, sehingga Cak Nun membutuhkan sumber teks untuk dijadikan bahan tulisan. Pak Pipit adalah orang yang sangat rajin menulis apa yang ia alami setiap hari, hampir semua peristiwa yang ia alami ia catat dalam sebuah buku. Bahkan, kenakalan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang belajar di Jerman saat itu, tercatat dengan rapi dalam buku tersebut. Konon bahkan, semua hal yang berkaitan dengan pertemuan Pak Pipit bersama pejabat-pejabat Indonesia di Jerman juga tercatat dalam buku tersebut. Seringkali Pak Pipit mempublikasikan makanan dan minuman yang dipesan oleh Pejabat Indonesia ketika mengajak Pak Pipit untuk sekedar bertemu dan makan siang. Catatan tersebut keesokan harinya dipublikasikan di media massa milik PPI saat itu. Suatu ketika, buku catatan tersebut ada yang mencuri dan memperbanyak kopiannya. Dan tersebarlah buku “catatan hitam” itu ke seluruh teman-teman Pak Pipit di Jerman, hingga suatu ketika Pak Pipit diadili oleh teman-temannya. Cak Nun juga pernah mencantumkan Pak Pipit dalam salah satu tulisannya; Si Pipit Bajunya Hitam, sebuah tulisan yang terkumpul dalam buku Slilit Sang Kiai.

Kedekatan Cak Nun dengan Pak Pipit memang sudah terjalin lama. Cak Nun sendiri mengatakan bahwa tulisan-tulisan dalam buku “Dari Pojok Sejarah” sebagian ditulis di kediaman Pak Pipit di Jerman saat itu.

Pada tahun 1984, Pak Pipit pernah pergi menuju Yunani bersama Cak Nun. Ketika buku “Pemerintah bukanlah Negara” diterbitkan, hanya dua orang yang merasa sepakat dengan buku tersebut saat itu, dua orang itu adalah Emha Ainun Nadjib dan W.S. Rendra. Buku tentang politik justru disadari kebenarannya oleh dua orang seniman. Hampir tidak ada ahli Tata Negara yang menyadari bahwa Pemerintah bukanlah Negara.

Pemerintah Bukan Negara

Seringkali Pak Pipit menjelaskan bahwa pemerintah bukanlah negara. Berdasarkan pengalamannya hidup di Jerman, ketika bayi lahir, maka pada saat itu pula Negara mencairkan semua tunjangan-tunjangannya terhadap bayi tersebut. Tidak peduli siapa kanselirnya, tidak peduli siapa pejabat pemerintahnya, tetapi Negara hadir saat itu. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pemerintah seringkali berlaku sebagai Negara. Tidak jarang, ketika seorang Bupati baru dilantik, kemudian pegawai-pegawai pemerintah mendapatkan mutasi pemindahan kerja hanya karena orang-orang yang bekerja bukanlah bagian dari tim sukses pemenangannya. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena yang seharusnya berlaku adalah seorang pegawai negeri hanya taat kepada Negara, bukan kepada Pemerintah. Dari sinilah Pak Pipit menilai mengapa birokrasi di Indonesia berjalan amburadul. Seharusnya, pegawai negeri sipil hanya taat kepada Negara. Bukan taat kepada Pemerintah. Tetapi, rezim Orde Baru mencantumkan hal tersebut dalam undang-undang, bahwa Pegawai Negeri taat kepada Negara dan Pemerintah yang berkuasa.

Ada banyak hal yang dicontohkan oleh Pak Pipit, di antaranya adalah adanya Rumah Sakit Pemerintah di Indonesia. Di Jerman tidak ada Bank Pemerintah seperti halnya di Indonesia. Hal ini kemudian berlanjut pada salah kaprahnya Aparatur Negara yang dianggap sebagai Pegawai Pemerintah. Pegawai-pegawai di Kementrian seharusnya adalah Pegawai Negara, bukan Pegawai Pemerintah. Di DPR RI, pegawai di Sekretariat Jendral DPR adalah PNS, padahal jelas-jelas nyata bahwa DPR adalah Lembaga Legislatif. Jadi, secara logika, Lembaga Legislatif jika ingin membuka lamaran pekerjaan, ia meminta izin kepada Lembaga Eksekutif yakni Menteri Dalam Negeri agar diberi jatah Pegawai.

20160927-pipit-03

Anehnya lagi, hal ini juga berlaku di beberapa Lembaga Negara di Indonesia. Seperti Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial dan lain sebagainya. Bahkan KPU yang seharusnya menjadi Lembaga Independen justru mendapat jatah Pegawai Negeri Sipil dari Menteri Dalam Negeri. Hal ini menurut Pak Pipit sangat aneh dan rancu. Yang kemudian berakibat pada loyalitas pegawai negeri di Indonesia adalah kepada Pemerintah atau atasan mereka, bukan kepada Negara. Hal ini tidak berlaku di Jerman, karena yang berlaku di Jerman adalah seorang Pegawai Pemerintah taat kepada Negara.

Politik Itu Mulia

Diskusi berjalan sangat hangat dan akrab, Pak Pipit mejelaskan bahwa di Jerman pendidikan politik sudah ditanamkan kepada anak-anak sejak SMP. Sehingga, politik bukanlah menjadi hal yang aneh lagi bagi anak-anak sekolah menengah pertama di Jerman. Anak-anak di sana dikenalkan bahwa politik merupakan sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan mereka. Mereka diberitahu bahwa mulai dari seragam sekolah, jumlah jam pelajaran, kurikulum mata pelajaran, hingga kebersihan sekolah mereka merupakan hasil dari keputusan politik di Jerman. Dari sini dapat disimpulkan mengapa di Indonesia ketika berbicara politik hampir seringkali mayoritas orang berpandangan negatif. Menurut Pak Pipit, setiap kebijakan pemerintah tidak mungkin lepas dari urusan Politik, sehingga tidak tepat jika ada sebuah persoalan yang dihadapi pemerintah kemudian dianggap sebagai politisasi.

Tepat pukul 12 malam, pertemuan Penggiat Kenduri Cinta dengan Pak Pipit Ruchiyat Kartawidjaja ditutup dan dipungkasi dengan berfoto bersama.