9 April 2007

Dikepruk Linggis

Ada orang mati biasa, ada yang mati tidak biasa. Ada penjahat yang mati terhormat ditakziyahi ribuan orang, ada kekasih Allah yang mati kecelakaan dan disebut kuwalat oleh banyak orang. Seorang Ibu Negara Indonesia, yang rezim suaminya dikutuk orang sampai sekarang sebagai biang dari apapun saja derita yang dialami orang sampai hari ini, meskipun presidennya sudah berganti dua kali — meninggal dengan kemewahan, jisimnya diantarkan ke kuburan oleh ratusan ribu orang.

Sementara kekasih Allah yang paling utama, makhluk pertama yang diciptakan Allah dalam bentuk cahaya kemudian kelak dire-eksistensialisasikan sebagai manusia, namanya Muhammad SAW — dikuburkan hanya oleh beberapa orang di tengah malam yang sangat sunyi. Banyak sahabatnya sibuk rapat di ‘KPU’ memperebutkan siapa yang akan jadi Khalifah, sementara beliau dikuburkan hanya oleh istri, anak, menantu dan dua keluarganya yang lain. Itu pun satu dua jam kemudian terjadi penggrebegan atas rumah menantunya — yang dempet dengan rumahnya — untuk memaksa sang menantu menandatangani pengangkatan Khalifah pertama sesudah melalui berbagai sidang ‘MPR’, yang terdiri atas golongan Muhajirin dan Anshor, termasuk sub-subnya baik yang Alwian maupun Matorian, juga kepingan-kepingannya baik yang di Partai Persatuan, Partai Demokrasi, Partai Bulan dan lain-lain.

Bagi hamba-hamba Allah yang berguru kepada Muhammad, yang menemukan bahwa ia adalah madinatul ‘lmu atau kota ilmu, dan menantunya adalah ‘pintu ilmu’ — tatkala mengenang acara penguburan yang menggetirkan hati itu, terngiang-ngiang dua pernyataan Muhammad. Pertama, tatkala naza’ menjelang ajal, Muhammad menyebut-nyebut “Ummatiii, ummatiii, ummatiiii….”. Ia hidup tidak untuk dirinya sendiri, tidak untuk kemegahan eksistensinya atau apapun cultural luxury lainnya. Sehingga dulu, kapan saja ia dihina orang, diludahi, dilempar batu, ia berkata : “Tidak apa-apa engkau memperhinakanku, melupakanku, bahkan membunuhku, asalkan engkau bersedia menerima kebenaran yang diamanatkan oleh Tuhan melalui aku….”

Dan di hadapan jenazah siapapun, salah satu doa dan harapan saya dan teman-teman adalah semoga roh almarhum atau almarhumah tidak hanya diambil oleh Malaikat petugasnya, tetapi juga dijemput langsung oleh ruh Muhammad SAW — yang sangat cinta dan sayang kepada orang-orang kecil, orang-orang lemah, yang dilupakan dan dibikin ketlingsut oleh berbagai jenis informasi.

***

Salah satu ‘kebahagiaan’ hidup saya adalah diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut mengantarkan dan menemani hambaNya melakukan perjalanan monumental dari alam jasmani ke alam rohani. Dari kehidupan yang sebenarnya bukan kehidupan karena dipenuhi oleh kesementaraan, ketidak-hakikian, kepalsuan dan ketidak-abadian — sampai-sampai orang Jawa menyebutnya ‘mampir ngombe’ — menuju kehidupan yang sebenar-benarnya kehidupan, karena hakiki, abadi, sungguh-sungguh, fundamental dan esensial.

Tampaknya puncak karier saya adalah semacam Mudin. Orang baru ingat saya kalau terancam kematian — baik kematian jisim maupun jenis kematian lainnya, misalnya kematian kekuasaan, kematian eksistensi ataupun kematian ekonomi. Itu pun biasanya saya diingat dengan maksud untuk dilupakan.

Saya ditelepon dan mendadak terbang dari Jogja ke Jakarta, langsung rumah sakit, memegangi tangan si sakit, memandunya syahadat dan sabar tawakkal, setengah jam kemudian meninggal. Lantas ribut semua keluarganya, urusan simpang siur, sampai tatkala meninggalkan kamar rumah sakit — saya ketlingsut sendiri di pojokan tanpa seorang pun ingat ada saya, apalagi berpamitan. Untung kata-kata Muhammad di atas sudah menjadi permanent archive file di sel-sel otak saya.

Hari itu di Jakarta sehari ke tiga rumah sakit untuk peristiwa yang sama, meskipun kejadian yang di rumah sakit agak murah agak lebih sopan dibanding yang di rumah sakit elit. Ada lagi di rumah sakit lain yang pasiennya sudah meninggal secara fisik namun tinggal jantungnya yang masih ‘mbuntut cecek’. Setelah selesai berdoa dan Allah memanggilnya, si Ibu almarhum menghampiri saya dan berkata: “Berapa sangunya Pak?”

***

Yang indah yang saya ingat waktu menulis ini ada tiga almarhum. Seorang petinju koma satu setengah hari. Kita temani hati Bapaknya yang juga pelatihnya, Ibu dan semua keluarganya. Kita bikin mereka gembira dan bangga pada anaknya. Kemudian kita temani detik-detik terakhir naza’ — dan begitu nyawa melayang, sang Bapak berpidato keras-keras: “Lihat saudara-saudara! Pandanglah betapa gantengnya wajah pahlawan saya! Lihat betapa gagahnya! Ia bersedia mati untuk jihad bagi penghidupan keluarganya!”.

Yang keindahannya sangat dahsyat adalah seorang suami yang kepalanya dikepruk linggis oleh istrinya sendiri. Jatuh terkapar. Salah satu ujung linggis ditancapkan ke salah satu mata suaminya. Tapi selama di rumah sakit, kecuali keadaan kepala dan wajahnya, sang suami tetap hangat badannya, gagah dan lancar nafasnya. Bisakah engkau bayangkan bagaimana perasaan dan kondisi kejiwaan dua orang anaknya yang masih SMP? Yang tidak hanya berduka, tapi juga malu karena Bapaknya mati oleh tangan Ibunya sendiri? Kalau kedua anak itu ambyuk di pangkuanmu, apa yang engkau lakukan dan katakan kepada mereka?

Alhamdulillah begitu berjalan beriring-iringan ke makam, kepala mereka tegak, juga semua keluarganya, wajah-wajah mereka penuh kegagahan dan kebanggaan. Karena kedua orangtuanya insyaallah masuk sorga. Sang istri stress berat sejak bertahun-tahun sehingga bebas dari hisab Allah, suaminya menemani dengan penuh kasih sayang dan kesetiaan, sebagaimana ia menyayangi puluhan kanak-kanak di kampungnya serta siapapun saja tetangga-tetangganya. Ia menolak istrinya dibelok. Tapi kemudian kecolongan linggis itu….

Kemudian yang ketiga. Seorang istri yang di dalam dirinya menyimpan ganjalan sangat berat karena menyangkut nilai-nilai mendasar yang sudah tertanam sejak kanak-kanaknya. Ia introvert, semua itu dipendamnya sendiri. Sampai mempengaruhi hormon-hormonnya, metabolismenya, menciptakan ganjalan dan pemadatan-pemadatan sel tertentu — yang mungkin saja dari situ asal usul kankernya.

Kemudian tatkala datang seseorang yang membisikinya “Bagaimana kalau nikah Ibu dan Bapak diperbaharui” — ia menangis total dan muntah-muntah seakan-akan membuang segala ganjalan hidupnya selama ini. “Memang itu yang menjadi isi batin saya selama bertahun-tahun. Kalau suami saya menolak pembaruan nikah, malam ini juga saya minta cerai….”

Fisiknya yang sudah habis dan sangat lemah kemudian menjadi agak membaik sesudah pelepasan itu. Tapi itulah candle light phenomenon: kalau nyala lilin membenderang, beberapa saat kemudian ia akan padam. Namun yang disebut padam itu adalah bahwa Allah sudah ridha atas niatnya dan menerimanya dalam keadaan husnul khatimah.