Sinau Bareng Kuduran Budaya Wanayasa, 25 September 2016

Daya Kesatuan Hidup di Wanayasa

Cak Nun sangat menekankan agar Wanayasa jangan sampai menjadi gelandangan di kampung sendiri. Wanayasa harus menjadi milik Wanayasa.

Satu per satu, orang-orang melangkahkan kaki. Yang pria rata-rata mengenakan jaket atau pakaian tebal, sebagian mengenakan tutup kepala. Sedikit demi sedikit sampai akhirnya memenuhi lapangan. Ketika Cak Nun tiba, sebuah kesatuan terbentuk, kesatuan antara Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan masyarakat. Untuk sekian jam ke depan, kesatuan ini akan rekat, dekat, dan lengket untuk sebuah proses agar masing-masing bagian dari kesatuan ini pulang dari lapangan ini menjadi pilahan yang siap menyatu dengan “pasangan-pasangannya” dalam terapan kehidupan yang luas. “Manusia harus bebojoan (bersuami-istri) dengan alam,” pesan Cak Nun.

Suhu dingin tak menghalangi kebersamaan ini
Suhu dingin tak menghalangi kebersamaan ini. Foto: Adin.

Desa merupakan satuan di mana kesatuan atau persuami-istrian kondusif diwujudkan. Nilai-nilai budaya dan mata pencaharian mayoritas yang berbasis pertanian menjadi perwujudan dari kesatuan itu.

Kegiatan Kuduran Budaya yang dipuncaki malam ini juga demikian adanya. Titik beratnya pada ‘desa’. Itu sebabnya Cak Nun sangat menekankan agar Wanayasa jangan sampai menjadi gelandangan di kampung sendiri. Wanayasa harus menjadi milik Wanayasa.

Wanayasa harus menjadi milik Wanayasa
Wanayasa harus menjadi milik Wanayasa. Foto: Adin.

Kesatuan malam ini sangat terasa. Dari pojok lapangan hingga yang berdiri di kanan-kiri panggung, semuanya mendengarkan dan mencerna apa yang disampaikan Cak Nun. Mereka sudah masuk pada Sinau Bareng. (hm/adn)