Daur (200)

Dauriyatullah

Ta’qid : “Keluar dirinya ia menyebarkan kemudahan, kelonggaran dan kelapangan. Tetapi ke dalam dirinya sendiri ia memasang pagar-pagar tinggi tebal batasan-batasan dan larangan-larangan...”

Bisa jadi Markesot adalah pedagang yang sebenarnya lumayan sukses. Seluruh hidupnya, jiwa raganya, harta bendanya, akses dan modalnya, serta apapun saja yang ada padanya — ia bayarkan kepada Tuhan untuk membeli ridlo-Nya.

Sejak kanak-kanak, ia terlanjur memiliki, memakai dan menerapkan pemahaman rumus dasar hidup dari Pencipta dan Pemiliknya: “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Apa saja, segala sesuatu, seluruh jagat raya, apalagi sekadar kekerdilan dirinya serta apapun saja yang ada padanya, yang merupakan hibah dari Tuhannya, oleh Markesot tidak dijual untuk memperoleh dunia.

Tetesan keringatnya tidak ia bayarkan untuk mendapatkan kekayaan keduniaan. Setiap gerak otot dan sarafnya tidak ia pakai untuk mengongkosi perolehan harta benda. Setiap huruf dari ilmu dan pengetahuannya tidak ia setorkan agar memperoleh laba dunia. Segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan ada padanya, tidak ia gadaikan untuk mendapatkan kejayaan keduniaan, kemegahan, kemewahan, kehebatan, atau segala jenis yang kebanyakan orang di dunia meyakininya sebagai sukses.

Markesot sangat lembut dan penuh kasih sayang kepada siapapun saja yang ada di sekitarnya, tetapi sangat keras dan kejam kepada dirinya sendiri. Keluar dirinya Markesot menyebarkan kemudahan, kelonggaran dan kelapangan. Tetapi ke dalam dirinya sendiri Markesot memasang pagar-pagar tinggi tebal batasan-batasan dan larangan-larangan.

Sejak kecil Markesot menutup sendiri jalannya untuk memasuki dan mendaki keberhasilan dunia. Di kalangan tertentu ia sangat populer, sehingga ia lari terbirit-birit meninggalkan popularitasnya itu, meskipun terkadang ia tidak sanggup menghindari kejaran popularitas kepadanya, meskipun di lingkup yang terbatas.

Sejak muda Markesot melarang dirinya untuk menunjuk-nunjukkan kemampuannya, untuk memamer-mamerkan kehebatannya, untuk menonjol-nonjolkan keistimewaannya, apalagi menawar-nawarkan dirinya agar dipilih untuk menjadi ini itu. Dan sejak ia mulai dewasa ia bersembunyi dari riuh rendah Pasar Dunia. Ia berlindung kepada Tuhan dari ambisi untuk menguasai pasar. Ia menaburkan banyak modal ke orang-orang yang memerlukannya agar mereka bisa bertahan hidup selama bertugas di dunia, tetapi ia sendiri tidak melakukan perdagangan apapun kecuali yang langsung kepada dan dengan Allah.

Ternyata jenis keputusan yang ia ambil itu karena ia meyakini Dunia bukan Pasar tempat ia menjual dirinya. Ia tidak pernah melarang teman-temannya untuk berjual beli di dunia, sepanjang konteks ideologi besarnya adalah prinsip jual beli dengan Tuhan, yang dilaksanakan tentu saja dengan aturan main yang digariskan oleh Tuhan.

Pasarnya Markesot adalah akhirat. Konsumennya adalah Tuhan sendiri, karena sejatinya Ia adalah Maha Produsen, sehingga hanya Ia pula yang berhak menerima kembali apa saja yang telah diproduksi-Nya. Tuhan memberi tanaman padi, manusia mengolahnya menjadi gabah, beras kemudian nasi. Maka kewajiban pemegang nasi adalah mengembalikannya kepada Pemilik Padi, melalui proses nilai dan aturan main yang memungkinkannya diterima kembali oleh-Nya.

Proses nilai dan aturan main itu sudah sangat terang benderang dituturkan oleh Maha Pemilik Padi dalam firman-firman-Nya. “Allah telah membeli kepada orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan sorga kepada mereka”. Tidak sedikit pun keberanian ada pada diri Markesot untuk tidak membawa nasi menuju Allah kembali.

Sukses perniagan dalam kehidupan bukanlah terletak pada berapa ribu hektar manusia bercocok tanam, pada berapa ribu ton padi ia berpanen, berapa ribu gudang beras ia menghimpun, atau berapa juta bungkus dan piring nasi ia meniagakannya. Melainkan terletak pada apakah dengan padi, beras dan nasi itu manusia menempuh “daur” agar fungsi nasi itu kembali ke pangkuan penerimaan dan ridlo Allah atau tidak.

Mungkin itulah sebabnya kenapa Markesot sangat tidak pandai menikmati dunia. Sekian puluh tahun Tarmihim dan Sundusin mengenalnya, orang tua ini habis hatinya dan terkuras tenaga batinnya untuk bersedih, memprihatini manusia, merasa sengsara oleh kehidupan di sekitarnya, bahkan di seluruh dunia, yang menjalani hidupnya di lingkar edar daur dari dan ke Allah.

Tuhan menaburkan petunjuk, manusia menerimanya dan memakainya untuk membeli kesesatan. Yang dimaksud kesesatan adalah jalan yang ujungnya bukan kelegaan ridlo Allah. Adalah jalur yang buntu, tidak membawa pejalannya ke kebun indah yang luasnya melebihi luasnya alam semesta. Adalah lajur ilmu, ideologi, sistem nilai, institusi, Negara, dan apapun yang memerosokkan para pelakunya ke fakta lain di luar kebun jannatunna’im.

Tidak lama lagi dunia yang diagung-agungkan oleh manusia ini akan berakhir jatah pakainya. Di setiap keremangan malam Markesot melihat betapa amat dekatnya masa depan yang Tuhan memudahkan manusia dengan menyebutnya akhirat itu. Betapa hanya beberapa langkah di depan kehidupan dunia yang gegap gempita ini akan ditutup layarnya. Hanya beberapa saat lagi, hanya beberapa penggalah jaraknya di depan mata, setiap dan semua manusia akan sangat terkejut tatkala mendadak mengetahui jalan yang selama ini ditempuhnya.

Markesot adalah seorang manusia kecil tapi hatinya memeluk dunia. Seorang hamba kerdil tapi cintanya tidak menyisakan bagian manapun dari entitas alam semesta. Tarmihim dan Sundusin tidak heran kenapa terjadi percepatan pada proses penuaan Markesot. Tentu saja. Karena pasti ia ngeri menyaksikan betapa banyak manusia yang melakukan perjalanan tidak di Garis Edar Dauriyatullah.

Dan pasti lebih mengerikan lagi karena ternyata mungkin Markesot menemukan dirinya sendiri ada di tengah barisan antrean menuju lembah panas ujung kesesatan peradaban manusia.