Dari Maiyah Hingga Puasa Intan Berlian

Maiyah merupakan penyederhanaan dari Ma’iyatullah yang artinya bersama Allah. Atau kebersamaan dengan Allah. Selain itu, Maiyah juga mengandung arti pertolongan, perlindungan atau pengawasan. Menurut Cak Fuad dalam buku Ma’iyah di dalam Al Quran, Maiyah kemudian bisa diartikan sebagai kebersamaan dua pihak dalam ruang, waktu, atau keadaan tertentu. Bisa juga diartikan kebersamaan yang menyiratkan makna penjagaan, perlindungan, pertolongan dan pengawasan.

Masih menurut Cak Fuad, Maiyah Allah dengan para hambaNya bisa mengandung dua makna. Pertama adalah maiyah adz-dzat dalam arti Allah bersama hamba dengan Dzat-Nya. Sementara yang kedua adalah maiyah ash shifat dalam arti Allah bersama hamba dengan sifat-sifatNya.

Sedangkan secara kualitatif, Maiyah bisa dibedakan menjadi dua, yaitu maiyah umum dan maiyah khusus. Maiyah umum adalah kebersamaan Allah dengan segenap hambaNya, siapa saja tanpa kecuali. Baik itu orang baik atau orang jahat, orang yang percaya ataupun tidak percaya kepada Allah. Siapa pun orangnya, apa pun “agama” yang dianutnya. Sedangkan Maiyah khusus adalah kebersamaan Allah dengan hamba-hambaNya yang tertentu saja. Misalnya hamba-hamba yang beriman, para rasul dan orang-orang saleh.

Menurut Syaikh Nursamad Kamba, dalam sejarah, konsep Maiyah pernah digunakan tiga orang sejak zaman Rosulullah saw. Pertama adalah oleh Rosulullah sendiri ketika Beliau dan Abu Bakar bersembunyi di gua Tsur sementara tentara Quraisy Mekkah yang mengejar-ngejar keduanya sedang berada di luar mulut gua. Kekhawatiran Abu Bakar bahwa Rosulullah akan mendapatkan celaka ditenangkan oleh Rosulullah dengan mengucapkan Allah bersama dengan kita.

Kedua, konsep Maiyah digunakan oleh Ibnu Arabi, seorang sufi besar kelahiran Andalusia yang pengaruhnya sangat kuat dan luas hingga saat ini. Sedangkan yang ketiga, konsep Maiyah digunakan oleh Syaikh Yusuf Al Makassari, ulama dari Sulawesi Selatan yang dibuang oleh Belanda ke Afrika Selatan. Sedangkan yang keempat, Maiyah digunakan oleh Cak Nun.

Dimensi-Dimensi Maiyah

Dalam konteks Cak Nun dan komunitasnya, jika menyebut Maiyah, maka kita akan menemukan beberapa pengertian sekaligus.

Pertama, Maiyah dipahami sebagai jejaring pengajian di beberapa kota dimana Cak Nun berperan sebagai pusat orbitnya. Karena berada pada habitat budaya Jawa, maka Pengajian Maiyah lebih mudah diucapkan sebagai Maiyahan. Baik pengajian itu dihadiri secara langsung oleh Cak Nun maupun tidak. Saat ini, jejaring pengajian tersebut telah berkembang menjadi puluhan pengajian di Jawa, Sumatra, Sulawesi hingga Korea Selatan.

Kedua, Maiyah dipahami sebagai nama komunitas — jam’iyyah — yang mengorbit pada pengajian-pengajian Maiyahan. Sehingga, jamaahnya disebut sebagai Jamaah Maiyah. Jamaah Maiyah sendiri memiliki spektrum yang luas. Seseorang bisa merasa dirinya menjadi Jamaah Maiyah dengan menghadiri Maiyahan secara rutin, menghadiri sesekali saja bahkan hanya dengan menonton video Maiyahan di youtube tanpa pernah hadir secara langsung pun seseorang bisa merasakan dirinya bagian dari Jamaah Maiyah.

Sedangkan yang ketiga, Maiyah dipahami sebagai konsep dasar ruhiyah yang menjadi pondasi dari keberadaan Cak Nun dan komunitas dalam orbitnya. Maiyah bukan hanya memiliki dimensi materi berwujud pengajian dan orang-orang yang mengorbit padanya, namun juga memiliki dimensi immateri berupa kesadaran terus menerus akan hubungan langsung manusia dengan Tuhannya. Dimensi ketiga inilah yang akan kita bahas lebih lanjut dibawah ini.

Maiyah sebagai Persaksian Tauhid

Minimal satu setengah dasawarsa terakhir, dalam pandangan sosiologis, kehidupan ber-Islam terasa kian terkotak-kotak, kaku dan menyempit. Setelah pada masa sebelumnya ketegangan antara dua aliran mainstream di Indonesia — Syafiiyah dan Muhammadiyah — sudah mereda, belakangan tumbuh atau datang aliran-aliran yang kembali menimbulkan ketegangan sosial. Bahkan mengarah pada perpecahan ummat Islam. Hal ini bermula dari pandangan bahwa Islam di Indonesia dan Asia Tenggara secara umum dianggap Islam pinggiran yang belum sepenuhnya Islam sehingga menjadi sasaran “pemurnian” oleh Islam di pusat (timur tengah).

Lebih jauh lagi, ketegangan dan potensi perpecahan ini sebenarnya bisa ditelusuri jejaknya sejak dari sejarah awal Islam. Dan kesimpulan dari penelusuran itu secara sederhana adalah ketegangan-ketegangan tersebut sudah tumbuh sejak Rosulullah wafat karena tafsir yang berbeda dari masing-masing individu sahabat/tabiin atas Islam. Masing-masing pemikiran kemudian berkembang sebagai aliran yang menumbuhkan para pendukung. Sehingga, jadilah kelompok-kelompok yang setiap kelompok merasa dirinya yang paling akurat menerjemahkan Islam sesuai yang dikehendaki Allah dan Rosulullah. Sikap inilah yang akhirnya menumbuhkan bibit-bibit permusuhan.

Selain itu, ketegangan dan potensi perpecahan juga disebabkan oleh menguatnya corak Islam yang berorientasi kepada fiqih belaka. Gejala menguatnya corak Islam fiqih yang bersifat eksoteris ini tidak diimbangi dengan dimensi ke-Islam-an yang lain, yaitu dimensi esoteris yang berpembawaan santun karena mengedepankan aspek batiniah dan substansi. Hal ini mengakibatkan dakwah Islam lebih terasa mengancam dan “berwajah garang” dibanding mengayomi dan menyejukkan.

Maiyah sejatinya merupakan antitesis dari fenomena zaman ini atau lebih tepatnya jawaban dari kebutuhan zaman ini. Bahkan, seperti pernah disampaikan oleh Cak Nun,”Maiyah bukan karyaku, namun merupakan titipan dari Allah.” Dalam arti, Maiyah tidak lahir dan tumbuh dari inisiatif pribadi Cak Nun. Terlebih dalam kaitannya dengan strategi-strategi tertentu untuk mengorganisir ummat Islam atau masyarakat secara luas. Maiyah lahir diluar kehendak dan inisiatif pribadi Cak Nun.

Kalau kita menyimak mundur ke tahun-tahun awal kehidupan Cak Nun, memahami dimensi-dimensi kehidupan Cak Nun, pergaulan dan persinggungan Cak Nun dengan orang-orang di desanya, hubungan Cak Nun dengan orang-orang yang diyakini sebagai Waliyullah, perilakunya sehari-hari, keteguhan sikapnya, training ruhaninya, dan seterusnya, maka kita sejak mula sebenarnya sudah bisa melihat kecenderungan Cak Nun pada “pola hubungan manusia dengan Tuhannya” yang berbeda dengan pemahaman pola-pola hubungan yang ada pada masa ini. Sehingga, boleh kita sebut bahwa Maiyah sejatinya merupakan kristalisasi dan sublimasi dari seluruh kerangka kerja kehidupan ruhani Cak Nun selama ini.

Maiyah memperkenalkan manusia langsung kepada Allah. Maiyah menempuh model “mencari jalan kembali kepada Allah” dengan terlebih dahulu memperkenalkan Allah kepada manusia. Memaparkan siapa Allah, apa motivasi Allah menciptakan alam semesta dan manusia, apa tujuan penciptaan, bagaimana cara Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia, dst. Dari situlah Jamaah Maiyah mengetahui apa sebenarnya agama.

Setelah sampai kepada apa urgensinya agama bagi kehidupan manusia, baru kemudian mereka dipersilakan memilih metode (manhaj) yang akan digunakannya untuk berhubungan dengan Allah secara bebas dan berdaulat. Apakah mereka akan memilih metode yang dikembangkan para Imam Madzhab, memilih bermadzhab tanpa mengikuti Imam madzhab atau metode-metode yang lain dipersilakan sepanjang ujung jalan yang ditempuh itu adalah Allah yang Maha Perkasa.

Sejauh ini, pemikiran-pemikiran dan model-model yang telah dikembangkan para pemikir Islam dalam “mencari jalan kembali kepada Allah” adalah sebaliknya, yaitu melalui belajar metode-metode (manhaj) terlebih dahulu. Hal ini menjadi kontraproduktif ketika ada banyak dan beragamnya metode. Maka, seringkali yang terjadi bukan bagaimana mengenal Allah dengan metode yang ada, melainkan terjebak pada perdebatan metode mana yang paling benar dengan melupakan tujuan asalnya.

Puasa Intan Berlian

Dalam Dunia Maiyah, Cak Nun ibarat ruh. Sedangkan Jamaah Maiyah dan Jam’iyyah Maiyah ibarat jasad. Cak Nun ibarat akal, Jamaah Maiyah dan Jam’iyyah Maiyah ibarat tindakan. Secara sederhana boleh dikatakan bahwa Maiyah adalah perwujudan, peleburan atau — meminjam istilah tasawuf — tajjali dari Diri Cak Nun. Sehingga, menyebut Cak Nun dan Maiyah sesungguhnya menyebut sesuatu yang jumbuh.

Menurut pandangan Maiyah, kehidupan dunia ini sesungguhnya adalah ujian dengan Iblis yang ditunjuk oleh Allah sebagai panitia pelaksana ujian. Iblis menggunakan dunia sebagai soal-soal ujiannya. Jika manusia berhasil melewati ujian itu dengan baik, maka Allah telah menunggu dengan “hadiah” yang serupa intan berlian.

Maka, Maiyah memohon kepada Allah agar Allah menuntun para Jamaah Maiyah untuk mempuasai dunia. Mengosongkan hati. Puasa dari segala yang tidak sejati. Dan kemudian berupaya sekuat tenaga mengisi hati Jamaah Maiyah hanya dengan Allah saja, dan Rosulullah KekasihNya. Sehingga, Jamaah Maiyah selalu terhubung, senantiasa terkoneksi dengan rahmat dan kasih sayang Allah dimana pun, kapan pun dan dalam keadaan bagaimana pun.

Dunia dan segala isinya hanyalah mutiara-mutiara fatamorgana, intan-intan fana yang berusaha menyembunyikan dan menukar kefanaan seolah-olah adalah keabadian. Maka, Maiyah memohon agar Jamaah Maiyah merelakan, mengikhlaskan dan ridho atas apa pun yang Allah limpahkan dan timpakan kepada kehidupannya. Gembira mengalami keadaan seperti apa pun di dunia yang sehambar batu karena menyadari bahwa apa pun keadaannya, itu adalah Kehendak Allah Yang Maha Bijaksana sembari tak pernah putus memohon dan mengharap dengan sangat semoga Allah menyiapkan kehidupan yang indah bak Intan Berlian diSisiNya.

Selamat Datang Kembali di Malang Cak Nun, Kiai Kanjeng dan Jamaah Maiyah Nusantara!

21 Juni 2016

* Cetak miring adalah kutipan sajak Cak Nun: Puasa Intan Berlian