Daging Mangga dan Kebiasaan Membuang

Daging mangga dimakan, lalu kulit dan pelok dibuang begitu saja. Itu kebiasaan kita. Tak pernah kulit dan pelok diperlakukan dengan pendekatan baik.

“Mangga, rambutan, dan buah-buah lain itu sebenarnya bukan makanan manusia. Tetapi ia ada untuk pelok, supaya tumbuh yang baru lagi. Tetapi karena manusia tahu mangga dapat dimakan atau dimanfaatkan, maka lalu dimakan, dan akhirnya ternyata kebablasan. Ayam dan telurnya pun juga demikian. Saking kebablasannya, sampai ada ayam yang hanya dipelihara untuk diambil telurnya tanpa ayam itu diberi kebebasan,” ujar Pak Iman Budhi Santosa menguraikan salah satu cara baca atas dodog-seleh atau asal-usul dalam kehidupan.

Lebih jauh, Pak Iman mengatakan, kita makan dan banyak membuang. Daging mangga diambil dan dimakan, lalu kulit dan pelok-nya dibuang begitu saja. Itulah kebiasaan kita. Tak pernah kulit dan pelok-nya diperlakukan dengan pendekatan yang baik, apakah peloknya ditanam kembali atau bagaimana sebaiknya. Yang terjadi adalah kita membuangnya. “Yang demikian itu bisa membuat kita kena kualat. Sejak dulu, saya mengenal dan memahami Cak Nun berada dalam pemikiran atau kecemasan akan hal yang seperti itu.”

Sholat Jum'at di Pendopo Kadipiro
Sholat Jum’at di Pendopo Kadipiro

Pandangan Pak Iman itu disampaikan dalam diskusi santai siang kemarin di Pendopo Kadipiro, dan memang suasana di Pendopo Kadipiro Jumat kemarin cukup ramai. Perwakilan-perwakilan dari unit-unit di lingkaran perkauman Kadipiro ngumpul dan melaksanakan shalat Jum’at di tempat yang sama. Bertindak sebagai imam dan khatib dalam kesempatan itu adalah Mas Makmur dari Nahdlatul Muhammadiyyin dengan muadzin Mas Jamal. Materi khotbah sangat sederhana dan mudah dipahami, yakni keistiqamahan sebagai salah satu ciri kaum muslim. Dan sungguh nikmat, Mas Makmur ngimaminya dengan suara yang indah serta enak.

Usai shalat jumat, para jamaah berbincang santai, saling ngobrol, sembari duduk lesehan di atas lampit rotan Kalimantan yang senantiasa dibeber setiap kali ada pertemuan atau latihan KiaiKanjeng. Siang itu sedianya teman-teman diajak untuk berdiskusi bersama Pak Manu yang beberapa hari sebelumnya bertemu dengan Cak Nun dan Kiai Tohar dan ada banyak hal yang layak di-share. Namun, karena sesuatu hal Pak Manu belum bisa hadir.

Tetapi diskusi santai dan ditemani makan siang dengan lotek dan gado-gado tetap dilaksanakan. Merespons pengantar Kiai Tohar, Cak Nun menjelaskan di depan teman-teman mengenai mangga dan pelok. “Kalau dalam sastra, ada yang disebut strukturalisme. Yaitu kalau Anda membaca karya sastra, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari sastra itu, kalau tidak dengan mempelajari penulisnya. Maka kemudian banyak pengamat atau kritikus sastra yang mengarahkan perhatian untuk mempelajari riwayat penulisnya. Jika Anda makan buah, Anda harus menyatu dengan daun, batang, akar, tanah, dan lain-lainnya yang menjadi milieu bagi lahirnya buah itu. Yang hendak digapai Maiyah adalah tauhid dengan Allah, dan tidak mungkin Anda bertauhid tanpa menyatu dengan bulatan sejarah umat manusia dan bulatan alam semesta itu sendiri.”

Cak Nun memaparkan bahwa selama ini jamaah sudah disuguhi mangga yang sudah teriris dan tinggal dimakan melalui berbagai Maiyahan atau bentuk-bentuk siap makan lainnya, tetapi perlu saat-saat lain di mana jamaah belajar menikmati thariqat bukan sekadar siap menikmati hidup. Itulah alasan mengapa tulisan-tulisan Daur Cak Nun di www.caknun.com bersifat sangat random, acak, dan lompat sana lompat sini. Apa yang disampaikan Pak Iman Budhi Santosa adalah salah satu pembacaan atas karakteristik Daur yang tengah dihidang oleh Cak Nun.

Diskusi Santai
Diskusi Santai

Diskusi siang itu dihadiri teman-teman KiaiKanjeng, Teater Perdikan, Nahdlatul Muhammadiyyin, Letto, Perpus EAN, dan Sabana. Juga hadir Mas Seteng, salah seorang alumni Universitas Patangpuluhan, dan pernah pula turut keliling bersama KiaiKanjeng sebagai vokalis. Tetapi yang siang itu digali dari dia adalah sejarah teater. Mas Seteng adalah di antara orang yang ikut berproses kreatif sebagai aktor aktor dalam pementasan-pementasan teater yang naskahnya ditulis oleh Cak Nun, dan yang spektakuler adalah Lautan Jilbab.

Ia bercerita melalui jendela kepergian Agung Waskita beberapa waktu lalu. “Saya sangat kehilangan dengan kematian Agung. Momentum kematiannya menurut saya sangat penuh arti: pada saat teman-teman pingin lagi dan hari itu sedianya Agung akan menjadi pembicara dalam diskusi di sini tentang Lautan Jilbab, yang ia menjadi sutradaranya waktu itu. Apakah untuk bergairah kembali, kita harus menunggu kematian? Diam-diam ternyata Agung itu yang nggaris sejarah perteateran Jogja saat itu. Agung adalah orang yang memperkenalkan saya kepada Patangpuluhan,” tutur Mas Seteng.

Kemudian ia bercerita mengenai Lautan Jilbab yang merupakan fenomena dan tonggak sejarah. Lewat Lautan Jilbab ini, Cak Nun bersama teman-teman berada di garis depan dalam memperjuangkan hak wanita muslimah Indonesia untuk mengenakan Jilbab, sebab saat itu di mana-mana perempuan yang mengenakan jilbab dipersulit dan dikucilkan. Pada mulanya Lautan Jilbab adalah puisi panjang Cak Nun yang dibacakan di RDK (Ramadhan di Kampus) UGM yang setahun kemudian diminta oleh Wahyudi Nasution untuk dijadikan Repertoar atau pementasan. Yang mementaskan bukan Sanggar Salahuddin, dan saat RDK itu pemainnya fifty-fifty dari UGM dan Teater Jiwa, dan sempat pentas di Jogja, Surabaya, dan Makassar. Habis itu terjadi pecah atau berdiri sendiri-sendiri dan bikin sanggar masing-masing. Sanggar Salahuddin bermarkas di Gedungkiwo dan Teater Jiwa bermarkas di Ketanggungan. Yang di Ketanggungan ini pernah beberapa kali mementaskan naskah Agung Waskito. Tetapi ini pun kemudian pecah lagi, dan Agung sendiri lantas mendirikan kelompok Titian.

Kelompok Titian inilah yang mementaskan naskah Cak Nun berjudul Santri-Santri Khidhir dengan pentas pertamanya di Islamic Center Surabaya dan selanjutnya di ISI. Sebelumnya Lautan Jilbab digelar di Stadion Wilis Madiun dan mencatat rekor penonton terbanyak sekitar tiga puluh ribuan orang. Dan puncak pementasan drama-puisi Lautan Jilbab ada di Go Skate Surabaya (1991) dan mendapatkan award sebagai pentas terbaik. Nuansa naskah Lautan Jilbab di Surabaya ini berbeda dengan yang waktu di Gelanggang UGM. Yang di Go Skate Surabaya nuansanya lebih penuh kebahagiaan atau ada unsur merayakan. “Dinamika teater yang saya ceritakan tadi porosnya adalah Agung. Dia termasuk orang yang menggaris sejarah pohon perteateran Jogja kala itu. Agung adalah representasi dari sebuah gairah,” ujar Mas Seteng.

Dandim 0729 Bantul Letkol Inf Agus Widianto
Dandim 0729 Bantul Letkol Inf Agus Widianto

Untuk menghormati dan mengapresiasi Agung Waskita, Mas Seteng dan kawan-kawan sebelum shalat Jumat kemarin tengah menggagas dan mempesiapkan peringatan 40 hari meninggalnya Agung Waskita. Berbarengan dengan itu pula, teater Perdikan juga sedang dalam proses menggodog kemungkinan pementasan fragmen ringkas yang rencananya ditampilkan di sejumlah titik-titik Maiyah.

Sementara itu, di sela-sela kesibukan siang hari kemarin pula, Cak Nun meluangkan waktu untuk menerima kedatangan Komandan Kodim 0729 Bantul Letkol Inf Agus Widianto yang didampingi Danramil Kecamatan Kasihan Bantul. “Memang banyak yang harus dirembug, Pak, mengenai kahanan atau situasi saat ini,” kata Cak Nun kepada Pak Agus.