Daur (203)

Cuci Gudang dan Keranjang Sampah

Ta’qid : “Jadi kenapa yang terjadi sekarang malah sebaliknya? Menjadi pengemis ke mana-mana. Mempertukarkan kehebatan dengan kekonyolan. Menjual kehormatan membeli kehinaan. Menggadaikan martabat kebangsaan karena takut kelaparan. Bagaimana mungkin bangsa Indonesia kelaparan?”

Dalam pertemuan sejumlah teman untuk mempersiapkan pertemuan-pertemuan rutin dengan Markesot, tak sengaja muncul pembicaraan yang setengahnya menyimpulkan beberapa kegerahan Markesot di usia tuanya. Ungkapan-ungkapan kegerahan pikiran dan kelelahan hati Markesot itu mereka semua mau tidak mau harus menjadi semacam keranjang sampah.

“Kapan saja kita ketemu Cak Sot, harus siap menjadi tempat buangan barang-barang terbengkalai yang sedang dicuci-gudang oleh beliau”

“Cuci gudang?”

“Ya. Apa lagi namanya kalau bukan cuci gudang. Otak dan hatinya Cak Sot penuh sesak oleh pikiran dan kesedihan yang bertumpuk-tumpuk sesudah pengalaman dan perenungan berpuluh-puluh tahun. Semakin rusak keadaan di luar, pikiran-pikiran Cak Sot makin menjadi sampah”

“Ya betul. Karena tidak berguna bagi masyarakat dan Negara”

“Ada banyak gumpalan emas mutiara permata dalam kehidupan Cak Sot, tapi terbuang sia-sia di got-got sejarah, di parit-parit kotor politik dan kebudayaan”

“Cak Sot tidak mungkin tahan mentalnya harus hidup dengan sampah-sampah di dalam dirinya, maka setahun terakhir ini dia ngomyang seperti orang gila, dan kita yang harus menampungnya”

“Dan tampaknya masih sangat banyak simpanan sampahnya. Kita harus menjadi keranjang sampah raksasa, mungkin lebih besar dari lembah-lembah di antara gunung-gunung”

“Cak Sot orang yang hidupnya berpuasa, tapi perutnya tidak menjadi kosong, justru malah kembung karena penuh sesak oleh sampah-sampah kecemasan dan larahan kesedihan”

“Setiap kali kita bertemu, Cak Sot selalu muntah-muntah…”

“Cak Sot mandiri dan gagah perkasa dengan puasa hidupnya. Karena sendirian. Tidak dibebani apa-apa dan siapa-siapa. Manusia aneh yang sehari-harinya seperti bukan makhluk sosial. Tidak butuh kehangatan dengan lingkungannya. Tahan duduk diam berjam-jam. Tahan merenung dan melamun semalaman. Betah tidak keluar kamar berhari-hari, entah makan apa”

“Mungkin dia itu blasteran Jin atau entah makhluk apa. Cak Sot itu meletakkan hidupnya jauh di luar pagar kehidupan orang banyak. Dia berumah di kutub yang sangat jauh dan berseberangan dengan kutub riuh rendah politik dan kekuasaan Negara. Tapi kalau pas cuci gudang, isinya justru sampah-sampah politik dan semua muatan busuk sejarah”

“Sebenarnya itu sampah bagi Negara dan umumnya masyarakat, tetapi kita yang bisa dan seharusnya luru emas mutiaranya, meskipun kita kebingungan juga dan mati sendiri karena tenggelam di tumpukan logam-logam mulia itu”

“Susahnya emas mutiaranya Cak Sot bersifat rohaniah dan tidak berwujud materi. Andaikan itu emas materiil yang berwujud jasad, kita bisa jual. Kan kita tidak bisa menghidupi anak istri dengan menyuguhkan filosofi di piring serta cairan pemikiran di cangkir”

Teman-teman Tarmihim dan Sundusin tertawa dan setengah menangis. Gembira karena lucu dan sedih karena ada rasa buntu kolektif pada mereka.

“Saya pikir-pikir Cak Sot ini lama-lama persis seperti Indonesia…”

“Kok seperti Indonesia?”

“Bekal alamiahnya kaya raya subur berkah, modal sumber daya kemanusiaannya cemerlang, cerdas, tajam, lantip, kreatif. Sangat potensial untuk menjadi mercusuar dunia. Menjadi cahaya yang menyinari seluruh permukaan bumi. Punya segala sesuatu untuk mengayomi seluruh penduduk bumi. Dikasih Tuhan fasilitas-fasilitas tanah air, materi rohani, intelektualitas spiritualitas dan berbagai macam anugerah dan fadhilah”

“Ya juga ya. Seperti Indonesia”

“Kalau harus bertanding atau bersaing, pasti menang. Kalau mau kasih sayang, punya segala sesuatu untuk menggembirakan ummat manusia, punya potensi dan posisi untuk menjadi Bapak Dunia, Ibu Dunia, Kakek Nenek Dunia. Bisa menjadi tidak hanya penyedia kemakmuran, tapi juga kebijaksanaan, kearifan, keluasan rasa hidup, kejembaran pluralitas kemanusiaan, kesantunan dan kepengasuhan”

“Jadi kenapa yang terjadi sekarang malah sebaliknya? Menjadi pengemis ke mana-mana. Mempertukarkan kehebatan dengan kekonyolan. Menjual kehormatan membeli kehinaan. Menggadaikan martabat kebangsaan karena takut kelaparan. Bagaimana mungkin bangsa Indonesia kelaparan?”

“Karena Indonesia tidak percaya pada dirinya sendiri. Bahkan tidak mau menjadi dirinya sendiri, selalu bergerak untuk menjadi orang lain atau bangsa lain yang disangkanya lebih hebat dari dirinya. Bahkan mereka merendahkan dan menghina diri mereka sendiri. Lebih dari itu, Indonesia bisa malah tersinggung kalau dikasih tahu bahwa mereka orang hebat, karena nenek moyangnya juga hebat. Mereka tidak pernah menghitung kemurahan Tuhan yang dianugerahkan melimpah-limpah. Mereka mungkin berjiwa besar dan luas, tapi berpikiran sempit dan bermental kerdil”

“Jadi Cak Sot itu berjiwa besar dan luas, tapi berpikiran sempit dan bermental kerdil?”.