Jawa Pos, 25 Agustus 2002

Cincin Nusantara dan Lingkaran Dhadu

Maiyah Punya Makna Defeodalisasi

Hampir di setiap forum maiyahan saya bertanya kepada masyarakat yang hadir: “Menurut Sampeyan, para pemimpin kita, katakanlah antara Pak Amien Rais, Mbak Mega, Gus Dur, dan lain-lain, atau posisi antara berbagai kelompok kekuatan elite politik kita, parpol-parpol kita, itu berposisi melingkar saling menghadapkan wajah dan mempertemukan kesamaan-kesamaan, ataukah saling ungkur-ungkuran alias beradu punggung?” Bisa dikatakan semua lingkaran masyarakat di manapun menjawab tegas: “Ungkur-ungkuran.”

Biasanya lantas saya berkata, “Kalau begitu mari kita belajar tidak ungkur-ungkuran. Mari maiyahan. Kita bikin lingkaran keakraban dan kejujuran. Kalau Indonesia yang besar belum bisa ber-maiyah atau melingkar menjadi satu Cincin Nusantara, ya coba kita rintis lingkaran-lingkaran kecil diantara kita sesama orang-orang kecil ini.”

Memang, sejak 21 Juli 2001 terhitung sudah 38 kali di 38 daerah yang berbeda Kiai Kanjeng bersama saya keliling maiyahan. Biasanya mereka pentas seni dengan substansi agama, sekarang tak lagi melakukan pementasan. Pentas itu terdiri atas penonton dan yang ditonton. Kalau maiyahan, itu semacam yang dulu pernah dikenal sebagai teater tanpa penonton. Siapapun yang hadir, tidak menonton, melainkan partisipan, alias pelaku peristiwa itu secara sejajar dengan Kiai Kanjeng dan siapapun disitu.

Bentuk forumnya melingkar. Personel Kiai Kanjeng duduk bersama semua orang membentuk lingkaran. Seandainyapun ada semacam panggung, terbatas level paling tinggi 20 cm. Alat-alat musik juga tergeletak di antara orang-orang yang melingkar. Resikonya set-drum tidak dipakai karena akan menonjol.

Siapakah atau apakah yang terletak di pusat lingkaran? Tidak ada apa-apa secara fisik. Maiyahan memang forum persaudaraan antar manusia yang melingkar dan memusatkan perhatian kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak bisa didudukkan di tengah lingkaran. Ia hanya dibayangkan dan dihadapi secara bathin.

Melingkar ini semacam metodologi komunikasi sosial yang bersifat horisontal sekaligus vertikal. Pelakunya siapa saja, tidak terbatas apa agamanya, sukunya, golongannya, parpolnya. Kesenian hanya alat bantu untuk memesrakan komunikasi dan memperindah suasana. Komunikasi antara orang-orang yang melingkar bisa melahirkan diskusi, perdebatan, perundingan, atau pencarian solusi atas masalah-masalah yang muncul dari jenis atau segmen masyarakat yang berkumpul.

Ternyata, maiyahan ini maknanya berkembang terus bagi yang mengalaminya. Pelan-pelan kami mendapatkan pengertian bahwa fenomena lingkaran maiyah punya makna defeodalisasi perhubungan budaya, pengakraban hubungan universal manusia, saling mengikat dalam kejujuran dan objektivitas, perluasan tanggung jawab sosial dan keilahian. Bahkan maiyah membawa kami ke berbagai pemahaman empiris tentang kosmologi, teologi, fisika, biologi, teknologi, dan peradaban — misalnya tentang revolusi roda….

Tapi sering ada yang nyeletuk, “orang main dhadu dan teplek juga melingkar, Cak!”

Saya coba jawab dengan mengutip firman Allah supaya tampak seperti kiai, “Tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syattaa. Mereka berkumpul melingkar jadi satu, tapi hati mereka terkeping satu sama lain, saling mengincar untuk mengalahkan dan merugikan yang lain. Lingkaran maiyah sebaliknya, melingkar bersama siapa saja saudara sebangsa untuk mencari win-win solution, nggak pake loose, nggak usah ada yang kalah. Bahkan tidak take and give, tapi give and give….”