Catatan Sinau Bareng Cak Nun, Masjid Jami’ an-Nur, Sukodono

Catatan reportase rangkaian malam ketiga Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng akhir tahun di Surabaya-Sidoarjo.

Setelah dua malam berturut-turut menemui masyarakat luas di kota Surabaya, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng dijadwal masuk ke pelosok desa, tepatnya di dusun Dungus Sukodono Kabupaten Sidoarjo. Ini adalah malam ketiga dari rangkaian akhir tahun di Surabaya-Sidoarjo.

Sejak Isya, masyarakat sudah berbondong-bondong memadati halaman Masjid Jami’ an-Nur. Para muda, bapak-bapak, ibu-ibu, dan bahkan juga semua tumplek blek. Panggung KiaiKanjeng menghadap ke Masjid, dan dari posisi ini, KiaiKanjeng tak hanya berhadapan langsung dengan jamaah yang nyambung terus sampai mereka yang duduk memenuhi serambi masjid, tetapi juga memandang  kemegahan masjid an-Nur, karena sebenarnya panggung ini merupakan bagian dari halaman masjid itu sendiri.

Sinau Bareng Cak Nun Sukodono
Sinau Bareng Cak Nun Sukodono

Melihat masjid ini, mengapresiasi semangat para penyelanggara di sini, Cak Nun mendoakan agar semua masyarakat yang terlibat dalam keikhlasan membangun dan ngopeni masjid ini mendapatkan pembukaan atau kemenangan dari Allah. Cak Nun menjabarkan kemenangan yang dimaksud berdasarkan ayat-ayat awal surat al-Fath. Kemenangan yang nyata yang diberikan itu isinya adalah pengampunan atas dosa-dosa yang sudah berlalu (meskipun jangan lantas menggampangkan perbuatan dosa), kemudian penyempurnaan nikmat dari Allah, bisa berwujud jualan anda makin laris, anak-anak anda sehat, anda sembuh dari dari sakit anda, atau anda semakin rajin beribadah; dan tak hanya disempurnakan nikmat itu, tapi juga diberi petunjuk terus oleh-Nya (hampir melakukan kekeliruan tapi Allah langsung menyelematkan untuk tidak jadi melakukan kekeliruan itu), dan yang terakhir Allah memberikan pertolongan kepada kita dengan pertolongan yang bukan hanya pertolongan tetapi pertolongan yang sungguh-sungguh.

Berada di desa di Jawa Timur ini Cak Nun melangsungkan komunikasi dengan jamaah dengan bahasa Jawa Timur yang enak dan mengalir sehingga mudah dipahami arek-arek Sukodono ini. Setiap gagasan disampaikan dengan metafor-metafor yang sederhana sehingga cepat ditangkap maksudnya. Di samping tentu saja sangat memudahkan terbentuknya chemistry kedekatan satu sama lain. “Ojo getun, ojo gampang ngelok-ngelokke. Nek ono kesulitan disyukuri, ngko ono jalan keluare,” salah satu pesan Cak Nun kepada semua jamaah di bagian awal sebagai salah satu bagian dari pembangunan mantapnya mental dan spiritual para jamaah, sebelum merambah ke tahap-tahap selanjutnya dari muatan-muatan yang akan digali dan disinauni bersama malam ini.

Dari beberapa paparan dasar tentang kemenangan, kemudian Cak Nun perlahan-perlahan mengajak semua jamaah untuk masuk dalam berdoa bersama dan mengkhusyuki beberapa rangkaian doa dan shalawat yang sublim. Mereka diajak bershalawat dan diminta yakin bahwa ini semua supaya kita diantarkan oleh Kanjeng Nabi untuk mendapat kelayakan atas keterkabulan doa dan hajat kita. Pukulan-pukulan terbang KiaiKanjeng mengantarkan jamaah memasuki Shalatun Minallah wa Alfa salam, Ya Allah ya Adhim, Sidnan Nabi, dan beberapa shalawat lain yang secara nuansa dan musikal mendukung pada kekhyusukan dan kesubliman. “Uripe awak ndewe kuwi gandolan jubahe Kanjeng Nabi. Allah dan Rasulullah pasti benar. Selain Allah dan Rasulullah, sama-sama nggak begitu benarnya. Maka kalau ada apa-apa jangan gampang marah, jangan gampang berseteru, mudahkan diri kita untuk memaafkan,” pesan Cak Nun.

Cak Nun memuji animo, kesungguhan, keikhlasan, kebersamaan segenap masyarakat Sukodono yang ikhlas datang dalam acara malam hari ini. Semuanya duduk rapi, tanpa ada gesekan dengan kanan-kirinya, dan sebegitu banyaknya jamaah yang hadir ini rasanya menyiratkan sesuatu yang luar biasa. “Meskipun pemerintahe nggak tepat, asalkan rakyat mau terus berbuat dan berkumpul dalam kebaikan, insyaAllah masa depan Indonesia akan baik. Dan sungguh anak-anak muda akan muncul memimpin pada 2019.”

Sinau Bareng Cak Nun Sukodono
Sinau Bareng Cak Nun Sukodono

Karena diminta menguraikan sangkan paraning dumadi, Cak Nun mengajak jamaah coba meluaskan pikiran, masuk ke materi yang sebenarnya sangat filosofis-metafisis, tetapi sekali lagi disampaikannya dalam bahasa yang mudah dimengerti. Bahwa kita punya banyak teman, baik yang tampak maupun tak tampak, baik yang padat maupun cair, yang beragam kepadatannya, dan beragam pula frekuensinya. Alam semesta ini sudah berlangsung miliaran tahun, alias sudah sangat lama, dan kita dari sudut waktu seperti itu hidup hanya secuil. Maka orang Jawa punya ungkapan ‘urip ming mampir ngombe’ dan dalam kesadaran seperti itu, apalagi kalau kita melihatnya saat kita sudah tua, betapa dunia itu tidak menarik. Sangat banyak yang serba sejenak, sebentar, dan cepat berlalu, atau pudar, apakah itu kecantikan, ketampanan, kekuasaan, atau kekayaan.

Tetapi hidup juga akan sangat enak, kalau kita tahu prinsip-prinsipnya. Di antaranya Cak Nun mencontohkan bahwa menjalani hidup ini hendaknya disangga dengan persangkaan baik kepada Allah (khusnudhdhon). “Pokoknya kalau sampeyan khusnudhon, yakin, dan optimis kepada rizki Allah, pasti akan diberi rizki oleh Allah. Dadi urip itu enak kalau seperti itu,” papar Cak Nun.

Dari penyemaian ilmu dan sikap-sikap hidup, dan rangkaian shalawat kekhusyukan, Cak Nun merasa saatnya untuk dihadirkan sebuah lagu yang hangat. Mbak Nia lantas membawakan lagu qashidah yang menyeru kepada muslimin dan muslimat. Sebuah qashidah yang cocok dengan kultur dan sosiologi yang terasakan saat ini di sini.

Dengan lagu qashidah yang barusan dibawakan Mbak Nia, Cak Nun menyinggung sedikit soal bid’ah dan pemahaman agama. Intinya, beliau perlu mengolah sesuatu termasuk memahami aspek-aspek agama dengan frame transformasi beras-padi-nasi sebagaimana sudah menjadi salah satu ilmu di dalam Maiyah.

Kemudian Cak Nun menambahkan lagi satu frame pemikiran, khususnya dalam memahami koordinat masjid, dan diambil dari fenomena alun-alun dan jalan Malioboro. Ada masjid, keraton, pasar, dan penjara. Posisi masjid harus menjadi pusat spiritual yang mengatmosfiri atau mewarnai ketiga yang lain. Jangan sebaliknya masjid dijadikan pasar. Karena maqamnya adalah masjid memimpin keraton. Sementara itu sesuai dengan nama-nama jalan dari Malioboro menuju Keraton di mana ada jalan Margomulyo, Cak Nun mengaitkan dengan sangkan paraning dumadi, “Supaya sampai sangkan paraning dumadi tadi, jalan yang anda tempuh harus sampai ke Margomulyo. Margomulyo artinya jalan kemuliaan. Anda harus belajar apa itu mulia…”

Lebih dalam lagi Cak Nun membawa jamaah, khususnya takmir dan remaja masjid an-Nur ini untuk menemukan maqamat. Diajak mereka berpikir melingkar. Penting manakah masjid atau orangnya (perilakunya), tinggi mana masjid atau manusianya; tergantung mana anda kepada masjid atau masjid kepada manusianya; umpama terpaksanya tidak ada bangunan masjid ini, tak apa-apa kan, karena pada dasarnya di manapun engkau bersujud, di situlah masjid. Bahwa anda mau mendirikan masjid, itu luar biasa, mulia, dan apalagi dengan adanya masjid ini dimungkinkan banyak manfaat bagi masyarakat.

Sinau Bareng Cak Nun Sukodono
Sinau Bareng Cak Nun Sukodono

Hal bagaimana mengelola masjid, Cak Nun memberikan prinsip, “Yang penting yang muda-muda tidak kemajon (terlalu maju) dan yang tua jangan terlalu menutup pintu. Dan bahwa sebisa mungkin masjid ini punya kegiatan-kegiatan untuk keperluan kepemimpinan di masa depan.”

Pentingnya pendidikan atau atmosfer pelahiran generasi-generasi pemimpin ini penting, karena orang Indonesia mempunyai karakter kuat sebagai orang yang gemati (penuh perhatian). Di mana-mana kalau orang Indonesia berada, dia dengan sangat cepat akan menjadi teman bagi siapa saja.

Masih banyak muatan-muatan ilmu, nuansa ketulusan, dan keindahan yang tersampaikan dalam pertemuan ini, dan tanpa terasa waktu sudah tiba pada menjelang pukul 01.00 dinihari. Hujan datang menyambut akan paripurnanya acara ini, dan serasa menjadi isyarat akan turunnya berkah Allah. Cak Nun mengajak semuanya berdiri dan berdoa bersama. Acara sampai di penghujungnya, dan diakhiri dengan jabat-tangan serta iringan nomor Astaghfirullah Robbal Baroya oleh para vokalis KiaiKanjeng.

Dan baik kiranya dicatat pula bahwa Cak Nun sempat menegaskan bahwa di dalam takdir Allah, tidak ada yang namanya sampah. Sebab semua memiliki nilai dan manfaat. Dan mengakhiri pesan-pesan yang berkonteks masjid, Cak Nun mengingatkan bahwa setiap pekerjaan, perbuatan, atau apa saja kalau bisa diberi konteks “sujud”. Punya uang dimanfaatkan untuk kebaikan dan perjuangan kemaslahatan. Punya apapun juga demikian. Sebab esensi masjid adalah kemana engkau putuskan diri anda menghadapkan wajah anda. Kalau engkau hadapkan wajahmu kepada Allah dan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan kemuliaan, itulah masjid.

Foto :

Adin