Catatan Sinau Bareng Cak Nun, RSAL Surabaya, 31 Desember 2015

Cak Nun KiaiKanjeng menemani masyarakat dalam acara Malam Renungan dan Harapan yang dipersembahkan oleh RSAL Dr. Ramelan Surabaya.

KiaiKanjeng adalah sebuah kharisma tersendiri. Sejak pembaca acara mempersilakan KiaiKanjeng naik ke panggung, langsung orang-orang yang semula berdiri di berbagai titik, langsung menyerbu mendekat ke panggung, bahkan mengabaikan barisan meja-meja bundar tempat para tamu VIP berada. Mereka memenuhi sela-sela meja itu, dan duduk memadat lesehan. Tak ada jarak jadinya antara tamu yang duduk di kursi dengan publik yang sangat banyak memenuhi pelataran utara RSAL Dr. Ramelan. Langkah kaki masing-masing personel dan vokalis KiaiKanjeng yang malam ini mengenakan batik tampak sangat bersahaja tapi tetap memancarkan cahaya, terasa sudah amat dinantikan kehadirannya, dan begitu mereka berada pada alat atau posisi masing-masing, sebuah magisme musikal akan segera dimulai.

Bunyi gamelan KiaiKanjeng langsung menghentak memasuki dada para hadirin melalui nomor Pambuko I. Ini adalah salah satu nomor yang mewakili karakter kuat musik gamelan KiaiKanjeng, karena dimainkan dengan pukulan dan speed yang tinggi. Kemunculannya di awal sebelum nomor-nomor lain seperti memberi jejak yang amat kuat.

Bersambungan langsung, Pambuko I segera disusul dengan Ya Imamar Rusli dengan aransemen ala Maroko dan disambung pula dengan lagu Maroko Allah Ya Maulana. Dua nomor yang sudah pernah dibawakan langsung oleh KiaiKanjeng di Maroko dan mendapat sambutan istimewa di sana, bahwa sekelompok pemusik nun jauh dari Indonesia mampu membawakan lagu Maroko dengan bagus dan membuat masyarakat setempat merasa tersanjung.

Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, RSAL Surabaya
Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, RSAL Surabaya

Area luas di salah satu sisi RSAL ini benar-benar padat oleh ribuan orang. Mereka datang ke sini di malam tahun baru ini karena telah memutuskan untuk melewati pergantian tahun dengan perenungan, dan bukannya pesta pora. Mereka memilih untuk mengisi “diri” mereka dengan hal-hal yang bergizi. Pun pihak RSAL Dr Ramelan yang mempersembahkan acara “Renungan dan Harapan” ini ingin mengajak masyarakat untuk melalui pergantian tahun dengan muatan-muatan yang penuh instrospeksi, mawas diri, dan perenungan. Karena itulah mereka mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk menemani, mengolah, menghadirkan permenungan-permenungan khas Cak Nun yang kaya akan dimensi dan nuansa. Musik, ilmu, peristiwa, interaksi, kegembiraan, dan apa saja dapat diletakkan dalam bingkai perenungan ini.

Begitu selesai Allah ya Maulana, Cak Nun langsung naik ke panggung, dan disambut teriakan Shollu ‘alan Nabi Muhammad, dan disahut langsung oleh jamaah shollu alaih. Bapak-bapak tamu undangan maupun dari RSAL yang duduk di kursi menyaksikan langsung kedekatan Cak Nun dengan jamaah. “Saya ingin kita semua pada malam hari ini memiliki sudut pandang, cara pandang, dan jarak pandang yang ragam dalam melihat sesuatu. Saya ingin merayakan Indonesia ke belakang maupun ke depan,” kata Cak Nun mengawali pembicaraan kepada semua hadirin.

Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, RSAL Surabaya
Sinau Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, RSAL Surabaya

Lalu beliau memperkenalkan sudut pandang dalam melihat Indonesia. Bahwa sesungguhnya Allah menciptakan alam itu masterpiece-nya atau primadonanya adalah Indonesia. Indonesia adalah tanah air yang paling dimuliakan. Ada sepuluh peradaban besar dunia di masa lalu dan semuanya sudah hancur, dan Indonesia masih tetap teguh sebagai sebuah peradaban sekalipun terus-menerus coba dihancurkan oleh para penjajah.

“Tidak usah untuk diomong-omongkan, cukup buat pengetahuan Anda, bahwa penjajahan itu tetap berlangsung tetapi melalui cara-cara yang lebih halus. Pertama, penjajahan melalui infiltrasi perubahan ketatanegaraan, undang-undang, perda dan lain-lain untuk memudahkan dikeruknya kekayaan alam Indonesia. Kedua, penjajahan melalui pembotohan pemilu atau rekayasa kepemimpinan nasional. Ketiga, penjajahan melalui upaya pelemahan dan embargo atas TNI, tetapi alhamdulillah TNI solid dan tidak bisa diperlemah. Keempat, penjajahan melalui adu domba, dan itu bisa sangat masuk langsung ke dalam keluarga. Adu domba antara orang Islam dan Kristen, dan ketika usaha ini gagal, maka yang diadudomba adalah di antara sesama umat Islam melalui isu anti-syiah dan yang sejenis,” papar Cak Nun.

Dengan keberangkatan pemikiran itu, Cak Nun lantas mengajak semua yang hadir untuk tidak gampang dipecahbelah satu sama lain, agar bangsa nusantara ini tetap tegak berdiri dengan martabatnya. Dalam konteks tu Cak Nun menegaskan, “Saya ini nasionalis sejati. Saya tak pernah mengajak orang untuk bermusuhan atau memusuhi siapa saja. Saya hanya mengajak mereka bersikap jujur kepada kebenaran. Siapa yang salah ya harus dihukum, siapa yang benar juga harus dinyatakan benar.”

Panggung KiaiKanjeng cukup luas. Jarak antara vokalis ke alat musik dan barisan paling belakang cukup longgar. Panggung dan area di depannya dipasang atap tenda terpal yang sangat tebal. Audiens yang berada di belakang semuanya berdiri berdempet-dempetan rapat, dan ternyata tampak sebagai lingkaran, dari kecil hingga membesar. Di beberapa titik juga disediakan layar-layar untuk mendekatkan jamaah yang jauh dengan suasana di panggung. Keseluruhan audiens sangat terfokus menyimak apa-apa yang dialurkan dan dialirkan Cak Nun melalui analisis, pesan-pesan, musik KiaiKanjeng, kejutan-kejutan cara berpikir, dan kedekatan hati dengan jamaah. Mereka tak ingin sejenak pun terlewat dari apa-apa yang berlangsung dalam acara malam ini. Jauh-jauh mereka berdatangan ke sini dan telah menyiapkan konsentrasi khusus, dan itu tampak terpancar dari sorot mata mereka, bahkan juga terlihat pada wajah bapak-bapak tamu VIP yang mungkin sudah lama pula ingin menyimak Cak Nun dan KiaiKanjeng secara langsung.

Dari ihwal nasionalisme dan kemuliaan Indonesia sebagai bangsa peradaban, Cak Nun menukik sebentar ke soal memahami budaya atau budi daya, Sesungguhnya ini adalah perkara yang sudah dilakukan bahkan sejak Nabi Adam. Budaya adalah melakukan sesuatu agar orang terlindungi martabatnya. Proses kreatif yang dilakukan manusia dengan mengolah sesuatu dari alam menuju peradaban itulah budaya. Dari alam orang dapat membuat kain dan sarung untuk menutupi auratnya, misalnya. Jadi inilah perspektifnya mengenai hubungan atau konfigurasi antara agama dan budaya, “Bisakah agama dijalankan tanpa adanya budaya?,” tanya Cak Nun. Sejurus kemudian, Cak Nun menguraikan bahwa selama ini kita kurang tuntas dalam menjelaskan soal bedanya ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah. Bahwa bid’ah yang jelek adalah yang melanggar syariat Allah. Dari jurusan pemahaman agama ini juga berlangsung adu domba. Maka, Cak Nun berpesan agar semua bapak-bapak sesepuh di lingkungan TNI mau kompak untuk menjadi orangtua atau sesepuh bagi generasi muda supaya mereka tak mudah diseret ke dalam adu domba.

“Nggak ada salahnya saya kira, untuk semakin meningkatkan pemahaman anak-anak kita akan bumi dan tanah air Indonesia, mereka juga mengenal lagu Indonesia stansa 2 dan 3 karena isinya sangat bagus,” ajak Cak Nun masuk lagi ke penumbuhan nasionalisme. Seturut dengan itu, KiaiKanjeng kemudian membawakan Shalawat Watu (istilah KiaiKanjeng), sebuah nomor yang di dalamnya dihadirkan Mingkar-mingkure Angkoro-nya Gombloh. Spirit yang selanjutnya dikemukakan Cak Nun adalah kita hendaknya menjaga otentisitas kebangsaan. Kalau kita menjadi penyiar radio Surabaya ya siarannya dengan kesetiaan pada bahasa dan kekayaan Surabaya bukan Jakarta atau Betawi. Demikian pula dengan penyiar radio di Yogyakarta atau di daerah-daerah lain. “Ada yang kebalik-balik pada diri kita. Pada saatnya kita bebas, malah kita taat, mengekor, dan tidak eksploratif dengan warna khas diri kita, dan pada saatnya harus taat, kita malah melanggar dan liar,” jelas Cak Nun.

Saat waktu masih pukul 23.00, dari kejauhan sudah terdengar petasan-petasan meletus menandakan di luar sana sudah berlangsung pesta menyambut pergantian tahun, sementara di RSAL ini masih dalam situasi mengulas ilmu, mendalami kecintaan terhadap nusantara, yang dilengkapi dengan nomor-nomor KiaiKanjeng, tetapi tetap tak kalah istimewanya di dalam perasaan yang ada dalam memberikan makna bagi pergerakan dari 2015 menuju 2016.

Khusus untuk perjumpaan malam ini, Cak Nun KiaiKanjeng memberikan hadiah khusus sebuah nomor musik-puisi Tuhan Aku Berguru Kepada-Mu. Puisi ini ditulis Cak Nun pada tahun 1976 dan dimusikalisasikan bersama Karawitan Dinasti dengan alat-alat musik saat itu yang masih akustik murni, belum ada unsur elektriknya sama sekali. Kali ini dibawakan dengan kelengkapan musikal KiaiKanjeng. “Lagu ini pokoknya intinya ngajak anda semua mbatin aja terus kepada Allah. Ya Allah kasih tahu kami, beri tahu kami. InsyaAllah Allah akan memberikan ilmu dan hidayah,” pesan Cak Nun.

Sebelum memasuki 2016, Cak Nun terus mendistilasi pemahaman masyarakat, dan mengembalikan mereka supaya lebih dekat dengan hakikat atau esensi. Sebagai misal, Cak Nun menjelaskan yang namanya profesi adalah pekerjaan dan bukan identitas. Selama ini kita salah-salah dalam menyikapi antara identitas dan perbuatan. Cak Nun memberi beberapa contoh yang ada di dekat kehidupan kita. Kemudian ditarik lagi ke prinsip, dengan memberi pertanyaan, “Rasulullah itu Sipil atau Militer?” Sebagian hadirin masih bingung meraba arah pertanyaan Cak Nun, dan segera dijelaskan bahwa sipil atau militer pada dasarnya adalah fungsi dan bukan identitas. Sebagaimana haji adalah perilaku dan bukan identitas. Akurasi-akurasi semacam ini dibutuhkan jika kita mau membenahi diri kita. “Mudah-mudahan melangkahkan kaki menuju tahun 2016 dengan perspektif dan kesadaran baru. Mereka yang bersikap dholim kepada wong cilik, berarti bersikap khianat kepada Allah dan akan berhadapan dengan kuwalat dari Allah.”

Melengkapi ilmu menatap dan menapak ke masa depan, Cak Nun lebih jauh mengingatkan kembali akan ilmu kehidupan dari Nabi Khidhir dan kandungan surat al-Hasyr ayat 18. Dan untuk itu, KiaiKanjeng telah menyiapkan sebuah lagu bertajuk Putra Masa Depan yang dibawakan Mas Islamiyanto dan Mas Imam Fatawi.

Pukul 23.25, Cak Nun mengajak semua hadirin memasuki pengendapan yang lebih dalam. Lampu agak ditemaramkan. Hadirin diminta lebih khusyuk, dan memanjatkan do’a di dalam hati akan kebaikan bagi bangsa, keluarga, dan masyarakat. Shohibu Baity pun dilantunkan. Jiwa-jiwa yang tengah diliput oleh suasana yang ada, masuk ke dalam kesyahduan doa. Tak ada petasan, apalagi kebisingan. Cak Nun membawa mereka pada keheningan di tengah keramaian. Ribuan jamaah memohon dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Detik-detik pergantian tahun dipandu langsung oleh pembawa acara, dan KiaiKanjeng sejenak istirahat untuk nanti kembali lagi. Beduk besar di panggung ditabuh, lampion-lampion mulai dilepaskan, dan kembang api mulai dinyalakan. Tepat pukul 00.00 WIB tanggal 1 Januari 2016 tabuh beduk itu semakin keras, dan ucapan pembawa menyampaikan selamat datang tahun baru 2016.

Beberapa menit di awal 2016 ini, kembali Cak Nun mengajak semua hadirin yang barusan meninggalkan 2015 untuk membaca doa yang dipimpin langsung beliau yang intinya memohon perlindungan kepada Allah, dan agar siapa saja yang aniaya atau dholim kepada orang-orang kecil mendapatkan keadilan dari Allah. Setelah doa ini, jamaah dan hadirin diajak melantunkan lagu Syukur karya Habib Muntahar.

Sesungguhnya kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng di malam tahun baru di RSAL ini juga merupakan satu bentuk “pengasuhan”. Itu pun dengan pertimbangan yang kualitatif. Merespons pernyataan dari Bapak yang mewakili Pangdam 5 Brawijaya bahwa malam ini di sini sungguh luar biasa, karena Cak Nun dengan caranya yang khas, telah menjelaskan apa yang harus dilakukan dan siapa sesungguhnya diri kita sebagai bangsa nusantara, Cak Nun mengungkapkan, “Malam tahun baru ini sebenarnya KiaiKanjeng mendapat banyak undangan, tetapi dengan banyak pertimbangan, diputuskanlah untuk memenuhi undangan RSAL Dr. Ramelan Surabaya ini. KiaiKanjeng meyakini bahwa kalau datang ke rumah sakit ini, dan orang-orang yang sedang sakit itu turut mendengar, mudah-mudahan ini menjadi jalan bagi datangnya kesembuhan, dan bagi yang tidak sakit, begitu bertemu yang sakit, maka akan menjadi eling. Dulu sekian tahun silam pernah juga KiaiKanjeng diundang oleh rumah sakit, dan ternyata acaranya di tengah rumah, dan rupanya pula yang meminta adalah para pasien di sana.”

Beberapa anak muda maju ke depan untuk mengajukan pertanyaan. Di antaranya mengenai shalat, kekhusyukan, mengenai posisi agama, dan soal nasionalisme kaitannya dengan lokalisme. Cara menjawab Cak Nun tidak linier, sebagian lebih berangkat dari kepekaan dalam merasakan jiwa anak-anak muda ini. Sebenarnya mereka sudah mengerti jawaban atas pertanyaan mereka. Cak Nun hanya menandaskan, menggarisbawahi, dan melihat secara ulang-alik, dan cak-cek/tangkas/clear dalam berpikir atau menganalisis. Dalam cara itu, Cak Nun secara tidak langsung  mengaduk jiwa mereka tetapi sekaligus memberinya dorongan dan semangat baru bagi mereka. Mereka akan lahir menjadi diri yang baru. “Saya sudah ketemu banyak anak muda di mana-mana, dan bukan belum lahir, tapi sudah lahir generasi-generasi muda yang akan mewarnai Indonesia dengan kecerdasan yang baru dan siap memimpin pada waktunya,” ujar Cak Nun.

Ujung dari persembahan Cak Nun KiaiKanjeng adalah tampilnya sejumlah anak muda tadi. Hal yang sinkron dengan kebutuhan menatap masa depan, sebuah masa yang tak lain harus diisi oleh generasi muda, dan untuk mereka khususnya, KiaiKanjeng melalui vokal mas Doni menyuguhkan lagu dari Maroon 5 berjudul One More Night. Kali ini istimewa sekali Mas Doni nyanyi sekaligus ngebass. Seakan berpesan kepada generasi muda mengenai watak kepemimpinan Indonesia yang bersifat memangku, Cak Nun mengantarkan lagu Maroon 5 ini yang diaransemen ala KiaiKanjeng, “Sebuah nomor yang semoga membuat Anda mengerti bahwa gamelan KiaiKanjeng bisa dipakai untuk memangku dan membawakan lagu apa saja. Seperti itulah pula kepemimpinan Indonesia,” pungkas Cak Nun. Dengan berakhirnya lagu ini, selesailah Cak Nun dan KiaiKanjeng menemani masyarakat yang hadir dalam acara Malam Renungan dan Harapan yang dipersembahkan oleh RSAL Dr. Ramelan Surabaya malam ini.

Foto :

Adin