Catatan Maulid Nabi, AAU Yogyakarta, 07 Januari 2016

Kalau yang maulidan itu NU dan Muhammadiyah, itu biasa. Tapi jika yang mengadakan itu tentara, kacamata orang Barat akan melihatnya aneh.

Setelah seminggu lalu menyambut tahun baru 2016 Cak Nun diminta memberikan wawasan di lingkungan Angkatan Laut tepatnya di RSAL DR. Ramelan Surabaya, pagi ini Cak Nun sudah berada di Gedung Sabang Merauke Akademi Angkatan Udara Yogyakarta dan diminta oleh Gubernur AAU untuk memberikan bekal kepada para Taruna dan Antap AAU. Acara sekaligus dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Dalam kesempatan Maulid Nabi di AAU ini, Cak Nun menggambarkan hubungan ilmu manajemen dan kepemimpinan pada diri Nabi dengan kebutuhan para tentara di masa kini. Bahwa Rasulullah itu sipil sekaligus militer. Militer pada saat berperang, dan sipil kembali setelah selesai perang. Tentara juga demikian. Selain militer, ia juga sipil. Selesai bertugas, ia kembali sipil, sebagaimana Rasulullah itu seorang bapak, kakek, Nabi, aktif dalam kegiatan sosial-pendidikan, dan tugas-tugas kemasyarakatan lainnya.

Maulid Nabi AAU Yogyakarta
Maulid Nabi AAU Yogyakarta

Cak Nun sangat mengapresiasi dan memuji acara Maulid Nabi di AAU ini. “Kalau yang maulidan itu NU dan Muhammadiyah, itu biasa. Tapi jika yang mengadakan itu tentara, kacamata orang Barat akan melihatnya aneh,” kata Cak Nun. Hal ini, bagi Cak Nun, menggambarkan bahwa agama dan negara di Indonesia itu nyawiji, seperti tercermin pada Pancasila yaitu sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Kenyawijian itu juga terasakan pada penghayatan setiap taruna atau prajurit TNI bahwa menjadi tentara adalah pengabdian, dan dalam Bahasa Arab pengabdian adalah ibadah.

Karena keunikan relasi antara penghayatan tentara dan konteks kenegaraannya, sedari awal Cak Nun menegaskan bahwa manusia atau tentara Indonesia itu unik, unggul, bermental utama nekad/pemberani, dan bismilillah dengan tauhid yang kuat. Di tambah lagi selain modal manusia, tentara kita memiliki modal alam yaitu 12% garis khatulistiwa berada di wilayah negara Indonesia.

Menariknya, dan ini menunjukkan kualitas dan orientasi jiwa bangsa kita, bahwa dengan modal yang sangat banyak itu, toh manusia Indonesia bukanlah manusia yang inginnya mengungguli atau mengalahkan orang atau bangsa lain. Jika di Barat, wayang digantung dari atas, sedangkan di Indonesia wayang dipegang atau didirikan dari bawah. Itulah gambaran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung bangsa lain.

Acara seperti Maulid Nabi yang diselenggarakan AAU ini menurut Cak Nun menyodorkan sedikit gambaran bahwa dibolak-balik seperti apapun bangsa kita tak sepenuhnya bisa memisahkan antara tentara (negara) dengan agama, sebagaimana Barat atau Eropa menganut prinsip sekuler.

Melengkapi paparan mengenai militer-sipil, agama-negara, Cak Nun juga menjelaskan pemahamannya mengenai ayat al-Qur’an yang menegaskan ‘innad diina ‘indallahi Islama’, kemudian mengingatkan perlunya mengesensikan peringatan Maulid Nabi sebagai wujud dan kebutuhan cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad, dan disertai penjelasan mengenai wilayah dan proporsi ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah.

Sejalan dengan itu, Cak Nun menguraikan silang-sengkarut dalam memahami bid’ah serta perlunya kita memegang prinsip “yang primer jangan disekunderkan, dan yang sekunder jangan diprimerkan”.

Di masyarakat, soal-soal menyangkut relasi agama dan perilaku sosial, agama dan budaya, dan ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah, belakangan ini tampak rumit dan diperparah oleh merebaknya aliran-aliran penyempitan, padahal relasi atau konfigurasi antara agama dan budaya sesungguhnya dapat dilihat dengan clear sebagaimana selama ini Cak Nun sampaikan dalam pelbagai forum Maiyahan. Pagi ini, para pimpinan dan taruna AAU berkesempatan menyimak pemaparan-pemaparan Cak Nun yang bersifat mengembalikan segala sesuatu pada tempat dan proporsinya. Dalam bahasa Maiyah, Cak Nun mengajak mereka tepat melihat ketela dan jangan merancukan atau melupakan ketela saat ketemu keripik atau gethuk yang asal-usulnya dari ketela. Sehingga, setiap kali terjadi keributan atau centang-perenang menyangkut keripik atau gethuk, mereka punya perspektif yang lebih baik dan jernih dalam memahaminya.

Dan satu lagi, hal alamiah yang disampaikan Cak Nun kepada para pemegang salah satu pilar negara ini, yakni tentara, dan ini jarang disadari manusia, bahwa manusia sebagai makhluk itu melekat di dalam dirinya dorongan untuk berperilaku atau berakhlak. Makhluk, akhlaq, dan Khaliq adalah satu rumpun kata dalam bahasa Arab. Sehingga dengan mudah didapat pengertian bahwa sejatinya fitrah manusia itu berakhlak/berperilaku dengan perilaku/akhlaq Allah. Persis seperti dinyatakan para ulama takhallaqu biakhlaqillahi (berakhlaklah dengan akhlak Allah).

Selesai menyampaikan kuliah di depan para taruna ini, Cak Nun langsung disambut para pimpinan dan diajak kembali ke ruang tamu atau ruang transit, berbincang-bincang, dan seperti diajak berfoto, salah satunya bersama Koordinator Dosen AAU.

Foto :

Aley Yudhis