Daur (118)

Bunuh Diri Karena Bersedih

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada dan antara Markesot dengan Saimon adalah kegagalan eksistensi.

Bagi siapa saja yang stabil menjaga kejernihan persepsi, memelihara akurasi pandangan dan pendengaran, serta merawat kesadarannya pada garis kematangan dan kearifan — terdapat pengertian bahwa Saimon dan Markesot, dengan berbagai dialog yang berputar-putar seperti angin puting beliung, sebenarnya sedang membeku di antara ada dan tiada. Stagnan di antara ya dan tidak. Sedang kehilangan koordinat di antara semua arah yang semula dijalani dan dialaminya.

Diawali oleh kebingungan menjalankan perannya masing-masing, berujung pada ketidakmampuan menjaga ke-diri-an masing-masing. Mereka berdua dan masing-masing sama-sama berada di puncak ketidaksanggupan untuk berdialektika dengan kemungkinan.

Dari satu sudut sepertinya lebih mudah memerankan fungsi Malaikat. Garis, lelaku dan arahnya jelas: ya’malu ma yu`marun. Mengerjakan apa yang diperintahkan. Seluruh jenis makhluk Tuhan yang berada di bawah kepemimpinan dan koordinasi Baginda Jibril adalah pelaku-pelaku kepastian. Sedangkan Saimon dan Markesot adalah petugas-petugas kemungkinan.

Bagi siapa saja yang jeli dan teliti, ketika mengamati lalu lintas perjalanan af’al Markesot yang sangat panjang, yang membingungkan, yang penuh ketidakmenentuan, yang bergoyang-goyang bahkan berubah-ubah dan beralih-alih secara dzat, sifat, asma maupun jasad — sosok yang tergambar adalah kegagalan eksistensi.

Juga Saimon, andaikan ada yang menyempatkan diri untuk menelusuri latar belakang kehidupan dan pelaksanaan tugas-tugas di wilayahnya, yang tentu sama sekali tidak sama dengan daerahnya Markesot. Sama saja gambaran yang muncul darinya. Ialah kegamangan eksistensial. Keragu-raguan terhadap dirinya sendiri. Bercampur antara penyesalan, rasa penyesalan, frustrasi karena tumpukan kegagalan. Dan seluruhnya itu ujungnya sama: yakni kegagalan eksistensi.

***

Sebelum Saimon maupun Markesot resmi di-ada-kan oleh Tuhan, mereka mantap oleh sejumlah prinsip perjanjian mereka dengan Tuhan: bahwa seluruh yang mereka jalani selama masa tugas adalah menapaki garis panjang sunnatullah, dari titik awal Allah menuju titik akhir Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tetapi di tengah perjalanan, setelah mereka tak henti-hentinya salah perhitungan tentang dunia manusia dan dunia Jin, setelah mereka frustrasi oleh sangat banyaknya kenyataan kehidupan manusia dan Jin yang amat sangat jauh dari persangkaan mereka – keduanya, seolah-olah saling kencan satu sama lain: menjalankan naluri untuk menolak dirinya sendiri.

Menolak dirinya sendiri adalah refleksi dari ketidakmampuan untuk mengakui dan menerima kegagalan-kegagalannya. Kecenderungan untuk menemukan dimensi-dimensi non-diri di dalam diri, terutama pada Markesot, adalah refleksi dari kepengecutan untuk mengakui kegagalannya. Sehingga muncul kecurangan dengan menyatakan kepada dirinya sendiri bahwa yang gagal itu bukanlah dirinya, dengan memaksa-maksakan diri untuk merasa bahwa dirinya yang ini bukanlah dirinya yang sejati.

Eskapisme. Melarikan diri. Tidak mengakui diri yang sedang dijalani, mencari-cari kambing hitam pada diri yang lain yang mereka karang-karang, agar supaya terhindar dari rasa ingin bunuh diri. Padahal pelarian dari suatu diri, sesungguhnya sudah merupakan tindakan bunuh diri. Meskipun nyata bahwa setiap diri bukan hanya diri, melainkan berdenyar-denyar banyak diri yang lain di sekitar diri, sesungguhnya pelarian semacam itu tetap merupakan pelanggaran terhadap satuan-diri yang dulu diperjanjikan dengan Allah sebelum mereka dilegalisir eksistensinya oleh-Nya.

Sebenarnya tak kurang-kurang Allah mengingatkan mereka: “Apakah kamu akan membunuh dirimu sendiri, hanya karena bersedih hati oleh kenyataan bahwa mereka tidak beriman kepada-Ku?”

Markesot dan Saimon bahkan cenderung tidak kuat hati untuk mendengar peringatan itu. “Kalau Aku mau, dengan mudah Ku-bikin mereka beriman kepada-Ku. Tetapi Aku melakukan yang Aku kehendaki”.

***

Sudah sangat lama mengendap sesuatu di lubuk jiwa Markesot, bahwa sama sekali tidak mudah membantah pernyataan Buyut Iblis tatkala Allah menginformasikan akan menciptakan manusia hibrida baru, yakni Bopo Adam, untuk menjadi Khalifah di bumi: “Untuk apa Engkau menciptakan manusia, yang toh pekerjaannya hanya merusak alam dan menumpahkan darah”.

Beratus-ratus tahun Markesot menyaksikan, mengalami, bersedih dan menangisi kenyataan yang sangat kuat bahwa pernyataan itu benar adanya. Hampir seluruh peradaban ummat manusia berisi apa yang dikhawatirkan oleh Buyut Iblis itu: perusakan alam, penindasan terhadap bumi, tanah, air, udara, cuaca, musim, waktu, apa saja. Dan semua itu memuncak justru seirama dengan peningkatan kepandaian manusia, sampai seolah-olah lebih selamat andaikan ummat manusia bertahan bodoh.

“Bertasbih kepada-Ku apa saja semua yang ada di langit dan di bumi”, demikian Allah membuat aturan permanen. Tetapi kepandaian dan kekuasaan manusia mengubah semua itu dengan melakukan penaklukan terhadap alam. Manusia menundukkan alam tidak dalam regulasi sunnatullah, melainkan dalam gagasan agar seluruh isi alam dijadikan budak-budak oleh manusia.

Kekuasaan dan ambisi manusia memaksa awan, hujan dan musim melanggar jadwal tasbih dan shalat mereka yang Allah sudah tentukan. Nafsu pembangunan manusia memaksakan suatu pembagian tugas antara tanah, air, udara, keluasan dan kesempitan, nafas dan kesesakan, kesejukan dan panas, yang menabrak kesabaran evolusi sunnah Tuhan, sehingga seluruh proses yang manusia menyebutnya dengan kemajuan dan kejayaan itu sesungguhnya sedang membunuh anak cucu mereka sendiri, serta menyiapkan kuburan-kuburan bagi generasi penerus, bahkan sebelum mereka lahir.

Alam semesta, khususnya bumi, bertempat tinggal di suatu himpitan yang sangat sempit antara kepastian dari Tuhan dengan peluang kemungkinan yang dibukakan kepada ummat manusia. Tuhan menguakkan pintu kemerdekaan bagi manusia, yang dibekali dengan prinsip “rahmatan lil’alamin”, sementara manusia Jawa sendiri mengijtihadinya secara polos menjadi “mamayu hayuning bawono”.

Tetapi kemudian lahirlah manusia modern yang menempati bumi dengan bersikap dan berlaku sebagai tuhan-tuhan atas alam. Bahkan atas sesamanya. Manusia modern itu lahir dan dilahirkan oleh dirinya sendiri, tidak oleh garis sunnah Tuhan. Mereka memenggal sejarah. Meresmikan secara amat curang bahwa asas kehidupan adalah manusia. Asal-usul dan titik akhir tujuan kehidupan adalah kemauan manusia.

‘Aqidah dan ideologi mereka adalah humanisme. Manusia adalah pusat dari apa saja. Manusia adalah pusar. Manusia adalah awal dan akhir. Manusia adalah pusat kehendak. Manusia adalah asal-usul dan sangkan paran. Manusia adalah tuhan itu sendiri. Hak asasi kehidupan ada di genggaman mereka.

Itulah sesungguhnya yang melatarbelakangi beliau Wali Penyamar “Iqamil Bilad”, membangun Negeri di perlintasan abad 14-15, karena beliau melihat Negoro akan hilang toto, dan deso akan tidak lagi mowo-coro.