Daur (38)

Bukan Sorga Berakibat Tuhan

Anak cucuku dan para jm jangan sampai mendramatisir dan menseram-seramkan kisah kecil tentang Rombongan-Alkisah dan hujan. Mereka bukan siapa-siapa selain Salikin, pencari kebenaran Allah, dan ‘Abidin, pelaku pengabdian kepada Allah melalui ibadah kepada-Nya maupun pelayanan kepada sesama makhluk-Nya, tak terbatas hanya kepada manusia.

Anak cucuku dan para jm tidak mengenal kultus, apalagi kepada individu. Hanya mengenal dan mengerjakan pengabdian kepada Tuhan, asal-usul dan tujuan akhir kita semua. Pengabdian dengan cara dan bentuk yang kita patuh kepada ketentuan-Nya. Dan jika ada wilayah muamalah di mana kita dimerdekakan oleh-Nya untuk kreatif membangun dan memformulasikan pengabdian kita, harus tetap waspada tidak sampai menabrak batas syariat-Nya.

Kita semua melayani lantai rumah yang kotor, kita menyapu. Kita melayani piring sehabis dipakai makan, kita pususi. Kita melayani hujan, kita pahami dan ajak berdiskusi. Kita melayani seluruh alam semesta, khususnya bumi yang kita diamanati, dengan landasan dan pedoman menaburkan rahmat bagi mereka semua. Kalau kita tidak mampu bergerak menyebarkan rahmat, minimal kita jadi debu, yang berkohesi dengan trilyunan debu lain, agar manusia bisa punya landasan yang kokoh untuk membangun jalanan, rumah dan gedung-gedung.

Anak cucuku dan para jm hanya ciptaan Tuhan yang rendah di hadapan-Nya. Tinggi atau rendah derajat kita, mulia atau hina martabat kita, tidak kita pedomankan kepada apapun dan siapapun kecuali kepada kemauan-Nya, konsep yang ditata oleh-Nya, nilai dan susunan yang dikelola oleh-Nya. Anak cucuku dan para jm tidak menuding dan menuduh sesamanya. Tidak sibuk menilai kiri kanannya. Tidak menghardik, membunuh atau memusnahkan.

***

Anak cucuku dan para jm selalu belajar dan mempelajari batas-batas pembagian peran antara engkau semua dengan Pencipta. Neraka sangat mengerikan dan kita takuti, tetapi tidak karena takut neraka maka kita tidak melawan Tuhan. Kita tidak mememerangi Tuhan tidak karena apapun selain karena Tuhan itu sendiri, yang hadir ke jiwa, hati dan akal kita melalui berbagai formula tajalli-Nya.

Sorga sangat menggiurkan dan kita idamkan. Namun bukan karena keterpesonaan kepada sorga kita mencintai-Nya. Bukan karena pamrih masuk sorga kita mengabdi kepada-Nya. Sorga dan neraka adalah akibat dari pilihan perilaku kita. Tetapi sorga dan neraka terlalu kecil dan remeh dibanding semesta agung percintaan kita dengan-Nya.

Kita sangat percaya, yakin dan merasa nikmat kepada Tuhan. Bukan kita sangat percaya, yakin merasa nikmat kepada sorga. Tuhan berakibat sorga, bukan sorga berakibat Tuhan. Tuhan mencintai hamba-Nya yang mencintai-Nya maka ditempatkan si hamba itu di sorga. Tidak ada peristiwa hamba Tuhan mencintai sorga maka sorga menempatkannya di Tuhan.

Tuhan menciptakan trilyunan matahari dan benda planet bulat-bulat, tapi tidak diberi akal. Tuhan menciptakan batu-batu dan gunung, pepohonan dan binatang, tanpa anugerah akal. Hanya manusia, maka mereka dikhalifahkan oleh-Nya di bumi, dengan terlebih dahulu ditanam “chips” pada dirinya yang berupa akal.

Akal itu sendiri bukan pikiran bukan otak, tetapi soal ini anak cucuku dan para jm bisa cari waktu yang khusus untuk mendalaminya. Hal akal ini dituturkan dalam konteks bahwa pandangan manusia tentang sorga dan mereka dan apapun yang dialaminya di dunia maupun informasi-informasi dari Tuhan — sangat bergantung pada pengelolaan akal mereka.

***

Mekanisme mesin akal itulah yang memahamkan manusia pada logika tentang segala sesuatu. Tentang dialektika logis. Tentang skala prioritas. Tentang batas segala sesuatu. Tentang matrix wajib sunnah mubah makruh haram. Tentang jangka pendek jangka menengah jangka panjang. Tentang substansial dan parsial. Tentang pokok dan cabang. Tentang tata ruang dan tata waktu. Tentang sangat penting, penting, agak penting, tidak penting. Tentang atas dan bawah. Tentang pohon, dahan, ranting, daun, bunga dan buah. Dan apa saja yang merupakan persyaratan wajib dalam menjalani kekhalifahan.

Kalau ranting dipahami secara pohon, ruwetlah kehidupan. Kalau mahdloh dinilai sebagai muamalah, silang sengkarutlah kehidupan beragama. Kalau kasus lokal tidak diketahui konteks nasional dan latar belakang globalnya, bertengkar-tengkarlah rakyat suatu negara. Kalau tokoh-tokoh ummat manusia tidak mampu memilah antara lautan dengan ombak, antara Kitab Suci dengan tafsir, antara Tuhan dengan berhala, antara api dengan panas, antara gula dengan manis, antara manusia dengan kemanusiaan, antara fungsi dengan robot, dan seribu macam ketidakpahaman yang lain, maka sesungguhnya peradaban sedang bergerak menuju jurang untuk bunuh diri bersama-sama.

Anak cucuku dan para jm aku harapkan tidak bertengkar berdebat ribut riuh rendah tentang sorga dan neraka, tentang Tuhan dan patung, tentang masalah-masalah apapun yang besar-besar, apabila engkau semua belum maksimal menggunakan mesin ilahiyah akalmu.

***

Sedangkan tentang hujan, sebagian dari anak cucuku dan para jm, pengetahuannya tidak pernah berkembang sejak Guru SD dulu mengajarinya. Bahwa hujan adalah air laut yang menguap, kemudian uap itu disapu ke sana kemari semau-mau angin, dan nanti ketika suhu menurun, sel-sel uap itu bergabung satu sama lain berkelompok-kelompok, menyebabkan bobot baru, maka gravitasi menariknya ke bumi, menjadi curah hujan.

Sebagian engkau menyangka bahwa hujan adalah atau hanyalah titik-titik air yang jumlahnya sangat banyak, berjamaah terjun ke bawah dan membasahi bumi. Sebagian engkau membatasi pemahamannya bahwa hujan hanya benda. Engkau tidak mempelajari bahwa hujan mungkin hanya peristiwa ludah. Cairan yang diludahkan. Oleh siapa? Kenapa? Bagaimana? Untuk apa? Untuk siapa? Kok turun sekarang, tidak tadi atau nanti? Kok di sini, tidak di sana? Kok yang ini basah kuyup, yang itu sedikit basah, yang sana malah kering?

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
11 Maret 2016