Daur (281)

Bukan Perang Umbul-umbul

Tahqiq : “...Itu semua hanya umbul-umbul bendera yang secara strategis dan psikologis merupakan perangkat yang bisa mempersatukan Ummat. Tapi sebenarnya ini soal perampokan harta dan martabat....”

“Bukan soal kecengengan atau melankolia subjektif”, Brakodin mencoba menjelaskan, “di Ibukota itu yang disebut penistaan ayat Allah bukan akar masalah. Bukan asal-usul perkara. Ia hanya salah satu produk. Akibat atau output. Seseorang terpeleset kakinya dan terjatuh menimpa orang-orang di sekitarnya. Masalah utamanya bukan terpelesetnya itu, melainkan jalanan panjang yang licin”

Apa jalanan yang licin itu?

Ialah pergerakan yang samar untuk merampok kekayaan Tanah Air Nusantara, yang diselenggarakan dengan strategi perapuhan atas para penghuninya. Penghuni utama Negeri itu adalah Ummat Muhammad. Maka paket utama dalam strategi itu adalah mengadu-domba ummat itu, sehingga penduduk Negeri itu menjadi rapuh, rentan, dan hampir lumpuh kemungkinan soliditas kebersatuannya.

Tapi Tuhan menyuruh malaikat mempelesetkan kaki dan mulut orang itu. Dan ternyata akibatnya membuat Ummat yang terpecah-belah menjadi bersatu, entah untuk sesaat dan kontan, atau mudah-mudahan menjadi pembelajaran untuk benar-benar menyatu secara permanen dalam perjuangan dengan jurus jalan panjang yang harus mereka istiqamahi.

Jika gegap gempita sudah reda, Brakodin berharap kemudian terjadi proses sublimasi. Pengendapan. Penjernihan. Sehingga mereka merasa perlu menyelenggarakan tahap-tahap pembelajaran kembali secara bersama-sama. Tidak sendiri-sendiri. Tidak masing-masing. Ummat memerlukan fatwa bersama. Bukan fatwa masing-masing pimpinan golongan, yang selama ini justru menjadi pemicu konflik di lapisan bawah ummat.

“Maksud Pakde sebanyak mungkin bagian dari Ummat ini belajar kembali untuk secara tenang menemukan tahqiqi dari akar masalah yang sebenarnya?”, Junit bertanya.

“Sepertinya itu yang terbaik”, jawab Brakodin, “yang berlangsung ini bukan perang identitas, bukan perang simbol, bukan perang Muslim Kafir, bukan perang perbedaan iman, bukan perang ketidaksamaan etnik, bukan bharatayudha SARA. Itu semua hanya umbul-umbul bendera yang secara strategis dan psikologis merupakan perangkat yang bisa mempersatukan Ummat. Tapi sebenarnya ini soal perampokan harta dan martabat. Hanya saja yang sementara ini bisa mempersatukan adalah harga diri keagamaan, lepas dari output-nya kedewasaan ataukah dendam, kearifan ataukah kebencian”

“Bagaimana bahasa jelasnya, Pakde”, Seger ikut mengejar.

“Sederhana. Sudah kalian ungkapkan sendiri tadi, yang membuat Pakdemu Tarmihim riang gembira dan Pakdemu Sundusin menjadi tidak terlalu berputus asa”

“Penjajahan global, dari ekspansi Eropa ke Asia Afrika hingga Musim Gugur Nusantara saat ini?”, kata Seger.

“Ya. Dan itu soal harta benda. Kekayaan bumi. Materialisme keduniaan. Strategi penguasaan atas kandungan Bumi Nusantara yang dikuras dengan mempekerjakan para penjaganya sendiri. Yang seharusnya dipertahankan dengan bekal tahqiqi martabat sebagai Bangsa dan konsistensi kedaulatan dalam bernegara. Semuanya berproses untuk diambrukkan, dijebol, dirubuhkan, dan kali ini mungkin Tuhan menolong dengan menyuruh Malaikat-Nya menyerimpung kaki dan men-teladuk-kan mulut seseorang yang kemudian dihardik habis-habisan, seolah-olah ia makhluk bukan ciptaan Allah”

“Tapi orang itu memang sejak semula kan pathing pecotot mulutnya, Pakde”, kata Seger, “Saya yakin Tuhan tidak menginisiatifi tindakan penyesatan kepada seseorang tanpa orang itu sendiri menyesatkan dirinya terlebih dulu, pada kadar dan rentang waktu yang dianggap mencukupi untuk disesatkan”

“Ya Pakde”, Junit menimpali, menyetujui Seger, “para Khatib Jumatan selalu mengingatkan bahwa barangsiapa diberi hidayah oleh Tuhan maka tak ada yang mampu menyesatkannya. Sebaliknya siapa saja yang disesatkan oleh Tuhan, tak akan ada yang sanggup memberinya petunjuk dan menyelamatkannya”

“Allah sendiri yang menyatakan itu”, Jitul juga setuju.

“Dan itu bukan pernyataan bahwa Allah itu Maha Seenaknya dalam memberi petunjuk atau menyesatkan manusia. Sesungguhnya itu tergantung dan berangkat dari perilaku manusia itu sendiri”, Toling mengaskan.

“Aku berlaku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, demikian Allah menginformasikan”, Junit menyambung lagi.

Tarmihim tertawa. “Wah, kalian membaca Hadits-hadits Qudsy juga rupanya”, katanya.

“Apa saja kami lalap, Pakde”, jawab Seger, “anak-anak muda yang bersama kami tidak ada yang hebat dan tidak bercita-cita jadi pahlawan, tetapi kami selalu bersungguh-sungguh belajar dan menjalani hidup”.