Daur (249)

Bukan Generasi Cangkir

Tahqiq : “Manusia itu keberadabannya adalah berjalan, bergerak, mencari, bekerja, berdoa, mencoba menemukan. Bukan dikasih tahu, disuguhi, dikasih barang jadi, dan tinggal mengkonsumsi”

Tentu saja Junit, Toling maupun Jitul, tidak mempersoalkan pilihan sejumlah temannya untuk tidak mau bergabung di dalam lingkar pembelajaran bersama Pakde Paklik. Toh cinta tanah airnya sama, kesetiaan kepada Ibu Pertiwinya sama, bahkan syahadatain-nya kebanyakan sama juga. Semuanya juga tetap tergenggam dalam kekuasaan Tuhan. Kalau Ia menghendaki, mereka suatu saat tetap diletakkan di satu barisan, meskipun pasukannya berbeda.

Memang ada beberapa temannya yang tidak bersyahadat, melainkan bersaksi dan berlaku dalam sistem kepercayaan yang lain. Itu karena alur informasi yang sampai kepada mereka berbeda dengan yang dialami kebanyakan mereka. Tapi Junit melihat bahwa sebenarnya yang dimaksudkan secara substansial ya Allah itu sendiri, cuma rumusannya beda, persangkaan dan asumsinya tidak sama.

Juga karena prasangka ketuhanannya berbeda, sudah terbukti dalam sejarah bahwa yang berbeda-beda itu akan melingkar sendiri-sendiri sebagai kelompok-kelompok yang juga berbeda, yang bahkan mungkin berjalan ke arah yang berbeda. Bahkan mungkin bertentangan, berbenturan, dan pada suatu persoalan tertentu mereka akan bisa bermusuhan satu sama lain.

Hanya saja, teman-temannya Junit segenerasi bersambung satu sama lain dalam suatu jejaring komitmen, justru karena mereka semua tidak merupakan penganut dari peta baku atau mainstream yang ada. Mereka bukan kontinuasi dari konstelasi kepentingan-kepentingan nasional yang berdesakan dan saling menjatuhkan. Mereka segenerasi menjadi satu jaringan karena sama-sama berada di semacam perlawanan generasi: kaum muda yang kecewa. Mereka merasa dikibuli oleh para pendahulunya. Tanah air dijual. Negara dirusak. Kekayaan rakyat dirampok. Kepemimpinannya tipu daya. Mereka berhimpun untuk mencita-citakan suatu kesadaran kebangsaan yang baru, untuk masa depan yang dirancang secara lebih mashlahat dan menyelamatkan alam maupun manusia.

Mereka sadar bahwa mereka tidak punya daya apa-apa untuk menyelamatkan keadaan seakarang ini. Bentuknya tidak bisa ditemukan. Apalagi yang di panggung nasional seakan-akan mereka adalah penguasa, sesungguhnya mereka hanya boneka-boneka. Anak-anak muda itu sadar sedang berhadapan dengan suatu keruwetan dan kecanggihan keadaan yang mungkin belum pernah terjadi di era sejarah kapanpun dan pada bangsa manapun.

Peta permasalahannya berlipat-lipat, berliku-liku, penuh tikungan, penuh jalan-jalan tipuan yang buntu, penuh kepalsuan di mana suatu ekspresi tidak mencerminkan sesuatu yang diekspresikan. Sarat topeng, kemunafikan, hipokrisi. Susah membedakan antara bayangan dengan sosoknya. Tidak menentu yang menyelubungi mereka ini terang atau gelap, sebab kegelapannya bisa sangat terang, dan cahaya yang memancar ternyata kegelapan.

Junit Toling Jitul dan teman-temannya senang bertemu dan mengobrol dengan Pakde Paklik karena beberapa alasan. Pertama orang-orang tua itu bukan bagian dari konstruksi keadaan yang mereka sangat tidak percayai. Pakde Paklik adalah orang-orang yang terpinggirkan, atau sekurang-kurangnya mereka memang memilih untuk tidak ikut arus, sehingga bergerak ke pinggiran urusan Negara dan Bangsa. Kedua, karena cara pandang Pakde Paklik bisa membuat mereka lebih kaya di dalam proses memahami permasalahan-permasalahan. Juga lebih rasional. Bahkan lebih jernih. Dan membuat mereka merasa lebih tenang dan luas cakrawalanya.

“Dari obrolan-obrolan terakhir”, Tarmihim berkata kepada tiga anak muda itu, “menurut Junit kemarin ada beberapa tema yang menjadi PR kita bersama, misalnya hal kesalehan, kemudian kalian usul hal takabbur atau men-takabbur-i dan di-takabbur-i. Saya usul bagaimana kalau kita ngobrolnya berangkat dari semacam tulisan atau makalah kalian, supaya agak sedikit terpelajar dan tampak beradab pertemuan kita ini…”

Junit membantah. “Soal saleh dan takabbur itu munculnya kan dari Pakde Paklik. Cocoknya ya panjenengan-panjenengan yang menuliskannya, kami siap mendengar, menyerap, menerima atau menawar atau membantah”

“Cara itu kurang beradab, Nit”, jawab Ndusin.

“Kok kurang beradab?”, Toling bertanya.

“Manusia itu keberadabannya adalah berjalan, bergerak, mencari, bekerja, berdoa, mencoba menemukan. Bukan dikasih tahu, disuguhi, dikasih barang jadi, dan tinggal mengkonsumsi”

“Kalau kami mendengarkan kan tidak berarti kami tidak mencari. Justru kami mencari sesuatu pada dan di balik sesuatu yang dikemukakan kepada kami. Kami bukan gelas dan cangkir yang menganga untuk dituangi minuman. Kami manusia. Kami cukup beradab untuk itu – kalau memang istilah yang kita sepakati adalah beradab. Kami bukan robot yang diremot. Kami bukan boneka yang digerak-gerakkan oleh Pakde Paklik. Kami berkumpul di sini tidak karena Pakde Paklik pengaruhi atau suruh. Kami bukan orang yang bisa dimobilisir. Kami berkumpul ke sini atas keberangkatan kesadaran kami sendiri…”

“Waduh ngamuk anak-anak muda…”, Tarmihim tertawa.

Sundusin juga ikut tertawa. “Usulan agar kalian yang menuliskan tema yang akan kita obrolkan itu aslinya karena kami-kami ini sudah udzur, sudah tua, sudah tidak punya tenaga hidup seperti kalian yang masih segar..”

“Bukan soal tenaga”, Tarmihim menyambung, “Tapi karena Pakde Paklikmu ini tidak punya pengalaman menulis. Hanya Mbahmu Markesot yang kelihatannya cukup pandai menulis. Tetapi diam-diam, banyak disimpan sendiri, karena mungkin memang tidak punya niat untuk menjadi penulis. Banyak sekali hal-hal yang Mbahmu Markesot melakukan, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya”.