Daur (139)

Bukan Bapak atau Ibu
Tapi Anak Mati

Ta’qid : “Mereka digiring oleh kekuasaan yang berasal dari luar Negeri mereka, untuk mempersempit kemampuan pandang alamiahnya menjadi hanya terbatas pada indra ragawi mereka”

“Langkahmu terbalik, Mon”, Markesot menyerang Saimon lagi, “kamu mengajak ke tempat yang akan menunjukkan kepadamu sesuatu yang sebaliknya”

Saimon merespons, “Silakan kamu ngomong dan menyimpulkan apa saja, asalkan jangan bertanya”

Markesot tertawa. “Sekarang ini kamu yang berada pada posisi untuk bertanya, dan saya tidak melarangmu untuk bertanya, tapi saya pastikan kamu malu dan gengsi untuk bertanya”

“Sekali lagi, silakan membuka mulut selebar-lebarnya”

“Buah Simalakama tidak lagi menakutkan bagi semua manusia yang berhimpun di arena ini. Mereka malah mencarinya, untuk ditelannya. Lebih tepatnya di-untal. Tapi tak ada kata lain dari bangsa apapun, di dunia manusia maupun Jin, yang bisa menjadi padanan persis dari kata nguntal itu”

Saimon pura-pura tidak mendengarkan.

“Buah Simalakama adalah gambaran dilema sangat mendasar dalam kehidupan manusia: kalau dimakan Bapak mati, kalau tak dimakan Ibu mati….”

“Kalau menjelaskan definisi itu tolong di depan manusia-manusia aktivis pemula atau Jin generasi remaja”, Saimon sinis memotong.

Markesot tertawa gembira, dan meneruskan: “Yang membuat kaum muda manusia berkumpul di arena ini adalah karena sebelumnya mereka mengalami Buah Simalakama yang lebih parah….”

“Terserah”, sahut Saimon.

“Pilihan mereka lebih dari Bapak mati atau Ibu mati. Mereka dibunuh oleh Bapak mereka. Sesulit-sulitnya Buah Simalakama hanya memuat kemungkinan Bapak mati atau Ibu Mati, tapi tidak ada klausul si Anak mati….”

Ternyata akhirnya Saimon tak tahan juga untuk terus membisu. Ia mengejek: “Katanya manusia punya pedoman Berani hidup, tak takut mati. Takut mati jangan hidup. Takut hidup mati saja….”

Markesot tidak peduli.

“Dan”, ia meneruskan, “yang terjadi pada mereka lebih parah lagi: si Anak bukan hanya mati, tapi dibunuh oleh Bapaknya….”

“Jadi yang berkumpul di arena ini adalah hantu-hantu?”

“Kok hantu?”

“Kata kamu tadi dibunuh oleh Bapaknya”

“Aduh bodohnya kamu, Mon. yang dibunuh itu asas sejarahnya. Kepribadiannya. Haknya untuk berkehendak akan pergi ke mana, menempuh apa, menjadi apa, tujuannya ke arah mana, dan seterusnya. Aduh kok kamu agak rabun sekarang. Apa benar kamu melihat cahaya bertaburan dan menari-nari di arena ini. Jangan-jangan karena kamu terlalu sering dolan main-main ke dunia manusia, lantas kamu ketularan buta seperti kebanyakan manusia….”

Memang, para penduduk di sekitar arena ini, bahkan penduduk seluruh Negeri di mana arena itu berada, kebanyakan tidak melihat ada apa-apa di situ. Apalagi cahaya.

Padahal sebenarnya cahaya di arena ini bukan ghoib, bukan maktum atau masrur atau mahfu`. Cahaya itu lebih nyata dibanding segala yang nyata. Lebih terang benderang dibanding segala yang pernah dilihat oleh mata.

Akan tetapi tradisi kehidupan para penduduk Negeri itu sudah hampir enam abad menyia-nyiakan kemampuannya untuk melihat spektrum-spektrum ma’rifatul-hayat. Mereka digiring oleh kekuasaan dari luar Negeri mereka, untuk mempersempit kemampuan pandang alamiahnya menjadi hanya terbatas pada indra ragawi mereka.

“Sot”, tiba-tiba Saimon berkata, “kalau kamu menjelaskan sesuatu, ya jelaskan saja, tidak perlu diawali atau sambil atau dibuntuti dengan ejekan kepada saya”

“Tidak ada bagian manapun dari penjelasan saya yang mengejek kamu”, jawab Markesot, “kamu jangan terlalu psikologis, Mon. Jin kok cengeng. Nanti saya bisa jadi ikut kacau menjelaskan Bapak Mati, Ibu Mati, Anak Mati, Bapak bunuh Anak, bunuh apanya, bunuh bagaimana. Nanti bisa gagal saya menjelaskan Bapak itu siapa atau apa, Ibu itu apa atau siapa, Anak itu terbunuh apanya siapanya….”

“Lho”, Saimon memotong, “Siapa yang minta penjelasan dari kamu? Dan lagi, bukan kamu yang mengarang Nguntal Buah Simalakama, kok kamu yang ribut mau menjelas-jelaskan?”.