Daur (275)

Bodoh Saja Belum

Tahqiq : "…bagaimana mensortir pembelajaran kepada Mbah Markesot. Kalian sekarang punya jarak yang cukup, untuk bisa lebih mengukur dengan jernih. Apa yang perlu diambil dari Mbah kalian, apa yang harus dihindari, apa yang jangan diambil sama sekali… ”

Seger melanjutkan. “Pakde Paklik sendiri yang mengemukakan bahwa sesudah era proyek Musim Semi Timur Tengah relatif beres, berhasil dan selesai, sekarang giliran ada dua target untuk dipecah, dilumpuhkan, dihancurkan. Yakni Islam dan Indonesia…”

“Sebentar, sebentar, Ger dan anak-anak”, Tarmihim memotong, “kita jangan terus-menerus terseret arus. Coba ambil napas panjang dulu dan mundur beberapa langkah”

Semua tertarik dengan omongan Tarmihim kali ini secara agak khusus.

“Pembicaraan kita selama sekian kali pertemuan sesungguhnya menyisakan cukup banyak pokok-pokok tema yang belum sempat kita dalami, karena kita harus memperdalam banyak hal yang muncul belakangan”, Tarmihim melanjutkan, “Sejak awal dulu kita sebenarnya punya hutang untuk menyempurnakan pandangan kita tentang kepemimpinan dalam berbagai konteks dan skala, yang merupakan problem utama dan paling mendasar dari permasalahan Bangsa kita. Kemudian Seger juga sudah menghimpun berpuluh-puluh sisi tematik yang belum bisa kita tuntaskan, karena tampaknya kita perlu memproses semacam kesepakatan untuk mempersamakan akar ilmu dan pohon metodologinya…”

“Benar, Pakde”, Seger menyahut.

“Kemudian datang surat Mbah kalian Markesot, dan itu mengubah juga konstruksi berpikir kita semua, sehingga kita memerlukan waktu ekstra lagi untuk meneguhkan landasan berpikir yang kita pakai. Sesudah itu kita tidak sengaja sampai pada pertanyaan tentang garis silang antara komplikasi seluruh permasalahan Bangsa dan dunia itu dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Mbah Markesot…”

“Itu sangat perlu kita perjelas”, kata Junit, “kita perlu memahami kenapa keputusan-keputusan hidup seperti itu yang diambil oleh Mbah Markesot. Apalagi keputusan hidup itu menyangkut pengorbanan menyeluruh dari kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya bisa diraih oleh Mbah Markesot. Untuk siapa dan apa sesungguhnya Mbah Markesot menjalani hidup ini. Dari situ kami anak-anak muda mungkin bisa sedikit lebih memahami kehidupan Pakde Paklik semua. Sekaligus menambah pertimbangan-pertimbangan untuk kami semua mengambil keputusan akan bertindak apa sekarang dan nanti menjalani masa depan”

Tarmihim sangat senang mendengar kalimat-kalimat Junit. “Pasti yang bisa kita pelajari dari kehidupan Mbah Markesot bukan hanya transaksi-transaksi totalnya dengan Tuhan. Kita pahami juga filosofi hidup yang dipilihnya. Strategi sosial untuk pengabdiannya. Termasuk sekian keanehan dan misteri hidup yang sering kita temukan pada Mbah kalian itu. Yang kami sendiri sudah sampai setua ini belum benar-benar mampu memahaminya”

“Bahkan kita belum menuntaskan kenapa Pakde Sundusin bersikeras menyatakan bahwa Mbah Markesot itu bodoh…”, terdengar suara Jitul, “yang oleh Toling dibantah dengan mengatakan bahwa Mbah Markesot itu sebenarnya sangat pandai, sangat tahu, sangat paham, sangat menyelam, dan sangat terbang….”

“Tidak”, kata Sundusin, “Mbah kalian Markesot itu bodoh dan tidak bisa ditiru. Tidak baik dan sangat berbahaya untuk menjadi suri tauladan. Kalian anak-anak muda harus menghalangi setiap rasa kagum kepada Mbah kalian. Jangan terlanjur seperti Pakde Paklik ini, yang waktu itu belum punya pengalaman bagaimana mensortir pembelajaran kepada Mbah Markesot. Kalian sekarang punya jarak yang cukup, untuk bisa lebih mengukur dengan jernih. Apa yang perlu diambil dari Mbah kalian, apa yang harus dihindari, apa yang jangan diambil sama sekali”

Sundusin kambuh lagi tertawanya.

“Saya bilang Mbah kalian Markesot itu bodoh”, katanya, “sementara Pakde Paklik kalian ini bodoh saja belum”

Seger memprotes. “Pakde jangan terlalu ekstrem dong…”

“Lho ekstrem gimana?”, Ndusin bertanya.

“Apa makna kata bodoh di kalimat Pakde. Kalau Mbah Markesot bodoh, Pakde Paklik bodoh saja belum, lantas posisi kami apa? Kami merapat ke Pakde Paklik ini untuk mempelajari kebodohan? Atau agar menjadi orang bodoh?”

“Ndusin”, Tarmihim menyahut, “anak-anak ini benar. Kamu terlalu ekstrem…”

“Lho apa kalian ke sini berkumpul dengan kami orang-orang tua dengan tujuan untuk menjadi pandai?”, Sundusin menjawab agak keras, “kata-kata p-a-n-d-a-i itu sudah sangat banyak sumbangannya untuk merusak kehidupan manusia”

Junit Toling Jitul Seger tak sengaja menggeser duduknya.