Daur (152)

Bobot Yang Tak Tertanggungkan

Ta’qid : “Beda antara ma’rifat dengan dhulumat adalah yang pertama menghimpun quwwah sampai mendekati sulthan, yang kedua menyerap energi hidup sampai tingkat melumpuhkan hati dan akalmu”

Saimon sendiri sebenarnya lebih tahu dibanding orang-orang di sekitar Markesot sendiri, apalagi masyarakat umum yang kebetulan mengenalnya: seberapa besar dan luas yang dilakukan oleh Markesot bagi masyarakat manusia yang ia diamanati untuk menemani. Besar kecilnya peran-peran itu, sempit dan luasnya, lokal nasional globalnya, ragam masalah yang ia tangani, yang hampir tak mengenal batas-batas ekspertasi.

Teman-teman di sekeliling Markesot sendiri pun, pada generasi yang manapun, tidak lebih tahu tentang pekerjaan-pekerjaan sejarah Markesot dibanding Saimon. Dari yang sifatnya fisik, dunia militer sampai preman, yang intelektual, yang sosial-politik, yang spiritual, yang sepele dan bertele-tele sehari-hari, atau komprehensi dari berbagai bidang garap kehidupan.

Kebanyakan manusia terhenti pandangannya pada lembaga-individu, eksistensi atau ketokohan seseorang, itu pun dihiasi secara cengeng dengan peristilahan dan iconing atau branding yang artifisial dan sering berlebihan: public figure, kiai, ustadz, politisi, cendekiawan, aktivis – serta beratus-ratus macam emblim dan labeling lainnya, yang penuh khayal.

Mereka tidak menikmati pembelajaran untuk peka dan tajam melihat peran kualitatif, dimensi dan aura, strategi dan kepawangan, atau bahasa jelasnya: mereka terpukau pada pertunjukan-pertunjukan di panggung, padahal pemeran utama selalu berada di belakang panggung. Apalagi manusia modern terlalu besar kepala dalam penggunaan kata-kata besar, istilah yang muluk atau gelar yang dipaksa-paksakan.

Orang pakai baju klimis dan agak mahal disebut maju. Orang punya gelar dari Sekolah disebut sukses. Orang rajin beribadah disebut alim saleh. Orang tidak mencuri disebut pahlawan. Orang memperbaiki genting disebut pemberani. Orang menanak nasi pembangunan disebut bapak bangsa. Orang menyebut sejumlah kalimat tiruan disebut negarawan. Orang hapal kalimat firman disebut penghuni sorga. Orang ngimami shalat dluhur disebut tokoh Islam dunia. Juga ratusan bahkan ribuan lain ekspresi dan simbolisme absurditas peradaban idiot lainnya.

Saimon sering mendatangi Markesot karena tidak tega hati menyaksikan sangat banyak kemustahilan dalam tugas-tugas hidupnya. Ia merasakan pasti Markesot sangat merasakan kelelahan.

Di mata Saimon, Markesot tidak berhenti menemukan bahwa terlalu banyak masalah manusia di sekitarnya, dalam lingkaran kecil maupun besar, lokal maupun global, yang sudah pasti tidak bisa diselesaikan. Jumlah penyakit sangat tidak mungkin diimbangi oleh jumlah obat. Kadar racun yang merambah bumi sangat tidak mungkin diimbangi oleh kesiapan penawarnya.

Maka Saimon sangat paham kalau melihat Markesot sering diam-diam menghilang. Sebagai sahabatnya ia menyempatkan diri berkunjung sewaktu-waktu.

Tapi ternyata dunia yang ia lari darinya, komplikasi permasalahan yang ia bersembunyi darinya, nyatanya tetap mengepungnya di gerumbul hutan bukit itu. Markesot yang sering menyingkir masuk gua-gua úzlah, singgah di pelosok yang sepi – ternyata tetap saja terus dikerumuni oleh kegaduhan dunia.

Andaikan Saimon itu manusia, ia merasa pasti juga akan lebih putus asa dibanding Markesot. Melihat-lihat deretan dan komplikasi permasalahan manusia saja sudah lelah bukan main. Apalagi mendaftari urut-urutan permasalahan itu. Jangankan lagi menganalisisnya. Terlebih lagi merenungkan dan mencari apa saja solusi-solusi yang bisa diterapkannya.

Markesot pernah berbisik kepada Saimon: “Beda antara ma’rifat dengan dhulumat adalah yang pertama menghimpun quwwah sampai mendekati sulthan, sedangkan yang kedua menyerap energi hidup sampai tingkat melumpuhkan hati dan akal”

Saimon pernah mencoba melakukan semacam eliminasi psikologis dengan mengemukakan kepada Markesot bahwa memang sewajarnya demikian kehidupan manusia. Kalau tidak demikian, maka itu bukan kehidupan manusia. Sangat jelas wacana mendasar di asal-usul sejarahnya: Malaikat menawar kepada Tuhan, untuk apa menciptakan manusia, yang toh pekerjaannya adalah merusak bumi dan menumpahkan darah.

Tuhan bilang para Malaikat tidak tahu, hanya Ia yang tahu. Dan kita semua lebih tidak tahu lagi. Bukan hanya tidak tahu apa yang Tuhan tahu, tapi tidak tahu apa yang tidak kita ketahui.

Jangan-jangan justru karena itu Allah sangat mencintai manusia. Dan, diam-diam, Saimon sebenarnya juga merasakan takjub pada kebandelan Markesot. “Si manusia satu ini terus terang tidak tampak lelah. Ia baik-baik saja. Ia tidak pernah berhenti. Pantang mundur. Dan sama sekali tak bisa diingatkan: terus saja ia memanggul beban yang besar dan berat, dengan bobot yang seharusnya tak tertanggungkan….”.