Boarding Pass Ganda Buat Kiai Muzammil

Tetapi Kiai Muzammil tetaplah seorang Kiai. Walaupun dalam perjalanan ini Ia tidak mengenakan peci dan sarung, melainkan celana panjang.

Secanggih-canggihnya sistem pertiketan di era online, bisa juga terjadi tiket ganda. Dua lembar tiket boarding pass bernomor kursi sama. Itulah yang terjadi dengan Kiai Muzammil. Naik ke dalam pesawat kemudian antri dalam jejalan penumpang yang mencari tempat duduknya dan menaruh barang-barangnya di kabin, dan saat tiba di nomor kursinya ternyata kursi yang dituju sudah ditempati orang. Dicek pramugari, kedua tiket sama benarnya. Tap tak perlu jadi masalah karena masih ada kursi kosong. Pramugari meminta Kiai Muzammil duduk di situ. Kursi yang ternyata jejer dengan Cak Nun dan Mas Jamal.

Pak Muzammil tak perlu mengeluarkan jurus-jurus Madura-nya, toh kursi sudah tersedia untuknya, dipilihkan langsung oleh para Malaikat. Mungkin ini layak dipertanyakan kok bisa boarding pass dua orang sama persis nomornya untuk penerbangan yang sama. Ataukah ketika nama Pak Muzammil diinput ke dalam sistem tidak dikenali sebagai makhluk dunia nan kasat mata, sehingga bisa diasumsikan mampu duduk di tempat yang sudah ada orangnya tanpa orang itu merasa ditindih olehnya. Mungkin saja. Beliau sepertinya berbakat untuk itu.

Rihlah Air
Rihlah Air. Foto: Adin.

Tetapi Kiai Muzammil tetaplah seorang Kiai. Walaupun dalam perjalanan ini Ia tidak mengenakan peci dan sarung, melainkan celana panjang. Rambutnya yang biasanya tertutup peci hitam menjadi terlihat dan agak terburai. Sesampai di Bandara yang ditanyakan adalah Mushalla. Ia ingin segera shalat. Mengenakan celana panjang pun rupanya Ia tak betah-betah amat. “Praktisan pake sarung,” katanya dalam logat Madura. Itulah kegelisahan khas kultural NU-nya. “Masalah hanya terjadi kalau pakai sarung tapi tidak pake celana dalam,” imbuhnya.

Ia juga orang yang lugu. Mungkin seharian agendanya padat, sehingga energinya terserap banyak. Di boarding room, boleh jadi ia merasa butuh sedikit asupan sebelum menempuh perjalanan penerbangan. Menoleh ke kanan-kiri, tidak jelas apa dicarinya, lalu Ia berbisik ke salah satu rombongan yang lumayan akrab dengannya, “Gimana ini, nggak ada permen-permen atau apa gitu?” Sang Kiai mencari permen!

Kembali ke soal nomor kursi ganda tadi. Usut punya usut, kemungkinan error-nya bukan pada pemesanan tiket, melainkan pada saat check-in. Karena sejak semula, Ia diset untuk duduk bersama Cak Nun. Boarding pass-nya keliru ditulis sama petugas check-in menjadi 17C, atau entah gimana alur kelirunya, padahal semestinya di boarding pass-nya itu tertera angka 21D.

Apa mungkin petugas check-in nya pas membaca nama Kiai Muzammil langsung ingat Maiyahan Mocopat Syafaat setiap tanggal 17 di TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul sehingga jari-jarinya menerjemahkan lintasan itu ke keyboard? Ataukah ada pengalaman-pengalaman yang mengepung dia yang berulang-ulang yang klu-nya adalah angka 17?

Adapun huruf C pada angka 17 itu, adakah huruf itu menunjuk pada kata Cinta, atau lebih spesifik lagi: Cammana, Cammanallah, Cinta, Cammanallah….