Daur (172)

BLAKRA`AN

Ta’qid : “...mampu melakukan apa saja dengan bagus, anak-anak mudanya selalu Juara Dunia dalam lomba ilmu pengetahuan dan kesenian. Dan kelengkapan bakat itulah yang kelak menjadi sumber kehancuran mereka...”

“Bukan hanya itu, Paduka”, Markesot meneruskan, “Masih ada lebih dari seratus nama lagi. Kalau disebut hanya satu orang tapi punya banyak nama, tidak tepat juga. Sebab yang tampaknya hanya satu itu ternyata banyak juga…”

“Untung saya tidak ditugasi menjadi Khalifah di Negerimu itu”, kata Paduka Harun, “kasihan nanti pegawai-pegawai saya, susah mengatur kartu identitasnya. Database nasional kami bisa kacau balau”

“Belum lagi satu orang yang saya ceritakan tadi bisa hidup di beberapa era secara bergantian atau sekaligus”

“Lebih kacau lagi kalau begitu”

“Terkadang jelas nasab Hanoman itu di zaman yang disebut Ramayana, tapi kemudian muncul lagi di zaman Mahabharata, yang antara keduanya tidak berkaitan sama sekali”

“Hanya kesamaan nama mungkin”, Paduka menyela.

“Tidak, Paduka. Orangnya sama, yang itu juga. Wataknya, akhlaqnya, orientasi sosialnya, daya juangnya, keberpihakan politiknya, jenis kesaktiannya, dan semuanya, sama”

“Mungkin Negerimu itu terletak di planet lain, bukan di Bumi”

“Di Bumi, Paduka. Ada monyet juga. Sebagaimana sebagian ummat Nabi Musa yang dikutuk menjadi kera. Ya benar-benar kera, atau monyet. Bahkan Hanoman yang punya lebih dari seratus nama itu juga lebih dikenal sebagai kera, meskipun dengan kecerdasan dan kemuliaan manusia”

“Berarti Negerimu itu Negeri Khayal”

“Tidak, Paduka. Bukan khayal”, Markesot membantah.

“Kalau ada kera punya kecerdasan dan kemuliaan, lantas manusia itu makhluk yang bagaimana”

“Maaf Paduka, manusia mungkin cerdas dan mulia, tapi mungkin juga idiot dan hina. Sementara kera malah tidak ada yang idiot atau terlibat dalam kehinaan, padahal dia memiliki kecerdasan jenisnya sendiri, serta hidup dalam kemuliaan sunnah-Nya Tuhan”

Paduka bertahan, “Tetap saja itu khayal, karena tidak ada kera berperan sebagai manusia, kecuali Hanomanmu itu”

Markesot mencoba menjelaskan: “Di Negeri itu ada juga tokoh yang disebut Nabi Muhammad. Sangat popular. Sangat dicintai. Namanya disebut-sebut jutaan kali tiap hari melebihi nama siapapun kecuali Tuhan. Beliau sangat eksis. Disapa tiap hari. Dimohon-mohon syafaatnya tiap saat. Disebut di setiap pidato dan pengajian. Bahkan setiap beribadah tidak mungkin tidak menyebut nama beliau. Bagaimana mungkin beliau dianggap khayalan. Beliau sangat ada. Sangat nyata, Paduka”

Paduka Harun Al-Rasyid menarik napas sangat panjang. Menyandarkan punggung beliau ke belakang, Singgasana beliau bergoyang oleh kegelisahan hati beliau.

Setelah sunyi beberapa saat, Paduka bertanya kepada tamu asingnya itu: “Jadi kenapa kamu blakra`an sampai ke Negeri saya?”

Hampir terloncat bunyi tawa keras dari mulut Markesot.

“Maaf, Paduka”, katanya tergagap, “Paduka menggunakan kata yang kelak akan saya dengar di tempat hamba bertugas di seberang laut itu”

“Apa?”

Blakra`an…

Paduka Harun tertawa. “Saya tidak pernah mengucapkan kata itu. Telingamu yang mendengar kata-kataku, melaporkannya ke otakmu, kemudian otakmu mengolahnya, lantas memerintahkan kepada mulutnya untuk mengucapkan… apa tadi itu?”

Blakra`an

“Ya. Persis seperti itu…”

“Persis seperti apa, Paduka”

“Ya seperti yang kamu ucapkan tadi”

Markesot tertawa. “Paduka mengalami kesulitan mengucapkan satu kata saja dari Negeri jauh itu. Sementara para penduduk di Negeri itu dengan mudah mengucapkan kalimat-kalimat bahasa yang Paduka gunakan. Bahkan mereka bisa melantunkan dan melagukan  kalimat-kalimat Kitab yang Paduka sebut tadi tak kalah indahnya dengan rakyat Paduka di Negeri ini”

Paduka Harun tersenyum.

“Memang penduduk Negeri yang kamu sebut itu multi-talent, bakatnya lengkap, mampu melakukan apa saja dengan bagus, anak-anak mudanya selalu Juara Dunia dalam lomba ilmu pengetahuan dan kesenian. Dan kelengkapan bakat itulah yang kelak menjadi sumber kehancuran mereka…”

Markesot terkesiap oleh pernyataan terakhir Baginda Harun.