Bisikan Cinta Bunda Cammana

Perjalanan Safinatun Najah Maiyah ke tanah Mandar mempertemukan kembali Cak Nun dan teman-teman jamaah Maiyah dengan Bunda Cammana.

Perempuan itu berdiri di samping mobil yang akan mengantarkan rombongan tamunya pergi meninggalkan tempat itu. Lelaki yang digandengnya sepanjang lorong dari rumahnya menuju jalan di mana mobil itu terparkir  menunggu telah masuk ke dalamnya. Pun orang-orang lain yang menyertainya. Jumlahnya cukup banyak.

Lelaki itu memandang dari dalam sembari berucap mohon pamit untuk melanjutkan agenda lainnya.  Perempuan itu dan para tuan rumah melepas. Wajah perempuan yang sedari tadi memandang ke dalam mobil itu, tak lama kemudian sedikit berpaling. Sekilasan tampak air mukanya berubah. Memalingkan muka ke samping kanan dengan sorot mata kosong. Seperti ada yang ditahan didalam dadanya. Ia tak ingin lelaki dan rombongannya itu cepat berlalu. Ia tak ingin cepat berpisah, sesudah perjumpaan yang indah itu.

Perempuan itu adalah Bunda Cammana, dan lelaki itu adalah seseorang yang dihormati dan ditakdzimi: Cak Nun. Waktu itu, perjalanan Safinatun Najah Maiyah ke tanah Mandar mempertemukan kembali Cak Nun dan jamaah Maiyah dengan Bunda Cammana. Ke rumahnya di Tinambung, rombongan berhajat untuk sowan. Itu terjadi pada 2011. Ketika rombongan tiba, dan turun di jalan, serombongan anak-anak kecil dengan mengenakan baju khas tarian Mandar dikawal seorang bapak tua menyambut kedatangan Cak Nun. Mereka menari, dan membunyikan alat musik kecil semacam rebana.

Bunda Cammana pun turut menyambut langsung. Segera sesudah sosok Kiai dari tanah Jawa ini menginjakkan kaki di tanah Tinambung Mandar Sulawesi Barat itu, Ia menyongsong dan selanjutnya4 melangkah bersama menuju rumahnya. Sepanjang jalan, ekspresi wajahnya sangat bahagia, gembira, dan suka cita karena kedatangan rombongan Safinatun Najah. Ia gandeng tangan Cak Nun, seakan melepas kerinduan yang sangat lama terpendam. Dua sosok yang sama-sama dipertautkan oleh kecintaan mendalam kepada Rasulullah Saw.

Bunda Cammana
Bunda Cammana

Di rumah tempat rombongan diterima, anak-anak kecil yang menari tadi langsung bergabung dengan remaja-remaja putri asuhan Bunda Cammana. Remaja-remaja putri berkerudung itu sudah duduk rapi, dan di tangannya terpegang rebana berukuran agak besar. Sesudah beberapa tari penyambutan, Bunda Cammana duduk di antara anak-anaknya itu. Tak ada kalimat-kalimat pembuka. Yang ada adalah Bunda Cammana langsung bershalawat, bersenandung, menyuarakan cinta dan rindu kepada Allah dan Rasulullah. Tak ada kalimat luhur dan indah yang mampu menggantikan puja-puji kepada Rasulullah untuk menyambut seseorang yang juga amat mencintai Rasul mulia yang memilih menjadi abdan nabiyya ketimbang mulkan nabiyya. Kemanapun lelaki itu pergi selama bertahun-tahun, cinta itu juga yang Ia pancarkan. Pun Bunda Cammana sendiri, berkeliling di kampung-kampung, melintasi sungai-sungai, untuk membimbing masyarakatnya berbekal cinta kepada Kanjeng Nabi.

Sesekali ia menyeka air matanya, yang meleleh di sudut kelopak matanya. Wajah keibuannya sangat kentara, kendatipun sedikit kerut mulai merona. Tetapi garis-garis tegas juga menyirat di roman mukanya, menandakan bahwa Ia adalah sosok tegas, dan tak pernah bosan berjuang. Tak tampak menurunnya semangat dalam melaksanakan apa yang terbaik dilakukan untuk tetangganya dan masyarakatnya. Dan suaranya sungguh sangat kuat dan tak ada kendur sedikit pun. Rasa yang muncul dari suaranya adalah kombinasi ketulusan, cinta, dan anugerah Allah kepadanya sebagai manusia Mandar. Hal yang menjadikan suaranya unik, khas, dan bertenaga.

Selama hampir dua jam, rombongan diajak berasik-masyuk dalam senandung shalawat oleh Bunda Cammana. Ini bukan sambutan. Ini adalah menu utama. Jamuan cinta ala Bunda Cammana. Dan memang sesungguhnya itulah yang diharapkan dan dituju oleh para penumpang perahu kesuksesan Safinatun Najah. Siapa bisa mengelak untuk tidak meneteskan air mata, ketika getaran magis cinta Rasulullah yang diantarkan Bunda merambat dan menjalari tubuh orang-orang yang ada dan mendengarkan di situ, dan bareng-bareng semuanya mengikutinya. Rombongan Jamaah Maiyah yang latar belakangnya ragam: orang jalanan, orang pasar, orang sekolahan dan terpelajar, orang kota, penempuh usaha, pedagang kecil, serabutan, dan lain-lain; seperti mendapatkan siraman yang aneh. Sangat banyak di antara mereka tak kuasa meneteskan air mata. Mas Totok Yudiatnanto, salah seorang aktivis Maiyah yang sudah lama tinggal di Australia dan mengenyam pendidikan modern  serta sudah bertahun-tahun tidak menangis dan pantang untuk menangis, siang itu untuk kali pertamanya menangis. Pertahanan “rasional”nya jebol di depan Bunda Cammana.

Jebol yang lainnya dialami oleh almarhum Pak Ndut. Ia jamaah Maiyah yang berjenis kukuh dan kokoh dalam berpendirian. Sehari-hari bekerja berjualan souvenir KiaiKanjeng dan Maiyah. Setiap kali Maiyahan di Jawa Timur selalu dijumpa stand Pojok Ilmu kepunyaannya. Ia tahu bahwa mengucapkan salam itu tidak main-main. Salam adalah janji setia untuk mengamankan orang yang diberi salam. Ia tak selalu yakin bisa menjalankan dan mewujudkan prinsip itu. Maka, daripada menanggung dosa karena mengucap tapi tang sanggup menjalankan, selama bertahun-tahun ia tak mau uluk salam. Ketemu siapapun.

Baru kali itu di rumah Bunda Cammana, dalam bincang-bincang sesudah “pesta cinta”, ia mengucapkan uluk salam. Saat itu, Cak Nun mempersilakan teman-teman jamaah untuk menyampaikan ungkapan-ungkapan kepada Bunda Cammana. Dan di depan Bunda Cammana, entah bagaimana, Pak Ndut mungkin merasa sudah saatnya untuk berani uluk salam dan tidak pantas jika tidak melakukannya, apalagi di depan Bunda Cammana. Akhirnya saat ia mulai bicara, ia mengawalinya dengan assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Lantang suaranya di depan perempuan yang telah menarik air matanya dari kedalaman batinnya itu.

Dalam suasana ramah, Bunda Cammana diminta Cak Nun untuk menularkan beberapa lagu shalawat atau pepujian atau doa yang otentik dari beliau. Almarhum Mas Zainul Arifin dan Mas Imam Fatawi saat itu yang diwuruki-nya. Kali ini Bunda Cammana berpindah dan duduk di sebelah Cak Nun. Sembari tenggorokan dan rahangnya mengeluarkan suara yang disimak dan diikuti Mas Zainul dan Mas Imam, wajah beliau tak henti-hentinya menampakkan kebahagiaan ruhaniah dan rasa syukur atas kedatangan Cak Nun dan Jamaah Maiyah.

Bunda Cammana tak punya bahasa atau kalimat-kalimat. Tidak banyak omong-omong setiap kali bertemu Cak Nun. Yang ia punya adalah cinta dan shalawat kepada Kanjeng Nabi. Shalawat-shalawat itu yang ia keluarkan dari hatinya manakala berjumpa Cak Nun. Setiap pertemuan adalah cinta dan rindu kepada Baginda Muhammad Saw. Hari ini, Minggu 1 Mei 2016, kembali Cak Nun akan datang, sowan, silaturahmi, dan ingin diseret lebih dalam ke dalam perahu atau lepa-lepa cintanya kepada Kanjeng Nabi, yang menjadi tempat rasa bersalah, pekewuh, rasa belum apa-apa, rasa berhutang budi, dan rasa yang membuat tak pantas untuk mengeluh apapun apalagi soal remeh keduniaan, sedang Nabi di akhir hayatnya hanya umatnya yang disebut-sebut hingga tiga kali, lainnya tidak.

Bunda Cammana adalah satu bentuk cinta, di antara kekayaan-kekayaan cinta. Orang-orang modern  yang diam-diam atau terang-terangan digiring secara sistematis dan kultural oleh gempuran besar yang salah satu goal-nya adalah menumpulkan rasa cinta di hati mereka, atau pengetahuan cintanya didangkalkan dan disempitkan, dan pada akhirnya mati rasa, hendaknya membentengi diri, menjaga utuhnya kemanusiaan dirinya, dengan kepada Bunda Cammana akan wujud-wujud cinta yang esensial-esensial.

Salah satu shalawat yang dulu pernah dilantunkan Bunda Cammana adalah Shallalahu robbuna ‘alan nuuril mubiin ahmadal musthofa sayyidil mursalin…. Pak  Nevi tak tahan untuk tidak mengaransemennya dengan bilhan-bilahan besi-besi gamelan KiaiKanjeng serta alat-alat musik lainnya. Lirik pun Cak Nun tuliskan. Dan Beliau senandungkan:

Terdengarlah bisikan malaikat di langit
Telah dikuakkan rahasia firman cinta Tuhannya
Waktu pun terhenti, ruang tinggal sunyi
Semua hamba terpana sujud dan berdoa

Bisikan cinta Bunda Cammana sudah lama berdengung. Siang ini rombongan Rihlah Cammanallah datang memenuhi panggilan bisikan suci itu. Tiga hari sebelum hari yang dinanti tiba, sang pemilik bisikan itu hari-harinya diwarnai tangis gembira menyambut akan datangnya Cak Nun dan KiaiKanjeng ya g tak lain adalah orang-orang yang amat dicintai dan dibanggakannya. Waktu pun terhenti, ruang tinggal sunyi….